TEGUHLAH DI JALAN ALLAH

tauhid Comment( 0)

Kepada ikhwan tauhid di mana saja berada, semoga Allah ta’ala memberikan kekuatan dan istiqamah…


Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada penghulu kaum muwahhidin Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya dan para sahabat semuanya…


Ketahuilah bahwa ajal itu sudah ditentukan yang tidak mungkin dimajukan atau diundur, dan siapa pun tidak bisa merubah ketentuan itu. Allah ta’ala berfirman:


وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَابًا مُّؤَجَّلاً


“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang sudah ditentukan waktunya.” [Ali Imran : 145]


Rizqi dan apa yang menimpa kita juga sudah ditentukan lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi sebagaimana di dalam hadits yang shahih, dan bahkan ketentuan itu dicatat pula oleh malaikat di saat masing-masing kita masih berupa janin berumur 4 bulan di rahim ibu, sebagaimana sabdanya:


إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَك فَيَنْفُخُ فِيْهِ الْرُّوْحَ ويُؤْمَرُ بِأَرْبَعٍ كَلِمَاتٍ بِِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ


“Sesungguhnya seseorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya empat puluh hari berupa nuthfah kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian dikirimkan malaikat kepadanya terus dia meniupkan ruh di dalamnya, dan ia diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizqinya, ajalnya, amalnya dan nasibapa dia binasa atau bahagia.” [HR Al Bukhari dan Muslim]


Oleh sebab itu tidak akan mati satu jiwapun kecuali setelah memenuhi ajal dan rizqi yang sudah ditentukan baginya, sebagaimana sabdanya:


لن تموت نفس حتى تستكمل رزقها وأجلها


“Tidak akan mati satu jiwapun sampai ia menyempurnakan rizqinya dan ajalnya.” [Hadits tsabit riwayat Al Hakim dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah]


Dan begitu juga manfaat yang kita dapatkan dan madlarat atau bahaya yang menimpa kita, itu semua sudah ditentukan dan dicatat Allah di dalam Al Lauh Al Mahfudh, sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala:


مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا


“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Al Lauh Al Mahfudh) sebelum kami mewujudkannya.” [Al Hadid : 22]


Oleh sebab itu tidak seorangpun bisa mendatangkan manfaat kepada kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kita, dan begitu juga sebaliknya tidak ada seorangpun bisa menimpakan madlarat atau bahaya terhadap diri kita kecuali apa yang telah Allah taqdirkan menimpa kita, sebagaimana sabdanya:


وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ


“Dan ketahuilah bahwa seandainya umat bersepakat untuk mendatangkan sesuatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak bisa mendatangkan sesuatu manfaat kepadamu kecuali suatu manfaat yang sudah Allah ta’ala tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka bersepakat untuk mendatangkan sesuatu madlarat kepadamu, maka mereka tidak bisa menimpakan sesuatu madlaratpun kepadamu kecuali suatu madlarat yang sudah Allah taqdirkan menimpamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” [Hadits Hasan shahih riwayat At Tirmidzi]


Ini adalah ketentuan taqdir yang kita imani dan kita yakini agar kita tidak putus asa atau bersedih hati atas bencana atau musibah yang menimpa kita dan supaya kita tidak angkuh dan bangga diri dengan kebaikan yang kita raih, karena itu semua adalah dari Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya ta’ala:


لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ


“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Al Hadid : 23]


Kalau hal ini sudah kita pahami, maka ketahuilah wahai ikhwani bahwa Allah ta’ala sudah memerintahkan manusia untuk bertauhid hanya kepada Allah ta’ala dan kufur kepada thaghut:


اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ


“Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut itu.” [An Nahl : 36]


juga memerintahkan untuk mendakwahkannya:


ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ


“Ajaklah (mereka) kepada jalan Rab-mu dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.” [An Nahl : 125]


Dan memerintahkan untuk memperjuangkannya dengan segenap kemampuan, baik harta, jiwa maupun lisan, sebagaimana sabdanya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:


جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ


“Jihadilah orang-orang musyrik itu dengan harta kalian, jiwa kalian dan lisan kalian.” [HR Ahmad dan An Nasai dan dishahihkan oleh Al Hakim]


Dan Allah ta’ala mengabarkan kepada kita dakwah tauhid ini akan selalu memiliki musuh, sebagaimana firman-Nya ta’ala:


وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِن


“Dan demikianlah, Kami telah menjadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan syaitan-syaitan jin.” [Al An’am : 112]


sebagaimana yang dikatakan Waraqah Ibnu Naufal kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di awal Islam:


لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا أُوذِيَ


“Tidak seorangpun datang dengan seperti apa yang kamu bawa melainkan pasti disakiti dan dimusuhi.” [HR Al Bukhari]


juga firman-Nya:


وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَى مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللّهِ


“Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkaupun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah.” [Al An’am : 34]


Oleh sebab itu setiap orang yang bertauhid akan mendapatkan ujian di dalam keimanannya, sebagaimana firman-Nya:


الم، أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ


“Alif. Laam. Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji. Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al ‘Ankabut : 1-3]


Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam saat ditanya siapa orang yang paling berat ujiannya maka beliau menjawab:


الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُوْن ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينُهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خفف عنه


“Para nabi, kemudian orang-orang yang saleh, terus yang berikutnya dan yang berikutnya, seseorang diuji sesuai kadar diennya, bila dia kokoh di dalam diennya maka ujiannya di tambah dan bila tipis di dalam agamanya maka ujiannya diringankan.” [HR Ahmad]


Sedangkan diantara bentuk ujian dari Allah ta’ala kepada ikhwan tauhid pada hari ini adalah penguasaan para thaghut dan anshar mereka terhadap banyak ikhwan dengan bentuk penahanan, pemenjaraan, penyiksaan dan bentuk lainnya, yang mana ini adalah bagian dari ujian yang telah Allah tetapkan, yang harus dihadapi dengan kesabaran, keteguhan prinsip dan ‘izzah, apalagi bagi ikhwan yang telah memposisikan dirinya sebagai mujahidin dan ansharuddien yang tentunya sebelum melangkah masuk ke dalam jalur ini mereka sudah mengetahui konsekuensi jalan ini, yaitu keterbunuhan, terluka, terusir dan yang paling pahitnya adalah pemenjaraan. Oleh sebab itu tidaklah pantas bagi para amir, komandan dan mas’ul di dalam ‘amal islami, dia menampilkan hal-hal yang manisnya saja di dalam amal jihadi ini, seperti ghanimah, kesyahidan dan kemenangan, tanpa menjelaskan hal-hal pahit yang bisa terjadi di dalam jalan ini dan cara menanggulangi dan mengantisipasinya supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk dari keadaan sebelum melangkah, seperti penyesalan, pembongkaran rahasia kepada thaghut, dan yang lebih buruk lagi adalah terpuruk kepada loyalitas yang membatalkan. Karena orang-orang kafir itu kalau sudah menawan dan menguasai orang muslim apalagi mujahidin, maka mereka benar-benar akan bersikap sebagai musuh yang sudah menguasai musuh-musuhnya yang sangat dibencinya, dimana mereka akan melampiaskan segala kesumatnya baik dengan lisannya ataupun dengannya dan kalau bisa mereka itu sangat ingin andai para tawanan itu meninggalkan prinsipnya dan membelot kepada mereka, sebagaimana firman-Nya ta’ala:


إِن يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاء وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُم بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ


“Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi-mu lalu mereka melepaskan tangan dan lidahnya kepadamu dengan keburukan dan mereka ingin agar kamu (kembali) kafir.” [Al Mumtahanah : 2]


Maka sangatlah aneh kalau ada diantara kita yang bersikap kepada mereka seolah kepada teman, seperti berkelakar, bercanda dan tertawa riang bersama. Padahal yang rukhshah hanyalah sekedar tersenyum yang dipaksakan kepada musuh yang menguasai, sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Sesungguhnya kami tersenyum (yang dipaksakan) di hadapan mereka sedangkan hati kami melaknat mereka.” Dimana mereka itu saat menguasai diri kita, mereka tidak akan mengindahkan tali kekerabatan, atau tali perjanjian atau tali kemanusiaan, dimana harga diri dan kehormatan kita dihinakan, fisik disiksa dan keyakinanpun dilecehkan, juga mereka tidak menaruh belas kasihan kepada balita dan wanita dan bahkan kepada lansia. Inilah cerminan firman Allah ta’ala:


كَيْفَ وَإِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لاَ يَرْقُبُواْ فِيكُمْ إِلاًّ وَلاَ ذِمَّةً


“Bagaimana mungkin (ada perjanjian demikian), padahal jika mereka memperoleh kemenangan atas kalian, mereka tidak mengindahkan hubungan kekerabatan dengan kalian dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian.” [At Taubah : 8]


juga firman-Nya ta’ala:


لاَ يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلاًّ وَلاَ ذِمَّةً وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ


“Mereka tidak mengindahkan hubungan kekerabatan dengan orang mu’min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [At Taubah : 10]


Maka peliharalah kebencian dan rasa permusuhan yang ada dihati kita terhadap mereka, karena itu adalah pokok ketauhidan dan modal masuk surga. Raasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:


أوثق عرى الإمان الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ


“Ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [HR Ahmad]


Hindarilah pemberian mereka yang diluar batas kewajaran, seperti hadiah, tunjangan buat keluarga atau santunan modal, karena hal itu bisa menimbulkan rasa simpati dan kedekatan hati kita kepada mereka yang secara pasti bisa melenyapkan rasa kebencian dan rasa permusuhan, sebab pemberian hadiah itu adalah mematikan permusuhan dan menghidupkan kecintaan, sebagaimana sabdanya:


تهادوا تحابوا


“Salinglah kalian memberikan hadiah, tentu kalian akan saling mencintai.” [Hadits hasan riwayat Al Bukhari di dalam Al Adab Al Mufrid dan Abu Ya’la]


Ketahuilah ikhwan… bahwa bumi ini milik Allah ta’ala dan semua makhluk adalah ciptaan dan hamba Allah ta’ala, baik yang mu’min maupun yang kafir. Allah ta’ala membenci kekafiran dan orangnya dan andaikata Dia mau tentu mudah bagi Dia untuk membinasakan mereka semua, namun Dia ta’ala ingin menguji kita dengan sikap mereka, sebagaimana firman-Nya ta’ala:


وَلَوْ يَشَاء اللَّهُ لَانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِن لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُم بِبَعْض


“dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kalian satu sama lain.” [Muhammad : 4]


Maka bersabarlah terhadap segala kesulitan di dalam mempertahankan tauhid, dan bersabarlah terhadap jauh dan panjangnya jalan tauhid dan jihad ini, dan sabarlah terhadap sedikitnya kawan dan banyaknya lawan. Jangan terpesona dengan keleluasaan orang-orang kafir di dunia ini:


لاَ يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُواْ فِي الْبِلاَدِ، مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ


“Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh keleluasaan orang-orang kafir (bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah neraka jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” [Ali Imran : 196-197]


Karena memang dunia adalah surga buat melampiaskan apa yang mereka inginkan, dan penjara pengekang hawa nafsu bagi orang mu’min, sebagaimana sabdanya:


الدنياسجن المؤمن وجنة الكافر


“Dunia adalah penjara orang mu’min dan surga orang kafir.” [HR Muslim]


Oleh karena dia melampiaskan segala keinginannya di surga dunianya ini, maka kelak dia dipenjarakan segalanya di neraka jahannam, sebagaimana firman-Nya:


وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرً


“Dan Kami jadikan jahannam itu sebagai penjara bagi orang-orang kafir.” [Al Isra : 8]


Dan sebaliknya, karena orang mu’min memenjarakan hawa nafsu dan keinginannya di dunia ini dengan batasan ajaran Allah ta’ala, maka kelak Allah ta’ala masukkan dia ke surga-Nya untuk mencapai segala yang diinginkannya:


الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ، ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ، يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


“(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya.” [Az Zukhruf : 69-71]


Ini Allah ta’ala berikan sebagai balasan atas kesabaran orang mu’min di dunia dalam memegang prinsip Al Haq:


وَجَزَاهُم بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا


“Dan Dia membalas mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutra.” [Al Insan : 12]


Bersabarlah dan berharaplah kepada Allah serta memelaslah kepada-Nya dengan doa, dzikir dan ketaatan. Mintalah kepada-Nya keteguhan dan peneguhan dengan banyak mengucapkan doa:


اللهم يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ ويا مصرف القلوب صرِّ قلبي عَلَى طاعتك وطاعة رسولك


“Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati hamba di atas agama-Mu, dan wahai Dzat Yang Memalingkan hati, palingkanlah hati hamba kepada ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepada Rasul-Mu.”


Ketahuilah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang saleh.


Jangan engkau takut kepada thaghut dan bala tentaranya, karena manfaat dan madlarat hanyalah di Tangan Allah ta’ala. Mereka itu adalah syaitan-syaitan manusia yang menakut-nakuti kita dengan bala tentara dan algojonya, maka bersandarlah kepada Allah ta’ala dan jangan takut kepada mereka:


إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ


“Sesungguhnya mereka hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kalian) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang beriman.” [Ali Imran : 175]


Karena mereka tidak bakal bisa mendatangkan bahaya dan madlarat selagi Allah ta’ala tidak menghendakinya walaupun kita tetap teguh dan mempertahankan prinsip di hadapan mereka, sebagaimana mereka tidak bisa mendatangkan manfaat kepada kita walaupun kita memelas kepada mereka dengan penyesalan dan penanggalan prinsip bila Allah tidak menghendakinya, karena ketentuan sudah Allah ta’ala tetapkan namun kita tidak mengetahuinya sedangkan kita tidak diperintahkan untuk mengikuti apa yang tidak kita ketahui, tapi Allah ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang kita ketahui atau yang mungkin kita ketahui yaitu syari’at-Nya. Di mana ilmu itu ada dua, yaitu: ilmu yang tidak diketahui yaitu taqdir, maka ini harus diimani, dan yang lain adalah ilmu yang ada di hadapan kita yaitu syari’atNya, maka ini harus diikuti.


Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:


واعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطئك وما أخطئك لم يكن ليصيبك وأعلم أن النصر مع الصبر وأن الفرج مع الكرب وأن مع العسر يسرا


“Ketahuilah bahwa apa yang (ditaqdirkan) menimpamu tidaklah mungkin meleset darimu, dan bahwa apa yang (ditaqdirkan) meleset darimu tidaklah mungkin menimpamu. Dan ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran dan bahwa kebebasan itu bersama kesulitan serta bahwa bersama kesukaran itu ada kemudahan.” [lanjutan hadits Ibnu ‘Abbas di dalam Al Arba’in An Nawawiyyah]


Bersabarlah….karena kita semua sedang diuji:


شكى إليّ جملي طول الثرى             صبر حميل كلانا مبتلى


Untaku mengeluh kepadaku panjangnya perjalanan


(Kukatakan): Kesabaran yang baik, semua kita dapat ujian


Sekarang adalah saatnya bagi semua untuk muhasabah apa yang telah dilakukan kemarin, apa yang kurang? Apa yang harus dibenahi? Setiap masukan dan kritikan dari berbagai pihak harus di dengar, yang baik kita terima dari manapun walaupun tujuan si pengkritik itu hanya ingin mempermalukan kita di hadapan khalayak, karena masalah buruknya niat adalah urusan dia dengan Allah ta’ala, namun kewajiban kita adalah mengamalkan kebenaran sesuai dengan batas maksimal kemampuan yang kita miliki, sedangkan kesalahan adalah hal yang biasa terjadi pada setiap orang yang berbuat supaya dilakukan perbaikan untuk kedepannya, namun yang tercela adalah orang yang hanya pandai berkomentar dan menyalahkan tanpa mau berbuat atau minimal membantu meringankan beban orang yang mau berbuat dengan menyantuni keluarganya atau hal lainnya..


Semoga Allah ta’ala memberikan kesabaran dan istiqamah kepada semua orang-orang yang bertauhid di mana saja mereka berada ….


وصلى الله على محمد وآله وصحبه أجمعين وآخر دعوانا ان الحمد لله رب العالمين


 


 


26 Sya’ban 1431 H


Abu Sulaiman


http://millahibrahim.wordpress.com/2010/08/27/teguhlah-di-jalan-allah/#more-1350

Read more..


Ketika Ulama Menjadi Thoghut

tauhid Comment( 0)

 



Abdullah Muridusy Syahadah


Kepada Para Aktivis Islam Yang Bergabung Di Dalam Tandzim Tertentu, Dan Kaum Muslimin Secara Keseluruhan


Di Mana Saja Berada


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.


أمَّا بعد؛


Hanya kepada Allah kita memuji, dan hanya kepada-Nya kita bersyukur atas semua nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada kita. Dan kita sadar bahwa semua nikmat yang diberikan kepada kita seyogyanya kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya, dengan taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Intinya adalah kita gunakan kenikmatan ini untuk Menegakkan Kalimah Allah Yang Mulia di atas muka bumi ini. Dan kita faham bahwa hidup dan mati kita harus kita persembahkan untuk Allah Ta’ala.


Sholawat serta salam kita haturkan kepada Rosulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Imam orang-orang bertaqwa dan komandan para mujahidin. Yang telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah. Kita sadar bahwa kita adalah tentara-tentaranya yang siap mengemban risalahnya. Walau waktu kita habis, harta kita terkuras dan nyawa kita hilang dari raga, demi meneruskan perjuangannya. Semoga kita semua mendapatkan syafa’atnya kelak di akhirat.


Ikhfah fillah …..


Dalam risalah yang Ke-5 ini, saya ingin menuliskan sebuah risalah yang berjudul “Ketika Ulama Menjadi Thoghut”. Merupakan sebuah keprihatinan yang mendalam melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Yang mana ulama menjadi komoditi politik, dan ulama dijadikan corong dan kaki tangan panjang dari “Oknum-oknum yang jahat dan mempunyai kekuasaan”. Dan atau justru para ulama itu tanpa mereka sadari menjadikan dirinya sebagai Thoghut yang diibadahi selain Allah. Dijadikan thoghut yang ditaati dan ditunduki segala perintah dan larangannya.


Tulisan ini bukan berarti tidak berdasarkan dalil dan fakta di lapangan. Selalunya risalah-risalah yang saya sampaikan merupakan hasil pembelajaran dari sebuah nash di dalam Al Kitab dan As Sunnah, lalu dikuatkan dengan data-data dan fakta yang secara empiris menggambarkan kebenaran nash-nash tersebut. Maka selalunya saya mulai dengan sebuah kisah dan cerita kejadian. Dengan berpijak dari ayat “فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي اْلأَبْصَارْ” (Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan).


Ikhwah fillah …..


Ada sebuah kisah:


Pada tanggal 18-21 Desember, tahun 1983, diadakan MUSYAWARAH NASIONAL ALIM ULAMA SE-INDONESIA. Yang diadakan di Pondok Pesantren Asem Bagus Situbondo. Pondok tersebut dipimpin oleh KH. As’ad Syamsul Arifin.


Musyawaroh tersebut memutuskan lima poin.  Adapun poin yang ke-empat adalah PENERIMAAN DAN PENGAMALAN PANCASILA ADALAH MERUPAKAN PERWUJUDAN DARI UPAYA UMMAT ISLAM INDONESIA DALAM MELAKSANAKAN SYARI’AT AGAMANYA”.[1]


Na’udzubillah min Dzalik….. Bagaimana para ulama itu bisa membuat Deklarasi seperti itu?


Kisah yang lain:


Ketika pemerintah murtad ini hendak merayakan pesta demokrasi. Tepatnya pada tanggal 9 April 2009 M. pemerintah melihat gelombang GOLPUT (Golongan Putih / Tidak menggunakan hak suaranya pada pemilu). Bahkan hampir 40 % suara GOLPUT itu terjadi pada tiap pemilu. Baik pemilu tingkat Daerah maupun tingkat Nasional.


Melihat gelombang GOLPUT yang semakin membesar ini, maka Pemerintah murtad ini memutar otak dengan cara memanfaatkan para “Ulama” yang notabene dipandang “Moderat”, untuk berbicara di depan umum, bahkan Live di stasiun Televisi yang menerangkan tentang “Bolehnya Pemilu”, bahkan mereka memfatwakan bahwa “GOLPUT HARAM”. Dengan menyitir beberapa ayat yang diperkosa dan dinodai kesuciannya, serta diselewengkan makna sebenarnya. Maka di sebuah Negara “Murtad” yang notabene mayoritas penduduknya muslim, pasti disana dibuat satu badan yang namanya “M.U.T” (Majlis Ulama Thoghut). Mereka adalah kumpulan para ulama sulthon (penguasa), yang berfatwa sesuai pesanan tuannya. Maka para ulama yang seperti ini disifati oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai “لِصٌّ” (Pencuri alias Maaaaaling).


Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


وَأَنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ


“Dan ulama itu adalah pewaris para nabi” (HR. al-Bukhori)


Dalam riwayat lain beliau bersabda:


إِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُخَالِطُ السُّلْطَانَ مُخَالَطَةً كَثِيْرَةً فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ (للديلمي في مسند الفردوس – عن أبي هريرة)


“Jika kamu melihat seorang ‘alim (mufrod dari ‘ulama) sering bergaul dengan penguasa, maka ketahuilah bahwa dia pencuri (maling).” (HR. ad-Daylami dalam Musnad al-Firdaus – dari Abu Huroyroh)


Kisah lain:


Seorang ikhwah aktivis bertanya kepada ustadznya dan atau mas’ulnya: “Ustadz, ana kedatangan ikhwah mujahid yang hendak singgah di rumah ana. Bolehkah ana menerimanya dan menginapkannya di rumah ana? Ustadz tersebut menjawab: Jangan! Nanti kamu terkena embetannya”. Na’udzu billahi min dzalik


Akhirnya ikhwah aktivis ini tidak menyediakan tempat buat ikhwah mujahid dengan alasan “Larangan dari ustadznya”.


Ikhwah haroky tersebut tidak jadi menyediakan tempat buat ikhwah mujahid lantaran larangan dari ustadznya. Padahal Allah memerintahkan kepada kita untuk menyediakan tempat bagi mujahid fie sabililah. Sebagaimana firman Allah:


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang Telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Anfal: 72).


Dan masih banyak kisah-kisah yang menjelaskan seperti fakta di atas.


Ikhwaf fillah …..


Mari kita kaji firman Allah Ta’ala:


“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An Nahl: 36).


Apasih makna Thoghut Itu?


Pengertian Thoghut sangat banyak sekali. Adapun inti dari pengertian yang dijabarkan oleh para salaf dan ulama’ adalah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam An Nawawi: Berkata Al Laits, Abu ‘Ubaidah, Al Kasa’I dan jumhur ahli bahasa: “Thoghut adalah Segala yang diibadahi selain Allah Ta’ala”. [2]


Jadi THOGHUT adalah setiap yang ditaati dan ditunduki selain Allah Ta’ala. Maka Setiap orang yang ditaati di dalam perintah dan larangannya, sementara perintah dan larangannya tersebut bertentangan dengan perintah dan larangan Allah Ta’ala. Maka orang yang seperti itu disebut Thoghut. Dan orang yang mengikuti Thoghut dan mengikuti fatwanya maka dia menjadi Penyembah Thoghut thoghut tersebut.


Adapun Pentolan Thoghut disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahullah itu ada lima. Dan diantara lima itu adalah disebut Ulama dan atau  Pemimpin.[3]


Allah Ta’ala berfirman:


“Mereka menjadikan AHBAR (orang-orang alimnya) dan RUHBAN (rahib-rahib) mereka sebagai Rob selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At Taubah: 31).


Dalam atsar yang hasan dari ‘Adiy Ibnu Hatim (dia asalnya Nashrani kemudian masuk Islam) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat itu di hadapan ‘Adiy Ibnu Hatim, maka dia berkata: “Wahai Rasulullah, kami dahulu tidak pernah ibadah dan sujud kepada mereka (ahli ilmu dan para rahib)” maka Rasulullah berkata, “Bukankah mereka itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan kalian ikut-ikutan menghalalkannya? Bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan lalu kalian ikut-ikutan mengharamkannya?” lalu ‘Adiy Ibnu Hatim berkata, “Ya, betul” lalu Rasulullah berkata lagi, “Itulah bentuk peribadatan orang-orang Nashrani kepada mereka itu” (HR. At Tirmidzi)


Adapun tafsir ayat ““Mereka menjadikan AHBAR (orang-orang alimnya) dan RUHBAN (rahib-rahib) mereka sebagai Rob selain Allah”. adalah sesungguhnya mereka mengikuti orang-orang Alim dan Pendeta-Pendeta dalam masalah penghalalan dan pengharaman”.[4]


Maksudnya adalah mereka menjadikan para ulamanya, ustadznya, kyainya dan Qo’idnya (Pemimpin) sebagai orang yang paling berhak membuat fatwa dan instruksi yang 100 % mutlak diikuti dan ditaati, tanpa melihat apakah instruksi dan fatwanya tersebut benar ataukah salah.


Ikhwah fillah …..


Kadang kita tidak sadar, bahwa terkadang kita menjadi korban “fatwa dan instruksi” dari para ustadz, dan atau qoidnya “Yang tidak Jujur”. Karena kita selaku anggota bawahan, yang selalu mengedepankan perasaan “Tsiqqoh kepada atasan” sehingga kita telan mentah-mentah semua fatwa, instruksi dan kabar dari atasan, tanpa melihat kebenaran fatwa, instruksi dan kabar yang disampaikan.


Banyak kasus terjadi di lapangan, seorang ustadz mengatakan bahwa “Si A adalah anak buah Thoghut, Si B bukan anak buah Thoghut”. Padahal sama-sama si A dan si B pernah mendatangi undangan perkumpulan yang diadakan oleh Thoghut. Sehingga perkataan ustadz ini dipercaya dan diikuti oleh anak buahnya. lalu terjadi di lapangan sebuah fenomena “para anak buah ustadz ini memusuhi dan mencerca “Si A yang dibilang oleh atasan itu sebagai anak buah Thoghut. Padahal data dan fakta serta bukti tidak bisa dikeluarkan oleh atasan dan atau ustadz tersebut yang memvonis bahwa si A adalah anak buah Thoghut.


Maka dalam satu kondisi ustadz dan atau atasan yang seperti ini bisa menjadi Thoghut, dan dalam kondisi yang lain a’dho’ (anak buah/bawahan) bisa menjadi penyembah Thoghut.


Ikhwah fillah …..


Memang terkadang kejujuran dan ketsiqohan kita kepada seorang ustadz dan atau Qo’id menjadi bumerang buat kita, dan bisa menjadi senjata makan tuan yang mencelakakan kita kelak, jika pemimpin tersebut tidak jujur dan dusta.


Biasanya kedustaan pemimpin ini keluar manakala dia mencari simpati dan kepercayaan para pengikutnya, dengan cara dia membuat cerita bohong, dan fitnah-fitnah keji. Walau pun kadang harus mengorbankan seorang ikhwah yang lain untuk jadi kambing hitamnya. Dan biasanya pemimpin yang seperti ini bertujuan mengekalkan kepemimpinannya dan kekuasaannya, atau untuk mengekalkan Tandzimnya.


Ikhwah fillah …..


Apakah kita sadar, jika para pemimpin yang membohongi kita itu nantinya akan mencelakakan kita di akhirat kelak? Padahal kita mengikuti dia itu berdasarkan asas percaya dan tsiqqoh kepadanya! Jika ketsiqqohan kita kepadanya ternyata dibawa kepada kedustaan dan kejahatan, maka di akhirat pun kita akan celaka dan tidak bisa mendapat udzur dari Allah. Ingatlah firman Allah:


“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”. (QS. Al Baqoroh: 166-167).


Dapatkah para pemimpin yang menyesatkan kita itu akan menyelamatkan kita dari adzab Allah? Ataukah para ustadz dan atau pemimpin itu dapat meringankan sedikit saja dari pedihnya siksa neraka? Tidak ….. Sekali-kali tidak akan dapat menyelamatkan kita dan meringankan dari pedihnya siksa Allah di neraka kelak.


Oleh karena itu wahai ikhwah fillah. Jadikanlah AL HAQ sebagai pijakan dasar kita di dalam berfikir, melangkah dan bersikap. Jangan taqlid buta kepada para ustadz dan Qoid dengan alasan Tsiqqoh kepadanya.


Sayyidina Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu berkata:


اعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِف أَهْلَهُ


“Kenalilah kebenaran (niscaya engkau) akan mengetahui siapa pelaku kebenaran”. (Faydhul Qodir)


Ingat! Ustadz dan Qo’id juga manusia biasa, yang tidak ma’sum dan terlepas dari salah dan lupa. Maka tidak ada yang tertolak perkataannya kecuali pemilik kubur ini (Yakni Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam).


Oleh karena itu wahai ikhwah fillah ….. Berhati-hatilah dalam menerima dan mengambil instruksi serta kabar. Walaupun itu dari orang yang paling anda percaya, walaupun itu berasal dari mas’ul (pemimpin) anda. Cek lah kebenaran ucapan dia dengan nash-nash syar’ie yang ada di dalam Al Kitab dan As Sunnah, cek lah kabar yang disampaikan kepada antum dengan menanyakan data, fakta dan saksi yang kuat. Karena tidak sedikit dari para pemimpin yang tidak jujur. Karena tidak sedikit para pemimpin yang menjadi pecundang.


Sebagai contoh:


Seorang yang dianggap sesepuh kampong bercerita kepada beberapa ikhwah yang dianggapnya tsiqqoh kepadanya. Dia berkata: Si A itu tidak dapat dipercaya. Dia dikasih amanah malah cerita kepada orang lain, lalu orang lain tersebut cerita kepada orang lain lagi”.


Bagi ikhwah-ikhwah yang mendengar, pasti percaya dengan cerita ini, karena yang bercerita adalah Sesepuh kampung disitu. Padahal setelah di kroscek kepada si A, ternyata cerita ini bohong. Bahkan ketika si A menanyakan sendiri kepada si sesepuh kampong tersebut, si sesepuh kampong pun tidak bisa menjawab apa-apa.


Nach, inilah salah satu contohnya. Oleh karena itu, kita harus selalu mengecek dan menanyakan kebenaran data, fakta dan saksi disetiap mendengar kabar. Karena ada kata-kata mutiara arab:


لَيْسَ الْخَبَرُ كَالمْعُاَيَنَةِ


“Tidaklah kabar itu seperti kenyataannya”





Wahai para ustadz dan pemimpin …..


Andalah panutan ummat. Andalah pengawal ummat. Dan andalah yang menjadi barometer ummat di dalam bertindak. Sungguh! Perkataan dan amalanmu menjadi fatwa bagi a’dho’mu. Jujurlah anda kepada Allah. jujurlah anda pada diri anda sendiri, sehingga tidak anda jadikan ummat dan mad’u anda sebagai komoditas kebohongan anda.


Memang kadang berat bagi seorang ustadz untuk mengatakan tidak tahu dalam satu hukum tertentu. Memang kadang berat bagi pemimpin untuk mengatakan tidak tahu terhadap sebuah informasi. Namun perkataan “Tidak Tahu” itulah yang akan menyelamatkan diri anda dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman:


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al Isro’: 16).


Memang kadang kedudukan dapat menjadikan kita buta, memang kadang kedudukan dapat menjadikan kita tuli, dan kadang kedudukan dapat menjadikan kita bisu. Namun, jika kita jujur kepada Allah dan kepada diri kita sendiri, insya Allah mata kita bisa melihat, telinga kita bisa mendengar, dan mulut kita bisa berbicara. Tentunya dapat melihat kebenaran, dapat mendengar kebenaran, dan dapat berucap kebenaran.


Ucapkanlah kebenaran walaupun itu pahit rasanya, ucapkanlah kebenaran walaupun harus berhadapan dengan pintu penjara dan tiang gantungan. Atau jika anda tidak mampu, diamlah. Diam itu lebih baik. Apalagi di zaman yang penuh dengan fitnah ini.


Ikhwah fillah …..


Dalam etika berjama’ah dan bertandzim, memang Qo’id (Pemimpin) akan sangat dihormati dan disegani. Karena selama ini pemimpin selalu identik dengan penyampai AL HAQ, sementara A’dho’ (Anak buah) akan selalu bersikap husnudhon dan Tsiqqoh kepadanya, karena memang a’dho’ selalu terjerat dengan tali “ASSAM’U wa THO’AH”.


Dalam kondisi dihormati dan disegani, kadang menjadikan sang Qo’id lupa diri, bahwa syetan akan selalu memasang TALBIS IBLISnya (Perangkap Syetan). Syetan akan menggodanya dari arah depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawahnya. Hingga Qo’id itu dapat tergoda.


Ikhwah fillah …..


Bagi anda yang berstatus sebagai A’dho’ (Anggota). Sadarkah anda bahwa pemimpin anda itu manusia biasa? Sadarkah anda bahwa pemimpin anda itu berpotensi untuk bersalah?


Ada sebuah kisah:


Seorang ustadz (Mas’ul) pernah mengatakan: “Anda harus berhati-hati kepada si A dan si B. karena dia pernah mendatangai undangan Thoghut”. Padahal dalam kesempatan yang lain ustaqdz itu pun pernah mendatangi undangan Thoghut juga. Dan bahkan pernah menerima amplop dari Thoghut. Walaupun dia selalu beralasan “Kita harus pandai-pandai berdiplomasi dengan Thoghut. Kita terima uangnya, tapi jangan kita gunakan buat makan”.


Ya akhie…. Apa bedanya pemimpin ini dengan si A dan si B dalam kasus ini? Apakah karena si A dan si B berstatus A’dho’, dan si pemimpin berstatus atasan? Wal ‘iyadzu billah.


Ikhwah fillah …..


Kisah-kisah di atas hanya menjadi ibroh dan pelajaran buat kita. Bahwa pemimpin bukanlah nabi. Pemimpin bukanlah rosul yang ma’sum dari dosa. Oleh karena itu kita tidak boleh taklid buta kepada pemimpin. Kita hanya boleh taklid buta kepada AL HAQ. Selain kepada nabi dan rosul, maka kita tidak boleh mengambil perkataan dan fatwanya secara 100 %. Karena bisa mengandung salah dan khilaf.


Ikhwah fillah …..


“Ketika Ulama menjadi Thoghut”. Satu judul yang begitu mendalam makna dan artinya. Satu judul yang begitu mengiris sebagian hati para ulama suu’. Menjadi jarum tajam yang menusuk hati para pemimpin yang suu’. Menjadi duri tajam yang menusuk kaki para ulama yang dijuluki “Maaaaaling”. Wal ‘iyadzu billah.


Namun risalah ini bukan bermaksud memfonis ulama tertentu. Bukan bermaksud menuduh Qo’id tertentu. Dan juga bukan untuk melecehkan sebagian ustadz, Qo’id dan sesepuh kampong tertentu.


Ini hanyalah muhasabah, ini hanyalah refleksi bagi kita semua, dan ini hanyalah instrospeksi diri buat kita. Tidak ada yang saya harapkan kecuali kebaikan dan perbaikan. Sebagaimana yang dikatakan oleh nabi Syu’aib ‘alaihis salam: “Tidaklah aku berkehendak kecuali untuk perbaikan semampuku”.


Mungkin ada kata yang dianggap menyindir, mungkin terdapat kata yang dikira memojokkan, mungkin ada ungkapan kata yang terkesan menjelekkan. Itu hanya disebabkan kelemahan dan kekurangan saya di dalam mengungkapkan sebuah nasihat dan tausiyah dengan tutur kata yang sopan dan untaian kalimat yang indah. Sekali lagi, tidak ada maksud menjelekkan, menguliti, dan atau mencemooh seorang ustadz, Qo’id dan sesepuh kampong tertentu. Hanya sebagai Tawashou Bil Haqqi saja.


Ikhwah fillah …..


Semoga risalah ini bermanfaat buat kita semua. Terutama buat saya sendiri. Dan semoga ini bermanfaat bagi para ikhwah, terkhusus yang hidup di dalam sebuah tandzim, dan juga bisa bermanfaat bagi para ustadz yang menjadi mas’ul dan atau Qo’id di dalam sebuah Tandzim tertentu.


Walau mungkin ini menjadi sesuatu yang pahit yang harus ditelan. Kalau memang ternyata ini Pil pahit penyehat penyakit yang harus ditelan, maka dengan perasaan agak berat kita pun harus menelannya.


حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ


لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِا اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ


نَصْرٌ مِنَ اللهِ وَفَتْحٌ قَرِيْبٌ


اَلَّلهُمَّ اَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ اَلَّلهُمَّ فَاشْهَدْ


اَلَّلهُمَّ اَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ اَلَّلهُمَّ فَاشْهَدْ


اَلَّلهُمَّ اَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ اَلَّلهُمَّ فَاشْهَدْ


وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Bumi Allah, 3 April 2009 M


NB. Jika antum ingin perdalam lagi masalah ini “ULAMA MENJADI THOGHUT”. Antum bisa buka dalam risalah yang ditulis oleh Syekh Abu Bashir At Tunisy, yang berjudul “دُعَاةٌ أَمْ طُغَاةٌ(Da’I ataukah Thoghut).




[1] . disadur dari isi ceramah Ustadz Abdullah Sungkar Rohimahullah dalam salah satu ceramahnya yang berjudul Asasul Khomsah.

[2] . Syarh Shohih Muslim : 3/18. Untuk lebih detailnya bisa dibaca dalam buku AT THOGHUT, yang ditulis oleh Syekh Abu Bashir At Tunisy.


[3]. Lihat dalam Kitab Al Jami’ Fie Tholabi ‘Ilmis Syarif, dalam Bab Hukmu Anshorut Thoghut. Yang ditulis oleh syekh Abdul Qodir bin Abdul ‘Aziz fakkallahu asrohu.


[4] . Lihat Dalam Tafsir Ibnu Katsir : 2/460



disunting dari ishoba.wordpress.com

Read more..

TAUHID

tauhid Comment( 0)

Oleh

Haiah Kibarul Ulama Saudi Arabia

Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2







Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah atas Rasulullah, keluarga beliau, shabat dan orang-orang yang mengambil petunuk dengan petunjuk.



Amma ba�du.

Majelis Kibarul Ulama telah mempelajari pada daurah yang ke-49, yang diselenggarakan di Thaif, dimulai dari tanggal 2 Rabiul Tsani 1419H, tentang pengkafiran dan pemboman yang marak terjadi di negeri Islam dan selainnya. Dan juga menyebabkan pertumpahan darah dan musnahnya bangunan-bangunan.



Dengan memperhatikan bahaya serta dampak negatife yang ditimbulkan perbuatan tersebut seperti menelan korban yang tidak berdosa, melenyapkan harta benda, timbulnya ketakutan di antara manusia, was-was terhadap diri serta tempat mereka, maka majelis Kibarul Ulama mengeluarkan penjelasan berkaitan dengan hukum tersebut sebagai bentuk nasehat kepada Allah dan para hamba-Nya, bentuk tanggung jawab serta menyingkap kesamaran dalam pemahaman terhadap orang yang masih belum jelas akan hal ini, maka kami menyatakan wa billahi at taufiq.



Pertama.

Pengkafiran termasuk hukum syar�i yang sumbernya berasal dari Allah dan RasulNya. Seperti juga halnya penghalalan, pengharaman, dan kewajiban kembali kepada Allah dan RasulNya, demikian pula pengkafiran. Namun tidaklah setiap perbuatan yang disifati dengan kekafiran baik perkataan maupun perbuatan merupakan kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.



Ketika hukum pengkafiran dikembalikan kepada Allah dan RasulNya, maka tidak dibenarkan untuk mengkafirkan seseorang kecuali yang telah jelas-jelas dikafirkan oleh Al-Qur�an dan As-Sunnah, tidaklah cukup hanya dengan syubhat atau persangkaan semata, mengingat dampak yang ditimbulkan oleh hal tersebut. Dan jika hukuman saja bisa ditolak hanya karena syubhat (pada hal dampaknya lebih ringan dari dampak yang ditimbulkan oleh pengakfiran), maka pengkafiran lebih utama lagi.



Oleh karena itu Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam telah memperingatkan perbuatan menghukum seseorang dengan kekafiran padahal ia tidaklah demikian, beliau bersabda.



"Artinya : Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya �wahai kafir� maka sungguh (perkataanya) kembali kepada salah satu dari mereka jika ia berkata benar, jika tidak maka akan kembali padanya" [Muttafaq �alaihi dari Ibnu Umar] [1]



Telah disebutkan di dalam Al-Qur�an dan As-Sunnah yang bisa dipahami bahwasanya perkataan, perbuatan atau keyakinan ini merupakan kekufuran, akan tetapi pelakunya tidak divonis kafir karena adanya penghalang. Hukum ini sebagaimana hukum-hukum lain yang tidak akan bisa sempurna kecuali dengan adanya sebab, syarat dan tidak adanyanya penghalang. Contohnya dalam masalah warisan, di antara sebab seseorang menerima warisan adalah karena hubungan kekeluargaan, namun terkadang ia tidak mendapatkan warisan karena adanya penghalang, seperti perbedaan agama. Begitu pula kekafiran ia dibenci karena perbuatannya tapi tidak dikafirkan.



Terkadang seorang muslim mengucapkan kalimat kufur karena meluapkan kegembiraan, kemarahan atau semisalnya tetapi ia tidak divonis kafir –karena ia tidak bermaksud demikian- seperti kisah seorang yang berkata : "Wahai Allah, engkau adalah hambaku sedangkan aku adalah tuhanmu, ia telah salah karena meluapnya kegembiraannya" [Diriwayatkan oleh Anas bin Malik] [2]



Terburu-buru dalam hal megkafirkan memberikan dampak yang sangat berbahaya seperti penghalalan darah dan harta, tercegah atas warisan, batalnya pernikahan serta selainnya yang meupakan dampak kemurtadan.



Bagaimana bisa hal itu dibenarkan atas seorang mukmin, hanya karena syubhat yang rendah (ringan) ?



Jika hal ini terjadi kepada pemimpin maka akan lebih parah lagi, ia akan berlaku sewenang-wenang, mengangkat senjata, merebaknya kekacauan, tertumpahnya darah dan kerusakan peduduk serta negeri. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam melarang, kita untuk menentang para pemimpin, beliau bersabda.



"Artinya : …… kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas, kalian memiliki hujjah dari Allah" [Muttafaq �alaihi dari Ubadah] [3]



Perkataan beliau, "kecuali jika kaian melihat". Tidaklah cukup hanya karena persangkaan dan kabar yang beredar.



Perkataan beliau, "kekufuran" : Tidaklah cukup hanya dengan kefasikan –walaupun besar- seperti juga kezhaliman, minum khamr, bermain judi dan segala bentuk keharaman.



Perkataan beliau, "jelas". Tidaklah cukup jika bukan kufur yang jelas atau yang sharih (terang).



Perkataan beliau, "kalian memiliki hujjah dari Allah" bahwasanya harus dengan dalil yang sharih (terang) yaitu yang jelas serta tetap dalilnya dan tidaklah cukup dengan dalil yang memiliki sanad yang lemah dan tidak pula dalil yang rancu (tidak jelas).



Perkataan beliau, "dari Allah" bahwasanya tidak bisa dijadikan dalil (ibrah) perkataan seorang ulama walaupun ia telah mencapai derajat yang tinggi dalam ilmu dan amanah, jika perkataanya tersebut bukan berdasarkan dalil yang sharih (terang) lagi benar dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu �alaihi wa sallam.



Ukuran ini menujukkan bahwasanya permasalahan tersebut sangat penting.



Kesimpulan : Sesungguhnya tergesa-gesa dalam mengkafirkan memiliki bahaya yang besar sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta�ala.



"Artinya : Katakanlah : Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alas an yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" [Al-A�raf : 33]



Kedua.

Akibat yang ditimbulkan oleh keyakinan yang salah ini seperti penghalalan darah, terinjak-injaknya kehormatan, terampasnya harta secara khusus atau umum, pemboman pemukiman dan kendaraan, dan peledakan gedung-gedung. Kesemuanya ini –dan yang semisalnya- diharamkan menurut syariat (ijma kaum muslimin) karena menjadi penyebab hilangnya hak orang, yang tidak berdosa, hilangnya hak harta, hilangnya hak rasa aman dan menetap, dan haknya orang-orang yang damai lagi sentosa yang hidup di perumahan dan lingkungan mereka, hilangnya hak mendapatkan suasana pagi dan sore hari, dan hilannya kepentingan-kepentingan umum yang harus ada pada manusia.



Islam menjaga harta-harta kaum muslimin, kehormatan, badan (jiwa) dan mengharamkan perbuatan merampasnya serta sangat menekannkan hal-hal tersebut. Termasuk hal terakhir yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam kepada umatnya :



"Artinya : Bahwasanya darah, harta, dan kehormatan kalian aku haramkan seperti haramnya hari ini, bulan ini dan di negeri kalian ini� kemudian beliau Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda : �Apakah aku telah menyampaikannya ? Ya Allah saksikanlah" [ Muttafaq �alaihi dari Abi Bakrah] [4]



Dan beliau Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda.



"Artinya : Setiap muslim dengan muslim yang lain diharamkan ; darahnya, hartanya serta kehormatannya" [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah] [5]



Dan beliau Shallallahu �alaihi wa sallam : "Takutlah kalian akan kezhaliman karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat" [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir] [6]





[Disalin dari kitab Fatawa Al-Aimmah Fil An-Nawazil Al-Mudlahimmah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Seputar Terorisme, Penyusun Muhammad bin Husain bin Said Ali Sufran Al-Qathani, Terbitan Pustaka At-Tazkia]

Read more..
design by Natty WP