| |
Okt
04
Oleh Ummu Fathin
“Dan barang siapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia itu mukmin, maka mereka itu akan masuk surga dan mereka tidak dizhalimi sedikit pun”[1]
Sesungguhnya peran muslimah dalam kancah jihad, sangatlah banyak dan terbuka lebar. Mereka memiliki peran yang sangat penting dan jelas, yang mana tidak mungkin terhapus oleh zaman selamanya. Sejarah telah mencatatnya, sedangkan sejarah itu akan terus berulang meski tokoh dan tempatnya berganti.
Dalam hadis shohih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dari Ruba’i binti Muawwidz radliyallahu ‘anha, beliau berkata, “Kami berperang bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, kami memberi minum para prajurit dan membantu mereka, mengembalikan yang terluka dan terbunuh ke Madinah”.[2]
Sungguh tak dapat dipungkiri, keberanian seorang mujahid di lapangan maka ada seorang wanita ‘di belakang’nya. Jika ada seorang mujahid yang gagah berani, maka lihatlah siapa ibunya, atau lihatlah siapa istrinya, sungguh kan kita temui muslimah-muslimah yang tangguh di dalamnya. Muslimah ini memberi motivasi pada ayah, suami, saudara laki-laki dan anak-anak laki-lakinya agar pergi berjihad, menunjukkan pembelaan kepada dienullah dan pengorbanan diri untuk Allah. Ia memotivasi dengan memberikan semangat untuk mereka, memotivasi dengan menyumbangkan harta untuk mereka dalam rangka jihad fie sabilillah, memotivasi dengan tidak mengeluh saat ditinggal, memotivasi dengan tetap sabar atas kepergian mereka dan ujian yang menimpa mereka. Sungguh, inilah tugas muslimah dalam kancah jihad baik dari dulu maupun sekarang.
Akan tetapi kita lihat pada masa sekarang, tak sedikit muslimah yang masih ragu untuk ikut serta dalam kancah jihad ini. Tak sedikit kita melihat, mereka masih menahan suami dan anak laki-laki mereka untuk ikut serta dalam jihad fie sabilillah. Merasa tak sanggup ditinggal. Apa yang meragukanmu duhai ukhity? Apakah kita kehilangan teladan yang mampu memberikan contoh? Demi Allah, keteladanan itu banyak ya Ukhtiy, jika kita mau mencari serta meneladani mereka.
Saya ingatkan untuk diri saya dan antunna sekalian akan kisah-kisah kepahlawanan shohabiyah yang beriman, berhijrah dan berjihad fie sabilillah dalam tulisan ini, juga kisah kepahlawanan muslimah dalam medan jihad di zaman kita sekarang. Dengannya, bi idznillah, semoga dapat memotivasi kita untuk bisa seperti mereka dan menjadikan hati kita tergerak untuk ikut andil bagian pada pembelaan terhadap dien Allah dalam peperangan sengit yang dilancarkan salibis dan zionis ini.
Adapun peran yang dapat kita lakukan dalam kancah jihad ini, di antaranya adalah;
- Memotivasi ayah, saudara laki-laki, suami dan anak laki-laki kita untuk jihad fie sabilillah dan bersabar atas ujian yang menimpa kita.
Adalah kewajiban kita—wahai ukhtiy muslimah—untuk senantiasa memotivasi mereka untuk berpartisipasi dalam jihad ini, di mana jihad telah menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi saat ini[3]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “…kobarkanlah (semangat) orang-orang beriman (untuk berperang)…”[4]. Dan, “Wahai Nabi! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang...”[5]
Sebagai anak, kita harus memotivasi ayah kita dan saudara laki-laki kita untuk turut serta dalam jihad fie sabilillah ini. Dan sebagai seorang istri juga seorang ibu, sudah selayaknyalah kita memotivasi suami dan anak laki-laki kita untuk turut andil dalam perjuangan fie sabilillah, untuk turut ambil bagian dalam pengorbanan di jalan Allah. Dan sungguh, telah banyak dari orang-orang sebelum kita yang telah menjadi contoh dalam pengorbanan ini…
Lihatlah bagaimana seorang Khadijah binti Khuwailidy radliyallahu ‘anha senantiasa memotivasi suaminya—Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sang panglima perang—dalam mendakwahkan dan menyebarkan Islam. Ketabahan beliau radhliyallahu ‘anha dalam mendampingi suaminya di jalan tauhid wal jihad, baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan sempit maupun lapang, adalah teladan yang sangat mengagumkan. Beliau dengan mantap menghibur Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan yang akan terus dikenang sejarah, “Demi Alloh, Alloh tidak akan menghinakan Anda selamanya. Sesungguhnya Anda menyambung hubungan kerabat, jujur dalam berbicara, menanggung letih dan menolong yang tertimpa musibah”.
Dan teladan itu pun telah ada pada diri Al Khansa’—ibu para syuhada’—radliyallahu ‘anha, yang sedikit pun tak ragu memotivasi keempat anak laki-lakinya agar ikut berperang dan agar tidak lari dari medan perang. Tidak ragu untuk menjadikan anak-anaknya bagian dari kafilah mujahideen sekaligus kafilah syuhada’. Beliau radliyallahu ‘anha merupakan cermin pengorbanan seorang ibu, teladan bagi para ibu sepanjang zaman. Duhai, betapa mulianya shohabiyah ini dan pengorbanannya untuk dien Islam…
Maka, ketika kabar kesyahidan anaknya sampai kepada ibu yang beriman dan bersabar ini, ia sama sekali tak meratap juga tak menunjukkan sikap sedih. Tahukah apa yang ia katakan?
“Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kesyahidan mereka. Saya mengharap pahala dari Rabb-ku. Semoga Ia mengumpulkan saya bersama mereka di tempat yang penuh kasih sayangNya (jannah)”. Perkataan yang didasari keimanan yang tangguh, yang akan terus diingat oleh sejarah sebagai sebuah pengorbanan di jalan Allah.
Subhanallah!! Beginilah seharusnya seorang ibu, dengan senang hati menyerahkan buah hatinya di jalan Allah, berharap pahala dariNya dan jannahNya. Maka, ukhtiy fillah…tidakkah hati kita tergerak untuk meneladani para shohabiyah ini?
Kita pun tak melupakan kisah shohibatus syakkal, seorag ibu yang memberikan sebuah ikalan rambut miliknya kepada Abu Qudamah Asy Syama’ rahimahullah, yang ia harapkan dapat ikut serta dalam jihad dan berdebu fie sabilillah bersamanya. Tak lupa, ia pun memotivasi anak laki-lakinya untuk turut serta dalam peperangan bersama Abu Qudama Asy Syama. Dan tahukah ukhtiy, apa yang beliau ucapkan saat Abu Qudamah hendak memberitahukan berita kesyahidan anaknya?
“Jikalau anakku pulang bersamamu dalam keadaan selamat, maka itu kabar menyedihkan bagiku. Dan jikalau anakku terbunuh fie sabilillah (syahid) berarti anda membawa kabar gembira”. Subhanallah…!! Kalimat yang mantap yang berasal dari keimanan yang dalam dan keyakinan yang kuat akan janji Allah.
Dan ketika diberitahukan bahwa anaknya terbunuh fie sabilillah, maka beliau pun menjawab, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya sebagai simpanan besok pada hari kiamat”. Inilah buah keimanan yang manis, dan bukti kejujuran keimananya. Sungguh, ukhtiy fillah, banyak teladan yang bisa kita jadikan contoh dalam meniti jalan jihad ini…
Dan di zaman kita ini, teladan itu terlampau banyak…kalau kita mau mencari dan meneladani mereka. Ummat ini tidaklah mandul untuk melahirkan sosok-sosok khansa’ dan yang semisalnya. Di sana, ada ummu islambuly rahimahallah yang tak sedih ketika buah hatinya dieksekusi pemerintah thaghut Mesir karena aksi jihadnya dalam ‘mengeksekusi’ thaghut Anwar Sadat. Ia justru bergembira dan menyajikan hidangan, sesaat setelah eksekusi anaknya dilangsungkan, dan ia berkata, “Hari ini saya merayakan pernikahan anak saya dengan hurun ‘iin”. Subhanallah...begitu tegarnya beliau.
Di sana masih ada sosok ummu Muhammad (istri asy syahid—kama nahsabuhu wa huwa hasibuhu—‘Abdullah ‘azzam rahimahullah), di mana beliau begitu sabar ditinggal suaminya berjihad bertahun-tahun. Bersabar akan kesempitan hidup yang dialaminya di jalan tauhid dan jihad. Beliau adalah seorang yang zuhud lagi sabar, sebagaimana yang dikatakan oleh suaminya, syaikh Abdullah Azzam rahimahullah. Beliau memberikan keteladan yang besar bagi kita—para muslimah—dalam kesabaran dan ketegaran, ketika suami dan kedua anaknya syahid di Peshawar, Pakistan. Alangkah sabarnya engkau wahai ummu Muhammad…
Masih ada pula di zaman kita ini, sosok seorang istri dan ibu yang menjadi teladan bagi kita. Sebagaimana yang diceritakan oleh syaikh abu mujahid dalam tulisannya (Realita Jihad)[6], ketika suami dan anaknya syahid—insyaAllah—dalam peperangan di Afghanistan, ia tidaklah bersedih karena itu, akan tetapi ia berkata, “Sungguh kesedihankau karena tidak dapat memberikan bantuan makanan kalian itu lebih aku rasakana, dari pada kesedihanku karena kehilangan anak kesayangan hatiku…”. Allahu akbar!!
Andai bukan karena ada sesuatu yang saya khawatirkan, tentulah saya akan ceritakan bagaimana kesabaran dan ketegaran para istri mujahid dan syuhada’ di negeri kita ini, yang saya ketahui. Karena—menurut saya—mereka layak untuk dijaidkan contoh bagi kita, agar kita senantiasa termotivasi.
Maka, wahai cucu-cucu Khansa’, inilah teladan yang mulia untuk kita, adakah teladan yang lebih baik selain mereka?
Tidakkah hati kita tergerak untuk memotivasi ayah, saudara laki-laki, suami dan anak laki-laki kita untuk berjihad?
Tidak tergerakkah kita untuk menjadi generasi Khansa’ abad ini?
Sungguh demi Allah, adalah kebahagiaan sejati bagi kita apabila kita dapat ikut andil dalam kancah jihad ini. Adalah kebahagiaan yang sempurna bagi kita di dunia ini, apabila Allah takdirkan kita sebagai anak dari seorang mujahid lagi syuhada’, atau saudara dari seorang mujahid lagi syuhada’, atau istri dari seorang mujahid lagi syuhada’ atau ibu dari seorang mujahid lagi syuhada’. Demi Allah, itulah kemuliaan di dunia ini…
Sesungguhnya, mereka (ayah, saudara laki-laki, suami dan anak laki-laki kita) suatu saat akan meninggal juga, cepat atau lambat, baik kita menginginkannya atau pun tidak. Dan kehidupan di dunia ini hanyalah kehidupan yang semu, sedangkan kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang sebenarnya. Lalu mengapa tidak kita semangati mereka untuk turut serta dalam jihad fie sabilillah? Agar di jannahlah—insyaAllah—kelak kita bisa bertemu dengan mereka, sedangkan kebahagiaan di jannah itulah kebahagiaan yang hakiki.
“…padahal kenikmatan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”[7]
- Membela mujahideen dengan lisan kita, menyingkap syubhat yang memojokkan mereka dan memberikan hujjah untuk mereka di hadapan manusia
Sungguh, ukhtiy muslimah, kita telah diperintahkan oleh Allah untuk menolong dienNya, dengan apapun yang dapat kita lakukan. Dan bagian dari menolong dienNya, adalah menolong para wali-waliNya yang menolong dien Allah, yaitu mujahideen.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong agama Allah…”[8].
Tugas kita untuk menyebarkan kemenangan-kemenangan yang diraih mujahideen. Tugas kitalah untuk membela mereka dengan lisan kita, memberikan hujjah-hujjah yang syar’i untuk membela mereka, membantah syubhat-syubhat yang menyerang mereka, agar terbayankan bagi orang yang masih ragu dan tersadarkan bagi orang yang lalai.
Telah ada sosok shohabiyah, ummul mu’minin, ‘Aisyah binti Abu Bakar radliyallahu ‘anha, yang dengan sigap membela dien Islam dengan hujah-hujah yang kuat, membantah syubhat dengan dalil-dalil yang kuat. Darinyalah ratusan hadits diriwayatkan. Beliau radliyallahu ‘anha merupakan teladan yang cemerlang akan kefaqihan terhadap dien ini. Dan dari zaman ke zaman, bahkan di zaman kita ini, kita kan dapati muslimah-muslimah yang mengambil peran ini dalam rangka membela dienNya, membela syari’atNya, membela jihad dan mujahideen.
Sudah selayaknyalah bagi kita untuk mempelajari fiqh jihad dan masalah-masalah fiqh yang berkaitan dengan jihad. Hal ini akan memberikan manfaat bagi mujahideen, ketika kita membela mereka dari celaan-celaan para penggembos, orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Dan tentu saja, orang yang membantah dengan ilmu tidak akan sama dengan orang yang membantah tanpa ilmu. Maka bantulah mujahideen dengan memberikan mereka hujjah, dengan menyingkap syubhat yang menyerang mereka dari kalangan anti jihad dan para penggembos, serta konspirasi dari kalangan munafik. Serta memuji mereka (mujahideen) di hadapan manusia serta menyebutkan keunggulan dan karomah-karomah yang mereka miliki. Dan termasuk di dalamnya adalah, kita menjelaskan kepada kaum muslimin semuanya akan hakikat perang salib yang dilancarkan salibis-zionis-komunis-paganis internasional ini.
Bukankah lewat lisan dan tulisan kitalah, kita mencoba mengharridh kaum muslimin untuk berjihad. Dan bukankah, jihad dengan lisan ini mendahului sebelum jihad dengan harta dan jiwa? Seseorang tidak dapat dimotivasi untuk jihad dengan hartanya kecuali dengan lisan (tulisan), dan tidak dapat dimotivasi untuk jihad dengan jiwanya kecuali dengan lisan (tulisan). Maka, mengapa kita tidak ikut serta berperan di dalamnya?
Termasuk dalam peran ini, adalah menyebarkan semua materi-materi yang berkaitan dengan jihad dan dukungan terhadapnya, baik berupa buku-buku, buletin-buletin, dan kaset-kaset, yang mana hal ini dapat dilakukan baik bagi yang pandai menulis atau pun yang tidak pandai menulis. Menyebarkannya baik melalui email, forum-forum, blog dan semacamnya.
- Membantu mujahideen dengan harta kita
Ukhtiy fillah, janganlah meremehkan peran harta kita untuk jihad fie sabilillah. Sesungguhnya ia (harta) memiliki peran penting dalam perjalanan jihad. Harta memiliki sumbangsih yang besar dalam roda jihad. Tanpanya—bi idznillah—roda jihad tidak bisa berjalan, perjalanan jihad akan terhenti, dan mujahideen tidak bisa melancarkan aksi-aksi jihad. Sedangkan Allah telah berfirman, “Belanjakanlah harta kalian di jalan Allah…”[9]
Dalam banyak ayat Al Qur’an[10], ketika Allah memerintahkan orang-orang mu’min untuk berjihad fie sabilillah, maka Allah mendahulukan jihad dengan harta dibandingkan dengan jiwa. Mengapa? Karena jihad dengan jiwa tidak akan terlaksana tanpa adanya harta yang mengiringinya. Seorang mujahid tidak bisa pergi berjihad, jika ia tidak memiliki harta untuk perjalanan jihadnya. Seorang mujahid tidak bisa melaksanakan aksi jihad, tanpa harta untuk merakit bom—misalnya—atau membeli senapan atau semacamnya yang merupakan sarana untuk jihad fie sabilillah.
Akan tetapi ini tidak berarti bahwa jihad dengan harta lebih utama dibandingkan dengan jihad dengan jiwa. Didahulukannya jihad dengan harta, karena cangkupan yang dibicarakannya sangat luas; baik dari kalngan laki-laki, wanita, pemuda, lanjut usia, anak kecil dan orang dewasa, sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh al ‘uyairi rahimahullah[11].
Hanya dalam 1 ayat[12] saja, Allah mendahulukan jihad dengan jiwa dibandingkan dengan jihad dengan harta. Karena dalam ayat ini terdapat transaksi jual beli antara pembeli (Allah) dengan penjual (orang-orang mukmin), yang mana Allah tawarkan bagi orang mukmin jannahnya yang sangat mahal, maka wajib bagi orang-orang mukmin untuk menyerahkan miliknya yang paling berharga, yaitu jiwa.
Lihatlah bagaimana pengorbanan seorang Khodijah—ummul mu’minin—radliyallahu ‘anha dalam bidang harta untuk penyebaran dien Islam. Beliau tak ragu sedikit pun menyerahkan hartanya demi tegaknya dien Islam. Maka, bukankah beliau adalah teladan yang mulia bagi kita? Lihat pula, bagaimana pengorbanan seorang ummu Muhammad untuk jihad fie sabilillah dan untuk keluarga mujahideen. Dan masih banyak lagi, teladan-teladan di zaman kita ini (bahkan di negeri kita ini) yang patut kita jadikan contoh baik yang tersembunyi mapun yang dzahir (tampak), jika saja kita mau mencari dan meneladani mereka.
Ukhtiy fillah, sesungguhnya apabila kita belum mampu membantu mujahideen dengan jiwa kita, maka bantulah mereka dengan harta kita. Bukankah kewajiban kita untuk mengurusi keluarga yang ditinggalkan mujahideen? Bukankah kewajiban kita untuk memberangkatkan mujahideen dengan harta kita? Sungguh di dalamnya ada kemuliaan dan pahala yang besar.
Dalam hadis shahih disebutkan,
“Barang siapa membekali orang yang berjihad di jalan Allah, maka dia mendapatkan pahala seperti pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berjihad tersebut sedikit pun”[13]
“Siapa pun di antara kalian yang menggantikan tugas orang yang keluar berjihad di keluarganya dan hartanya dengan baik, maka dia berhak mendapatkan setengah pahala orang yang keluar berjihad”[14]
Termasuk di dalamnya adalah, kita mengumpulkan sedekah dari kaum muslimin untuk mujahideen dan keluarga mereka. Dan juga membayar zakat untuk mujahideen, karena salah satu ashnaf yang berhak memperoleh zakat adalah mujahideen sebagaimana yang Allah sebutkan dalam al qur’an[15] yaitu “ashnaf fie sabilillah”.
Demikian juga, kita harus mengeluarkan harta untuk membebaskan mujahideen yang tertawan. Karena sesungguhnya tugas kaum musliminlah (yang mampu) untuk membebaskan tiap kaum muslimin yang ditawan orang-orang kafir, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda;
“Bebaskanlah tawanan, berilah makan orang yang kelaparan, dan jenguklah orang yang sakit”.[16]
Maka, ambilah peran ini sesuai kemampuan kita. Jangan sampai kita tertinggal dari “Pasar Jihad” ini.
- Membantu mujahideen dengan jiwa kita
Inilah puncak pengorbanan yang tertinggi dalam pengorbanan untuk dien Islam dan kaum muslimin, pengorbanan untuk jihad dan mujahideen. Pengorbanan yang mahal, karena jiwa menjadi tebusannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari ridha Allah. Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hambaNya”[17]
Memang benar, tidaklah menjadi fardlu ‘ain seorang muslimah turut serta dalam jihad dengan jiwa memerangi orang-orang kafir, akan tetapi status hukumnya adalah keutamaan (dengan tetap memperhatikan batasan-batasannya, seperti ada mahrom, berhijab, aman dari fitnah dll), dan hanya dalam kondisi tertentu saja muslimah diwajibkan[18]. Akan tetapi, tidakkah hati kita tergerak untuk ikut serta di dalamnya? Sedangkan jihad adalah amalan yang tertinggi, pahala syahid yang Allah janjikan sangatlah menggiurkan, sedangkan telah banyak teladan sebelum kita yang telah memberikan contoh untuk kita?
Inilah dia Shofiyah binti Abdul Muthalib radliyallahu ‘anha, bibi Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wa sallam, saudara kandung dari Hamzah bin Abdul Muthalib radliyallahu ‘anhu. Ia adalah seorang wanita mukminah yang telah berba’iat, juga mujahidah yang sabar. Betapa pemberaninya ia dalam keikutsertaan jihadnya bersama Rasulullah dalam perang Khandak, tatkala Yahudi berupaya melakukan penyerangan yang busuk terhadap pasukan wanita. Ia tak ragu untuk membunuh si Yahudi ini dengan tongkat dari kayu. Dialah, sebagaimana yang ia katakan, “wanita pertama yang membunuh seorang laki-laki”. Dia bahkan lebih berani dibandingkan kebanyakan para lelaki zaman ini.
Inilah ummu ‘umarah (Nasibah binti Ka’ab) radliyallahu ‘anha, prajurit yang beriman, di mana ia tak sedikit pun ragu untuk membela Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Uhud, di mana saat itu banyak dari para lelaki meninggalkan medan jihad karena rasa takut akan musuh. Ia tak segan membela Rasulullah dengan jiwanya, menebaskan padang pada musuh-musuh Allah meski dalam kondisi terluka. Kepadanyalah Rasullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Siapakah yang sanggup melakukan sebagaimana yang kau lakukan ini, wahai ummu ‘umarah?”.
Begitulah para shohabiyah radliyallahu ‘anhunna. Keimanan mereka, mereka buktikan dengan keikutsertaan dalam pembelaan terhadap dien ini dengan lisan, harta dan jiwa mereka. Karena sesungguhnya keimanan itu membutuhkan pembuktian. Dan kepada merekalah (shohabiyah), kita mengambil teladan, dan kepada merekalah kita bercermin.
Kita tidak melupakan keberanian Royyim ar Royaasyiy rahimahallah, muslimah Palestina, seorang istisyhadiah yang telah menjual dengan murah jiwanya di jalan Allah. Ia memberikan teladan yang sangat mengagumkan akan pengorbanan jiwa di jalan Allah. Ia telah meneruskan “garis keturunan” shofiyah dan ummu ‘umaroh dalam keberaniannya membela dien Islam.
Kita pun tak melupakan sosok Sana’ Al Muhaidily rahimahallah, pelaku istisyhadiyah di Libanon yang telah menewaskan kurang lebih 300 tentara kafir Amerika. Ia tak gentar, meskipun jiwanya melayang di jalan Allah. Alangkah mulianya engkau wahai Al Muhaidily. Sungguh, alangkah mulianya…
Tak ketinggalan pula, pengorbanan Nausyah Asy Syammary dan Waddad Ad Dulaimiy rahimahumullah di jalan Allah di bumi Iraq, yang sangat menawan hati dan penglihatan kita. Maka, adakah di antara kita yang mau mengambil pelajaran dari mereka ya ukhtiy?
Ukhtiy fillah, inilah peran-peran yang bisa kita sumbangkan dalam kancah jihad.
Dan satu peran lagi dalam rangka membantu mujahideen yang setiap orang dapat melakukannya, baik muda atau pun tua, baik kaya atau pun miskin, baik yang sudah memiliki anak maupun belum, baik yang sudah menikah atau pun belum…ia adalah do’a.
Kita harus mendoakan mujahideen agar mereka tetap teguh di atas jalan jihad, agar mereka dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dengan pertolongan Allah, dan agar Allah menimpakan kecelakaan bagi musuh-musuhNya. Juga kita harus berdoa untuk mujahideen yang tertawan agar segera dibebaskan, untuk mujahideen yang terluka agar segera sembuh, untuk mujahideen yang gugur di medan jihad agar diterima sebagai syuhada’ dan berdoa untuk para pemimpin mereka. Demikian juga, kita harus mendoakan anak-anak dan keluarga mereka agar sabar, selamat dan terpelihara.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanjatkan doa qunut selama sebulan penuh untuk tiga orang shahabat yang tertawan di Mekkah. Kaum musyrikin Mekkah menyiksa mereka dan memaksa mereka untuk murtad. Di antara doa yang beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, selamatkan Walid bin Walid, Salamah bin Hisyam dan ‘Ayyasy bi Abu Rabi’ah”[19].
Dan sesungguhnya “doa adalah senjata kaum muslimin”. Maka hendaklah berdoa di waktu-waktu mustajab, bersabar dan berhusnuzhan pada Allah bahwa Dia pasti akan mengabulkannya.
Sungguh demi Allah, sedikit apapun usaha kita dalam rangka membela dien Allah, dalam rangka membela syari’atNya, maka selama kita ikhlas tentu ada nilainya di sisi Allah. Maka usahakan apa saja yang kita bisa untuk membela dien Allah, untuk membela jihad dan mujahideen, untuk berpartisipasi dalam perjuangan ini. Karena sesungguhnya setiap pasar itu akan ada waktunya ditutup. Dan jika pasar jihad telah ditutup, maka pulanglah orang yang telah berpastisipasi dengan membawa keberuntungan, dan merugilah orang-orang yang hanya duduk-duduk saja tanpa ikut serta membantu.
Ukhtiy Muslimah, sungguh, ummat ini membutuhkan sosok-sosok teladan seperti mereka (para shahabiyyah radliyallahu ‘anhunna), yang tak ragu menawarkan dengan murah ruhnya di jalan Allah. Ummat ini membutuhkan sosok-sosok seperti mereka yang menyerahkan buah hatinya untuk dijadikan ‘tumbal’ fie sabilillah. Ummat ini membutuhkan sosok-sosok seperti mereka yang bersabar di atas jalan tauhid dan jihad, lagi berinfak fie sabilillah. Maka masih adakah alasan bagi kita—wahai ukhtiy—untuk tidak ikut serta dalam jihad ini?
Dan sungguh, dalam medan jihad saat ini, ummat ini belum mandul untuk melahirkan kstaria-ksatria wanita yang keberaniannya seperti mereka. Ummat ini belum mandul untuk menampilkan keberanian muslimah-muslimah dalam medan peperangan, juga belum kering rahim ummat ini untuk tetap melahirkan sosok-sosok teladan atas pengorbanan diri untuk dienullah.
Dan ummat ini tidaklah mandul untuk melahirkan kembali sosok-sosok shofiyah dan ummu ‘umarah, untuk melahirkan sosok seperti Al Khansa’ radliyallahu ‘anhuma, demi Allah tidak! Selamanya, generasi penerus shofiyah dan ummu ‘ummarah akan senantiasa ada, generasi penerus Khonsa’ akan senantiasa bermunculan, dengan atau tanpa keikutsertaan kita di dalamnya.
Referensi:
- “39 Cara Membantu Mujahidin”, Syaikh Muhammad bin Ahmad As Salam
- “Kado Untuk Mujahidah”, softcopy terbitan Al Qoidun Group
- “Nasihat-nasihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam; Penawar Lelah Pengemban Dakwah”, Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam rahimahullah
- “Sirah Shahabiyah”, Syaikh Mahmud Mahdi Al Istambuli Musthafa Abu Nashr Asy Syalabi
Ditulis untuk;
Abu dan Ummu Zaid hafidzahumullah
“Jazaakumullaah khoyr atas segalanya, semoga Allah senantiasa menjaga kalian”
[1] An Nisa : 124
[2] HR. Bukhori
[3] Penjelasan jihad saat ini telah menjadi fardlu ‘ain telah banyak dijabarkan oleh para ulama’ yang hanif dalam kitab-kitab mereka, di antaranya; Al ‘Umdah Fie I’dadil ‘Uddah karya syaikh ‘Abdul Qodir bin ‘Abdul ‘Aziz, Ad Difa’ ‘An ‘Arodhil Muslimin Ahammu Furudhil A’yan karya syaikh ‘Abdullah ‘Azzam, Qooluu Fa Qul ‘Anil Jihad karya Harits Abdus Salam al Mishry, dan kitab-kitab lainnya.
[4] An Nisa’ : 84
[5] Al Anfal : 65
[6] Kado Untuk Mujahidah, softcopy terbitan “Al Qho’iduun group”.
[7] At Tawbah : 38
[8] As Saff : 14
[9] Al Baqarah : 195
[10] At tawbah : 41 ; At Tawbah : 20 ; Al Anfal : 72 ; Al Anfal : 74 dan lain-lain.
[11] Dari “39 cara membantu mujahidin”, Muhammad bin ahmad as salam.
[12] Yaitu At Tawbah : 111
[13] HR. Ibnu Majah dari Zaid bin Khalid
[14] HR. Muskim dan Abu Dawud dari Abu Sa’id
[15] QS. At Taubah : 60
[16] HR. Bukhori
[17] Al Baqoroh : 207
[18] Lihat penjelasan dalil-dalinya dalam kitab “Al ‘Umdah Fie I’dadil ‘Uddah” karya syaikh ‘Abdul Qodir bin ‘Abdul ‘aziz dan kitab “Fie Zhilali Surati At Tawbah” karya syaikh ‘Abdullah ‘Azzam rahimahullah dan kitab-kitab berkenaan jihad lainnya.
[19] HR. Bukhori, HR. Muslim, HR. Abu Dawud, dan HR. An Nasa’i dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu.
Read more..
Sep
09
Syaikh Yusuf bin Sholih Al-‘Uyairiy
Baiklah, sejenak kita kaji tentang apa makna kemenangan yang tercantum dalam Al-Quran dan sunnah. Sebenarnya, makna-makna kemenangan ini tidak cukup untuk kita kupas di sini satu persatu, itu memerlukan pembahasan sendiri, tapi sebagaimana dalam kaidah ushul fikih: apa yang tidak bisa di bisa dicapai semua tidak bisa ditinggal sebagian besarnya. Oleh karena itu, kami katakan:
Makna kemenangan pertama:
Makna terbesar dari sebuah kemenangan –yang pasti telah dicapai oleh siapa saja yang mau berjihad, baik sendirian atau bersama sama umat— adalah ketika seorang mujahid berhasil mengalahkan nafsunya, mengalahkan syetan yang menggodanya serta mengalahkan ‘delapan perkara yang disukai semua manusia’ dan kesukaan-kesukaan yang menjadi cabangnya, mengalahkan urusan-urusan duniawi yang menarik dirinya, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh umat gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Alloh menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya:
{قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوْا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ اْلفَاسِقِيْنَ}
Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Alloh dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh menda-tangkan keputusan-Nya”. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [1]
Maka ketika seorang hamba berhasil meninggalkan delapan perkara ini dan bersedia keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang dan berhasil mengalahkan nafsu dan syahwatnya serta perkara-perkara menarik yang membikin orang enggan keluar untuk berjihad.
Dengan keberhasilannya mencapai kemenangan ini, ia telah menggapai kemenangan lain yang lebih besar lagi, yaitu ketika ia berhasil keluar dari lingkaran orang-orang fasik, ia telah bebas dari janji dan ancaman Alloh yang tercantum di akhir ayat di atas. Semua kemenangan ini telah ia gapai ketika ia telah buktikan secara nyata bahwa ia lebih mencintai Alloh, rosul dan jihad di jalan-Nya. Sungguh, ini adalah kemenangan sangat besar.
Makna kemenangan kedua:
Jika seorang hamba keluar untuk berangkat berjihad, berarti ia telah mewujudkan kemenangan dalam bentuk yang lain dari kemenangan pertama. Bentuk kemenangan kali ini berupa kemenangan atas syetan yang senantiasa mengintai dan berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara untuk menghalanginya dari jihad. Sebagaimana tercantum di dalam Shohih Bukhori dari Abu Huroiroh t bahwasanya Rosululloh r bersabda:
(إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعِدَ لاِبْنِ آدَمَ فِيْ طَرِيْقِ اْلإِيْمَانِ فَقَالَ لَهُ أَتُؤْمِنُ وَتَذَرُ دِيْنَكَ وَدِيْنَ آبَائِكَ؟ فَخَالَفَهُ فَآمَنَ، ثُمَّ قَعِدَ لَهُ عَلَى طَرِيْقِ اْلِهجْرَةِ فَقَالَ لَهُ أَتُهَاجِرُ وَتَتْرُكُ مَالَكَ وَأَهْلَكَ؟ فَخَالَفَهُ فَهَاجَرَ، ثُمَّ قَعِدَ لَهُ عَلَى طَرِيْقِ اْلجِهَادِ فَقَالَ لَهُ أَتُجَاهِدُ فَتُقْتَلُ نَفْسُكَ فَتُنْكَحُ نِسَاؤُكَ وَيُقْسَمُ مَالُكَ؟ فَخَالَفَهُ فَجَاهَدَ فَقُتِلَ، فَحَقٌّ عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ)
“Syetan duduk menghadang anak Adam di atas jalan iman, syetan itu berkata kepadanya: “Apakah kamu mau beriman dan meninggalkan agamamu dan agama ayahmu?” Anak Adam itu tidak memperdulikannya dan terus beriman. Kemudian syetan duduk di jalan hijrah, ia berkata kepa-danya: “Apakah kamu mau berhijrah dengan meninggalkan harta dan keluargamu?” ia tidak memperdulikannya dan terus berhijrah. Kemudian syetan duduk di atas jalan jihad, ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mau berjihad? Nanti kamu terbunuh dan isterimu akan dinikahi orang, hartamu akan dibagi-bagikan kepada orang lain.” Ia kembali tidak memperdulikannya dan terus berjihad hingga terbunuh. Siapa yang seperti ini keadaannya, menjadi hak Alloh untuk memasukkannya ke surga.”
Jadi, hanya dengan jihadlah kemenangan atas syetan itu tercapai dan seorang hamba bisa menggapai surga Alloh Yang Mahapengasih.
Makna kemenangan ketiga:
Jika seorang hamba keluar untuk berjihad, ia telah mencapai kemena-ngan dan termasuk orang-orang yang disebut Alloh dalam firman-Nya:
(وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ اْلمُحْسِنِيْنَ)
“Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami, pasti akan Kami tunjukan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” [2]
Duh, alangkah besar kemenangan itu, ketika seorang hamba berada di bawah naungan hidayah Alloh I. Kemenangan terbesar melawan syetan adalah hidayah, sedangkan anugerah Alloh I terbesar adalah taufik dari-Nya untuk bisa menggapai hidayah itu dan berubah status menjadi orang-orang yang berbuat ihsan (muhsinin) di mana kebersamaan Alloh selalu menyertai mereka, khususnya kebersamaan Alloh berupa kemenangan, taufik, hidayah dan keshalehan.
Seandainya saja umat ini berjihad semua, seandainya mereka semua mau ikut serta dalam jihad dengan sungguh-sungguh, tentu umat ini akan menjadi umat yang mendapat petunjuk dan selalu disertai kebersamaan Alloh seperti yang terjadi di zaman shahabat dan tabi‘ìn, umat yang mendapatkan taufik, umat yang menang dan senantiasa ditolong Alloh I.
Makna kemenangan keempat:
Ketika seorang telah berhasil keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang atas orang-orang yang menghala-nginya yang mana mereka ini berasal dari saudara sekulit dan sebahasanya sendiri, bahkan di antara mereka ada yang menggunakan nash-nash syar‘i untuk melegitimasi sikap menghalangi mereka terhadap umat dari jihad. Alloh I telah hinakan mereka dalam firman-Nya:
{لَوْ خَرَجُوْا فِيْكُمْ مَا زَادُوْكُمْ إِلاَّ خَبَالاً وَلَأَوْضَعُوْا خِلاَلَكُمْ يَبْغُوْنَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيْكُمْ سَمَّاعُوْنَ لَهُمْ وَاللهُ عَلِيْمٌ بِالظَّالِمِيْنَ}
“Kalaulah mereka keluar bersama kalian, mereka tidak akan menambah-kan apapun bagi kalian selain kekacauan, mereka mencari-cari fitnah di dalam tubuh kalian dan di antara kalian ada yang suka mendengarkan mereka. Dan Alloh Maha Mengetahui akan orang-orang dzalim.” [3]
Alloh I mengarahkan ayat ini kepada para shahabat Rosululloh r bahwa di antara mereka ada yang suka mendengarkan kata orang-orang yang menghalang-halangi dari jihad. Ini bukan karena iman para shahabat itu lemah, tapi karena orang-orang yang menghalangi dari jihad itu memiliki kedudukan di tengah kelompoknya ta-pi mereka menyembunyikan isi batinnya. Saking besarnya fitnah yang ditimbulkan orang-orang yang meng-halangi ini, dan saking dahsyatnya mereka mengkaburkan antara yang hak dan batil serta meyakinkan syubhat mereka, sampai-sampai orang berimanpun terpedaya dengan kata-kata mereka. Itu sebabnya Alloh I mengingatkan manusia terbaik setelah para nabi (para shahabat) agar mewaspadai orang-orang seperti ini.
Di antara orang-orang yang menghalangi jihad adalah yang ter-cantum dalam firman Alloh I:
{فَرِحَ اْلمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُوْلِ اللهِ وَكَرِهُوْا أَنْ يُجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَقَالُوْا لاَ تَنْفِرُوْا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّاً لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ}
“Orang-orang yang tidak ikut berjihad itu merasa senang dengan kedudukan mereka di belakang Rosululloh dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Alloh serta mengatakan: “Janganlah kalian berpe-rang dalam terik panas.” Katakanlah (Hai Muhammad): “Neraka Jahannam itu jauh lebih panas,” kalau mereka mengetahui.” [4]
Jadi, orang-orang yang menghalangi dari jihad ini menggunakan semua pasukannya, baik yang berkuda atau yang berjalan kaki, dan menggunakan semua kekuatan yang mereka miliki dalam rangka menghalangi seorang hamba dari jihad. Selanjutnya, mereka melarang umat untuk berjalan di atas jalan kemuliaan dan harga diri.
Maka ketika seorang mujahid keluar untuk berjihad, berarti ia telah merealisasikan kemenangan atas orang-orang yang tidak mau ikut jihad dan menghalangi darinya.
Jadi setelah ia menang atas nafsu, syahwat dan dunianya, ia menang atas syetannya, selanjutnya ia menang atas orang-orang yang suka mempengaruhi orang lain agar lemah semangatnya dari kalangan saudara sekulit dan sebahasanya sendiri.
Makna kemenangan kelima:
Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepayahan dan kegoncangan dan komentar-komentar yang melemah-kannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu keme-nangan. Alloh I berfirman:
{يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِيْنَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ}
“Alloh meneguhkan orang-orang beri-man dengan perkataan yang kokoh ketika di dunia maupun di akhirat. Dan Alloh menyesatkan orang-orang zhalim dan Alloh mengerjakan apa yang Dia kehendaki.” [5]
Bukankah orang yang tetap teguh di atas jalan jihad dan terus melak-sanakannya serta menjadi orang-orang yang diteguhkan seperti dalam ayat ini sudah cukup untuk disebut sebagai orang yang mendapatkan kemenangan?
Benar, demi Alloh.
Betapa banyak orang yang sudah berjihad dan mendapatkan keme-nangan di medan pertempuran, akan tetapi prinsip-prinsip yang ia pegang setelah itu mengendur, kemantaban akidahnya bergeser, ia lantas hanya memperhatikan urusan syahwat dan dunianya dengan hasil yang ia peroleh dari medan jihad.
Betapa banyak kita lihat orang yang mengalami kesengsaraan dan kegoncangan melebihi orang yang sekarang masih terus berjalan di atas jalan jihad, mereka memang pantang mundur ketika di medan tempur, tetapi dunia telah mengalahkan prin-sip yang ia pegang dan kemantaban akidahnya. Ia terpalingkan oleh pengaruh-pengaruh yang rusak sehingga merubah dirinya menjadi orang yang condong kepada dunia. Dengan kekalahan prinsipnya ini, ia beralasan dengan seribu alasan. Nah, bukankah ini sebenarnya yang disebut kekalahan, dan bukankah keteguhan di atas jalan jihad adalah kemenangan hakiki?
Makna kemenangan keenam:
Ada kemenangan lain yang dicapai seorang hamba ketika ia keluar untuk pergi berjihad, yaitu ketika ia korbankan jiwa, waktu dan hartanya dalam rangka memper-tahankan prinsip-prinsip yang ia pegang, dalam rangka membela keyakinan dan agamanya.
Karena berkorban demi agama pada dasarnya adalah kemenangan itu sendiri, entah kemenangan (militer) berada di fihaknya ataukah di fihak musuhnya. Ia dikatakan menang karena ia menjadi tinggi dengan prinsip yang ia pegang teguh, ia rela berperang demi membela prinsip tersebut, ia rela mengorbankan nyawanya dengan murah demi menebusnya, itulah kemenangan hakiki walaupun ia menelan kekalahan di medan pertempuran. Alloh Ta‘ala berfirman kepada Rosul-Nya SAW dan para shahabatnya ketika mereka kalah di medan Uhud:
{وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ}
“…dan janganlah kamu merasa hina dan sedih sedangkan kalian adalah lebih tinggi…” [6]
70 orang kaum muslimin terbunuh, mereka dicincang-cincang, Rosululloh SAW sendiri terluka, sebagian lari walau kemudian Alloh ampuni mereka, tetapi semua ini tidak sedi-kitpun mengubah hakikat bahwa kaum musliminlah yang lebih mulia.
Jadi, kemuliaan atau ketinggian seorang mujahid adalah manakala ia terjun ke medan pertempuran dan mengikuti peperangan Islam, inilah sebenarnya kemuliaan dirinya. Ia telah menang atas musuhnya dengan kemuliaan tersebut.
Ketika ia melihat kaumnya yang bersenjatakan apa adanya, sudah begitu mereka miskin lagi dan tidak punya apa-apa selain iman, lantas atas dasar apakah umat ini berjihad melawan musuhnya padahal jumlah pasukan dan perlengkapannya jauh lebih kecil? Untuk tujuan apakah umat ini berjihad melawan musuhnya pada-hal kalau diukur dengan materi pasti mereka kalah? Bukankah umat ini tidak punya persenjataan yang seimbang dengan musuhnya? Tetapi umat ini terus melawan setelah melakukan persiapan semampunya, bukankah ketika umat seperti ini hanya sekedar berani melawan saja sudah cukup untuk disebut sebagai umat yang menang?
Sungguh umat yang hanya berbekal iman dalam melawan musuhnya yang dilengkapi dengan berbagai peralatan dan senjata canggih adalah umat yang menang dengan kemuliaan dan prinsip yang ia pegang.
Ketika orang yang kondisinya apa adanya seperti ini berani menghadapi persekutuan negara-negara di seluruh dunia lengkap dengan peralatan dan persenjataannya yang bertekhnologi canggih sudah cukup disebut sebagai kemenangan, yang dalam peperangan itu ia persembahkan nyawanya murah demi membela keyakinannya?
Benar, demi Alloh.
Sungguh sejarah hanya menuliskan tintanya untuk kisah kehidupan para pahlawan walaupun kesyahidan menjadi ujung kehidupannya. Adapun orang-orang yang kebanyakan cenderung kepada dunia dan rela hidup dalam kehinaan, maka sejarah tidak akan pernah sudi menulisnya, bahkan sejarah akan membencinya. Dan alangkah jauh perbedaan antara ke-duanya di sisi Alloh robbul Alamin.
Keteguhan seorang di atas jalan jihad dan di atas akidah serta prinsip yang ia rela berperang untuknya, menimbulkan kemenangan prinsip dan akidah kepada dua kelompok:
Kelompok pertama: Kelompok yang memenangkan prinsipnya atas orang-orang yang berprinsip sesat, orang-orang ahli bid‘ah dan khurofat serta faham filsafat yang berusaha mentakwil-takwilkan nash dalam rangka memalingkan orang yang berjihad dari prinsip yang ia pegang. Maka kalau seorang mujahid tetap teguh, terus berperang demi membela prinsipnya itu dan tidak memperdulikan syubhat-syubhat yang dilontarkan orang-orang sesat tadi, berarti ia telah mereali-sasikan kemenangan atas mereka.
Kelompok kedua: Ia menang dengan prinsipnya atas prinsip orang kafir, orang zindiq, orang murtad dan orang menyimpang.
Ketika ia menyatakan dengan terus terang bahwa ia sangat merindukan kematian di atas jalan yang ia yakini, dan ia menyatakan bahwa kematian sama sekali tidak mempengaruhi maju mundurnya sedikitpun, maka itu sudah termasuk kemenangan tersendiri.
Gambaran kemenangan ini dicontohkan oleh tukang sihir Fir‘aun ketika mereka diancam akan dibunuh dan disalib setelah mereka menya-takan keimanannya secara terang-terangan, Fir‘aun berkata:
(.. فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلاَفٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَاباً وَأَبْقَى)
“Benar-benar akan kupotong tangan dan kaki kalian secara bersilang dan sungguh akan kusalib kalian di pokok pohon kurma, dan kalian akan tahu siapa di antara kita yang lebih dahsyat dan lama siksaannya.” [7]
Maka para tukang sihir itu menjawab dengan penuh harga diri sebagai seorang mukmin:
{قَالُوْا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءَنَا مِنَ اْلبَيِّنَاتِ وَالَّذِيْ فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِيْ هَذِهِ اْلحَيَاةَ الدُّنْيَا}
“Mereka berkata: Kami tidak akan mengutamakan kamu di atas keterangan yang datang kepada kami dan Dzat yang menciptakan kami, maka putuskanlah sesukamu, sesung-guhnya kamu hanyalah memutuskan di dunia ini.” [8]
Dalam jawaban lain, para tukang sihir itu mengatakan:
{وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنََ}
“Dan tidaklah kamu menyiksa kami kecuali karena kami beriman kepada ayat-ayat robb kami ketika itu datang kepada kami.” Wahai robb kami, limpahkanlah kesabaran ke atas kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim.” [9]
Allohu Akbar! Alloh Mahabesar, demi Alloh I inilah kemenangan besar itu, ketika seseorang teguh di atas prinsipnya hingga mati!
Kemenangan seperti ini juga dicontohkan dalam kisah Khubaib bin ‘Adi ra ketika beliau disalib di tengah-tengah orang kafir Quraisy. Saat itu, antara dirinya dan kematian hanya berjarak beberapa saat saja, seperti diriwayatkan Abul Aswad dari ‘Urwah ia berkata:
“Setelah mereka meletakkan senjata (selesai menyiksa) dan Khubaib masih di atas kayu salib, mereka membujuknya dengan mengatakan: “Apakah kamu suka kalau posisimu sekarang digantikan oleh Muhammad?” Khubaib menjawab: “Tidak, Demi Alloh Yang Maha Agung, aku tidak rela walau beliau hanya tertusuk duri demi menebusku.”
Allohu Akbar! Alangkah besar kemenangan dan kemuliaan Khubaib ini.
Padahal betapa banyak kaum yang dibinasakan dan dihancurkan tetapi oleh Alloh I tidak diabadikan ceritanya seperti cerita mereka yang Alloh I sebut telah mencapai keme-nangan besar.
Dulu dalam kisah Ashhabul Ukhdud, orang-orang kafir membe-rikan dua pilihan kepada penduduk negeri itu yang masuk Islam, berbalik kafir atau tetap memegang prinsip tapi dibunuh dengan dibakar api. Api dunia ternyata tidak mampu mengun-durkan mereka dari prinsip yang mereka pegang. Mereka lebih memilih selamat dari api neraka di akhirat walau harus mereka bayar dengan memasuki api dunia. Maka merekapun terjun satu persatu ke dalam api, persis seperti belalang yang meloncat dengan penuh kemantaban dan perasaan rela berkorban, mereka tidak ditakutkan oleh pemandangan api yang begitu hebat. Mereka memasu-kinya demi meraih kemenangan. Ketika ada seorang wanita yang tampak ragu, ia pun mulai fikir-fikir, pemahaman tentang kemenangan hakiki hilang dari benaknya, lalu Alloh menjadikan bayi yang ia susui bisa berbicara untuk menerangkan makna kemenangan hakiki dan keberun-tungan yang besar, bayi itu berkata –sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Muslim—: “Ibu, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Akhirnya sang ibupun terjun ke dalam api bersama bayi yang ia susui.
Meskipun begitu memilukan, tapi Alloh telah abadikan kisah mereka, Alloh memuji mereka dengan pujian yang belum pernah Dia berikan kepada selain mereka yang hidup di kemudian hari, Alloh berfirman:
(إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ ذَالِكَ اْلفَوْزُ اْلكَبِيْرُ)
“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh itu bagi mereka surga-surga yang di bawahnya meng-alir sungai-sungai, itulah kemenangan yang sangat besar.” [10]
Maka, bagi setiap mukmin yang kehilangan makna kemenangan hakiki seperti wanita tadi, ayat ini, pujian ini dan kesaksian ini menerangkan kepadanya makna kemenangan yang hilang dari benaknya.
Makna kemenangan ketujuh:
Kemenangan yang selanjutnya adalah kemenangan yang Alloh berikan berupa kemenangan hujjah dan dalil.
Ini dekat dengan makna kemenangan sebelumnya. Bedanya, kemenangan ini tidak hanya dirasakan pelaku yang mendapat kemenangan ini, tapi meluas kepada orang lain, baik ketika orang itu masih hidup atau sudah meninggal. Yang penting hujjah dia tersampaikan dan memuaskan hati orang walaupun dirinya sendiri lemah dan tidak meraih kemenangan di medan tempur.
Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta‘ala mengenai kemenangan hujjah yang diraih Nabi Ibrohim AS atas kaumnya setelah sebelumnya mela-kukan perdebatan, firman-Nya:
{وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيْمَ عَلىَ قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّنْ نَّشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ}
“Dan itulah hujjah-hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim atas kaumnya, Kami mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki, sesungguhnya robbmu adalah Maha Bijaksana lagi Mahamengetahui.” [11]
Pengangkatan derajat di sini maknanya adalah keme-nangan.
Alloh juga memenangkan Nabi Ibrohim atas raja Namrud ketika ia membantah dakwah beliau, Alloh berfirman:
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ رَبِيَ الَّذِي يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ، قَالَ أَنَا أُحْيِيْ وَأُمِيْتُ، قَالَ إِبْرَاهِيْمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ اْلمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ اْلمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ، وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ}.
“Tidakkah engkau perhatikan orang yang mendebat Ibrohim mengenai robbnya, orang itu diberi kekuasaan oleh Alloh, ketika Ibrohim mengatakan: Robbku adalah yang menghidupkan dan mematikan. Orang itu berkata: Aku juga bisa mematikan dan menghidupkan. Ibrohim berkata: Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur, maka terbit-kanlah matahari itu dari barat,” maka heran terdiamlah orang kafir itu. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim.” [12]
Di dalam kisah kemenangan prinsip yang diraih pemuda Ghulam dan Ashhabul Ukhdud terdapat dalil yang jelas yang menunjukkan makna kemenangan prinsip. Saat itu, ghulam terbunuh, tetapi hujjahnya menang dan berhasil mengalahkan kekufuran raja, semua orangpun beriman kepada Alloh.
Jadi, kemenangan hujjah dari terbunuhnya ghulam dan keteguhan dia sebelum mati adalah kemenangan yang sangat nyata, ia telah kalahkan kekufuran raja pada zamannya walaupun kekufuran itu memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi kekufuran itu tetap jatuh tak berdaya di hadapan keteguhan, di hadapan prinsip dan keyakinannya yang agung.
Thoifah manshuroh (kelompok yang bakal mendapat kemenangan) itu pasti akan mendapat kemenangan, sebagaimana telah dikabarkan Rosululloh r, sebagaimana sabda beliau dalam Shohih Bukhori Muslim:
(لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِّنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَالِكَ).
“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran, tidak akan dipengaruhi oleh orang yang melemahkan semangat, hingga tiba ketentuan Alloh sementara mereka tidak berubah.”
Kemenangan di dalam hadits ini, yang paling minimal adalah kemenangan hujjah dan dalil, bisa saja diiringi kemenangan wilayah dan kekuasaan. Akan tetapi, walaupun umat Islam sendiri menyia-nyiakan kelompok ini (tidak mau membantu mereka) dan musuh bersatu padu mengha-dapinya, kelompok ini tetap saja menang.
Makna kemenangan kedelapan:
Di antara bentuk kemenangan yang Alloh I berikan kepada para mujahidin adalah dengan menghancurkan musuh mereka dengan menimpakan musibah dari sisi-Nya, musibah ini terjadi disebabkan karena jihad yang dilakukan para mujahidin.
Seringnya, mujahidin kalah menghadapi musuhnya di medan tempur, ini mengingat tidak seimbangnya kekuatan kedua belah fihak. Akan tetapi Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Karena mujahidin telah berusaha maksimal mencurahkan segala upayanya untuk menempuh sebab dan berjuang dengan kekuatan yang Alloh I berikan kepada mereka dan mereka telah melakukan I‘dad dengan serius, maka Alloh I akan menjadikan usaha dan perlawanan mereka yang tidak seberapa itu menjadi sebab kehancuran musuh mereka dengan menurunkan kegoncangan bencana dari sisi-Nya. Alloh I tegaskan hal ini dalam firman-Nya:
{كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِيْنَ}
“Betapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Alloh, dan Alloh bersama orang-orang yang sabar.” [13]
Keguncangan yang menimpa Fir‘aun lantaran jihad Nabi Musa u dan pengikutnya menjelaskan makna ini. Pada dasarnya, Alloh I bisa saja membinasakan Firaun sebelum adanya Nabi Musa u ataupun setelahnya. Di awal-awal berpalingnya Firaun dan kesombongannya, Alloh I memberikan tenggang waktu sebelum akhirnya Firaun semakin melampaui batas dan berbuat kejam, ia keluar dengan pasukan berkuda dan pasukan pejalan kakinya untuk memadamkan cahaya Alloh I.
Kenyataan di lapangan, kegon-cangan menimpa Firaun dan bala tentaranya, sebabnya adalah Nabi Musa AS, Alloh I berfirman:
{فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوْسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ}
“Maka Kami wahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatmu ke laut, maka terbelahlah laut itu, maka masing-masing sisinya laksana gunung yang besar.” [14]
{وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ}
“Dan Kami hancurkan apa yang diper-buat Firaun dan kaumnya serta apa yang mereka bangun.” [15]
Ketika Nabi r dakwah secara terbuka dan kaum Quraisy berpaling dari kebenaran, Alloh I timpakan adzab kepada mereka agar mereka mau tunduk kepada perintah Nabi SAW. Dalam Shohih Bukhori Muslim disebutkan dari ‘Abdulloh bin ‘Abbas ra bahwasanya ketika kaum Quraisy benar-benar tidak mau mentaati Nabi SAW dan beliau sendiri telah melihat kaum Quraisy sudah benar-benar berpaling, Nabi SAW berdoa agar mereka ditimpa paceklik seperti yang terjadi pada zaman Nabi Yusuf. Maka merekapun tertimpa kelaparan yang memporak porandakan segala sesuatu, sampai-sampai mereka makan kulit dan bangkai, di antara mereka ada yang memandangi langit karena saking laparnya dan tiba-tiba muncul asap di sana. Akhirnya Abu Sufyan datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Hai Muhammad, sesungguhnya engkau memerintahkan untuk mentaati Alloh dan menyambung tali silaturohim, dan sesungguhnya kaummu telah mengalami kehancuran, maka berdoalah kebaikan untuk mereka kepada Alloh.”
Alloh I berfirman:
“Maka tunggulah hingga langit datang dengan asap yang nyata. Yang meliputi manusia, inilah adzab yang pedih. Sesungguhnya Kami hanya menghilangkan azab sedikit saja, karena kalian akan kembali kufur lagi. Pada hari di mana Kami menghantam dengan siksaan yang besar, sesung-guhnya Kami Maha membalas.” [16]
Jadi, musibah apa saja yang menimpa mereka itu disebabkan oleh jihad yang dilakukan Nabi SAW. Peristiwa ini terjadi setelah hijrah dan disyariatkannya jihad. Musibah yang menimpa mereka bukan karena pasukan Rosul ketika di medan perang. Karena Rosul tidak membu-nuh kaum Quraisy lebih dari 200 orang dalam peperangan beliau mela-wan mereka. Sementara fihak Quraisy kurang lebih telah membunuh separo jumlah ini dari kaum muslimin. Akan tetapi Alloh menimpakan kegoncangan/ bencana dari sisi-Nya agar me-reka mau tunduk kepada perintah Rosululloh SAW. Dengan bencana ini, Alloh memberi petunjuk sebagian ka-um dan membinasakan sebagian kaum yang masih di atas kekufuran-nya.
Di zaman kita sekarang, hancurnya Uni Soviet mempertegas makna hakikat ini. Ditinjau di medan perang, mujahidin tidak lebih kuat dan tidak lebih banyak jumlah personelnya dari-pada Soviet. Akan tetapi, karena me-reka begitu gencar memusuhi dan membunuh wali-wali Alloh, maka bala, musibah, kemiskinan dan kerusakan datang susul menyusul sampai akhir-nya Sovietpun runtuh. Maka siapa yang mengatakan bahwa Soviet run-tuh lantaran sistem sosialis-komunis-nya, silahkan lihat masih banyak negara sosialis komunis yang masih berdiri. Kalau ada yang mengatakan bahwa Soviet runtuh karena hutang negaranya yang menumpuk, dulu sebelum Soviet runtuh Amerika lebih banyak jumlah hutangnya, apalagi hutang dalam negeri. Siapa yang mengatakan bahwa Soviet runtuh karena undang-undang militernya yang diktator, masih banyak negara yang sistem militernya jauh lebih diktator.
Kalau orang mau memperhatikan sebab-sebab keruntuhan Uni Soviet, tidak akan melihat kesimpulan lebih jelas selain bahwa penyebabnya karena mereka memerangi agama Islam dan disebabkan jihad yang dilancarkan mujahidin melawan mereka.
Kemenangan seperti ini banyak sekali dibuktikan dalam sejarah para nabi, terlalu banyak bukti sejarah untuk disebutkan di sini, semua bukti sejarah ini menunjukan bahwa penyebab utama turunnya adzab dan kehancuran musuh adalah jihadnya para mujahidin.
Jadi jihad adalah sebab utama kehancuran orang kafir dan kemenangan dari sisi Alloh Ta‘ala untuk kaum mukminin.
Kalaulah kita tidak melihat kemenangan dengan segera, sebenarnya kemenangan itu hampir saja datang.
Dalam sejarah, tidak ada satu kaum yang hancur binasa tanpa ada sebab, sedangkan bencana-bencana yang menimpa orang-orang kafir penyebabnya adalah jihad yang dila-kukan para rosul yang diutus kepada mereka, atau disebabkan jihad yang dilakukan orang-orang beriman dari kalangan hamba-hamba Alloh yang sholeh.
Makna kemenangan kesembilan:
Bentuk keme Read more..
Sep
09
Abdullah Muridusy Syahadah
Kepada Kaum Muslimin Secara umum dan para aktivis Harokah secara khusus
Di Mana Saja Berada
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه. أمَّا بعد
Puja dan puji syukur hanya untuk Allah. Rob semesta alam. Yang telah berfirman:
“Ikutilah apa yang Telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”. (QS. Al An’am: 106)
Sholawat serta salam kita haturkan ke atas junjungan nabi kita Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Yang telah bersabda:
اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا : ِلمَنْ ؟ قَالَ : ِللهِ, وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ
“Dien itu Nasehat. Kami bertanya: Bagi siapa? Beliau bersabda: “Bagi Allah, Kitabnya, Rosul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi kaum muslimin pada umumnya”. (HR. Muslim).
Ikhwah fillah …..
Dalam Risalah dan Nida’at yang ke-9 ini, saya menghadirkan ke tengah-tengah antum sekalian satu tema “WAHAI PARA PENGGEMBOS DAN PENCACAT! SILAHKAN KAU CELA AKU!!!!!”
Tema ini adalah hasil perenungan dari pengalaman dan pelajaran yang saya ambil di dalam perjalanan hidup saya semenjak memulai menapaki jalan jihad fie sabilillah ini. Juga kejadian-kejadian yang dialami oleh sebagian ikhwah mujahidin.
Memang aku sadar, ketika mulai aku tancapkan niatan dalam hati untuk berjihad, maka terbayang olehku mulut-mulut Mukhodzilun (Penggembos) dan Murjifun (Pencacat) itu akan berceloteh, tiang-tiang gantungan akan dipasang oleh thoghut, pintu-pintu penjara dibuka lebar-lebar, selalu dipantau dan dikejar-kejar oleh musuh. Aku sadar itu dan ternyata itu tidak hanya menjadi bayangan saja, akan tetapi menjadi kenyataan.
Dari awal sudah aku sadari bahwa dalam perjalanan ini akan nampak siapa pembela dan siapa musuh. Baik musuh dari kalangan Kafir Asli maupun Kafir Murtad dan Munafiq, serta musuh dari kalangan aktivis haroki sendiri yang notabena mereka mengenal kita. Yang hati mereka dihinggapi penyakit WAHN dan HASAD. Wal ‘iyadzu billah
Ikhwah fillah …..
Risalah dan Nida’at ke-9 ini semoga bisa menjadi ibroh dan pelajaran buat para ikhwah yang juga bercita-cita untuk berjihad dan mati syahid fie sabilillah. Sebuah pelajaran yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang menapakinya, sebuah pelajaran yang hanya dapat difahami oleh orang yang menjalaninya. Dan akan memperkokoh pendirian dan azam (tekad) bagi para penitinya hingga ia mendapat dua kebaikan “Kemenangan atau Mati Syahid”.
Ikhwah fillah …..
Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Maidah: 54).
Di dalam ayat ini Allah menerangkan tentang ciri-ciri dan sifat Hizbullah (Kelompok Allah) dan Jundullah (Tentara Allah). Ciri-ciri tersebut adalah:
- Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah
- Bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin
- Bersikap keras terhadap orang-orang kafir
- Berjihad fie sabilillah
- Tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela
Inilah beberapa sifat mendasar bagi Jundullah.
Ikhwah fillah …
Tentunya kita semua ingin menjadi Jundullah dan Hizbullah. Dan ternyata banyak orang yang bercita-cita menjadi Jundullah, walau pun pada realitanya mereka menjauhkan diri dari cita-citanya itu. Antara Idea dan Realita sungguh sangat berbeda. Mereka ingin mendapat predikat Jundullah namun jalan yang ditempuh bukan jalan Jundullah. Ia tidak sadar bahwa kapal tidak akan mungkin dapat berlayar di atas pasir.
Jika diringkas, pendek katanya adalah bahwa ayat ini menerangkan tentang jatidiri seorang Jundullah (Mujahid).Bahwa:
Seorang jundullah adalah orang yang sangat mencintai Allah, hingga Allah pun mencintainya. Kecintaannya kepada Allah lebih besar daripada kecintaannya kepada yang lain-Nya, walau pun terhadap dirinya sendiri. Karena ia faham dengan firman Allah3
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”. (QS. Al Baqoroh: 165).
Karena kecintaanya kepada Allah lah sehingga ia mengorbankan segala yang ia miliki untuk menolong Allah dan membela agama-Nya, hingga nyawa pun ia korbankan demi kecintaannya kepada Allah.
Seorang jundullah adalah orang yang sangat lemah lembut dan kasih sayang terhadap orang mukmin. Ia mencintai saudaranya mukmin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Karena ia faham dengan sabda shollallahu ‘alaihi wasallam:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah satu dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhori dan Muslim).
Subhanallah …… Maha Suci Allah. Beginilah sifat seorang mujahid. Ia korbankan dirinya dan nyawanya demi membela saudaranya yang terdzolimi dan terbantai. Demi membela kehormatan seorang muslimah yang dijamah oleh tangan-tangan musuh durjana la’natullah ‘alaihim. Walau pun orang-orang menganggapnya sebagai “Orang yang bersemangat dan orang yang isti’jal (tergesa-gesa)”. Dls.
Seorang jundullah adalah yang bersikap keras kepada orang-orang kafir (baik kafir asli maupun murtad). Ia bersikap keras di dalam masalah aqidah, lalu ia bersikap keras di dalam sikap dan perbuatan yang diimplementasikan di dalam Jihad fie sabilillah.
Di antara sikap keras terhadap orang kafir di dalam aqidah dan perbuatan adalah seperti yang dicontohkan oleh Nabi Allah Ibrahim ‘alaihis salam:
“Sesungguhnya telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (Al Mumtahanah: 4)
Adapun tata cara bersikap tegas dan keras kepada musuh adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah:
- Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah
- Engkau meninggalkannya
- Engkau membencinya
- Engkau mengkafirkan pelakunya
- Dan engkau memusuhi para pelakunya
Hari ini tidak ada yang bisa mengamalkan sikap seperti ini kecuali para mujahidin dan para Da’i Tauhid yang jujur di dalam dakwahnya. Karena zaman sekarang ada orang yang tidak mau berjihad, ia mengambil peran di bidang dakwah, akan tetapi dakwahnya tidak jujur. Katanya mendakwahkan tauhid akan tetapi mencela Da’i tauhid yang dengan tegas mendakwahkan tauhid. Katanya mendakwahkan tauhid akan tetapi bermudahanah (bertoleransi) kepada thoghut. Katanya keras kepada thoghut akan tetapi malah bergandengan dengan thoghut. Seperti ada kasus seorang pemimpin ormas Islam yang notabene mempunyai misi menyerukan dakwah tauhid dan mengikut manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, akan tetapi dia menjadi Tim Sukses salah satu CAPRES (Calon Presiden). Bahkan dia mengadakan hubungan dengan badan-badan yang notabene milik thoghut. Sementara paraFANATISANnya mengatakan “Itu hanya untuk wasilah saja agar dakwah kita lancar dan tidak dicurigai”. Dakwah tauhid macam apa ini? Sementara mereka mencaci dan mencibir orang yang secara tegas menyampaikan dakwah tauhid. Wal ‘iyadzu billah
Dalam faktanya, ormas ini melarang para binaannya untuk menghadiri sebuah bedah buku yang diadakan oleh sebuah Organizer yang bertemakan “SURAT KEPADA PENGUASA” (Sebuah buku yang membahas tentang kafirnya penguasa negeri ini karena tidak berhukum dengan hukum Allah). Karena dianggap forum ini bertentangan dengan misi dan visinya. Wal ‘iyadzu billah.
Memang kadang bahasa lisan itu berbeda dengan bahasa tubuh. Lisannya mengatakan mendukung dakwah tauhid, akan tetapi bahasa tubuhnya menyelisihi. Bahkan ada yang secara terang-terangan mencela dan memojokkan para mujahidin dan para da’i tauhid. Bahasa lisannya mengatakan cinta dan mendukung mujahidin, akan tetapi bahasa tubuhnya menampakkan kebencian dan celaan. Wal ‘iyadzu billah.
Seorang Jundullah (mujahid) adalah ia berjihad fie sabilillah.
Yang dimaksud jihad fie sabilillah di sini adalah memerangi orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimah Allah. Singkatnya adalah jihad fie sabilillah adalah Memisahkan kepala musuh dari raganya, atau mengeluarkan nyawa musuh dari jiwanya.
Adapun penopang yang masuk dalam mata rantai jihad sungguh sangat banyak sekali.
Yang dimaksud MATA RANTAI JIHAD adalah ikatan dan atau hubungan yang dapat mensukseskan Amaliyat (Operasi) jihad fie sabilillah. Mata rantai itu di antaranya adalah:
- Pengkaderan
- Sumber daya mujahid
- Sumber dana mujahid
- Anshor
Penjabarannya adalah:
- 1. Pengkaderan
Yang kita maksud pengkaderan di sini adalah pengkaderan personal yang siap menjadi mujahid. Yang siap diikut sertakan dalam amaliyat jihadiyah. Baik di dalam maupun luar negeri. Baik jihad konvensional maupun gerilya. Pengkaderan ini bisa melalui beberapa sarana:
- Pondok pesantren
- Halaqoh taklim
- Dls
Dengan catatan bahwa pondok pesantren, Halaqoh taklim dan yang lain itu betul-betul mencetak santri dan binaannya untuk menjadi mujahid.
Sebuah kisah:
Seorang ustadz menasehati salah seorang santrinya. Ustadz itu mengatakan: “Buat apa saya membuat pondok pesantren kalau bukan untuk mencetak kader yang siap untuk Iqomatud Dien (menegakkan Dien)? Saya ini dituduh sebagai Qo’idun (orang-orang yang duduk dari jihad) dan Murji’ah”. Ustadz tersebut bermaksud mengarahkan pada santrinya bahwa ia ingin mencetak kader mujahid.
Dalam faktanya ustadz tersebut tidak jujur dengan perkataannya. Bahasa lisan dengan bahasa tubuh tidak sama.
Faktanya: Ketika ada salah seorang santri pondok keluar dengan misterius (menurut ustadz) tersebut. Ditambah lagi ada kasus seorang ustadz di sebuah pondok keluar dari pondok dengan misterius juga. Ustadz itu pun kebakaran jenggot dan berang. Ustadz tersebut berkata: “Saya sadar bahwa pondok ini ada yang menggerogoti”.Trus ustadz tersebut berkata: “Orang-orang yang berjihad hari ini adalah orang-orang yang tidak sabar”. Dls. Wal ‘iyadzu billah.
Mestinya jika ustadz tersebut jujur bahwa dia mendirikan pondok pesantren itu untuk mencetak kader mujahid, maka mestinya ia berlapang dada dengan santrinya yang bersemangat untuk berjihad. Jika santrinya ingin pergi berjihad walaupun tidak melalui jalurnya maka hendaknya ia merestui dan mendukung. Dan jika ada orang lain dan atau Tandzim jihad yang mengajak santrinya berjihad, mestinya ia izinkan santrinya berjihad. Bukan dihalang-halangi.
Jadi fungsi pondok dan halaqoh ta’lim adalah untuk mencetak mujahid.
Ibarat jama’ah jihad itu sebagai senjata api “M 16”, maka pondok pesantren dan halaqoh ta’lim berfungsi sebagaiMagazine yang berfungsi untuk menyimpan peluru-peluru yang siap ditembakkan. Bukan menjadi magezin yang menyimpan peluru yang mejen (mis fayer).
Jika memang pondok pesantren dan halaqoh ta’lim itu memang berfungsi sebagai kantong mujahid, maka duduknya para ustadz yang membina di situ bukan menjadi Qo’idun. Akan tetapi ia menjadi mujahid yang bertugas untuk mengkader generasi mujahid. Sebagaimana firman Allah:
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. At-Taubah: 122).
- 2. Sumber Daya Mujahid (SDM)
Yang dimaksud SDM adalah kader-kader yang siap menjadi mujahid. Ini sudah diterangkan di dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.
- 3. Sumber Dana Jihad (SDJ)
Yang dimaksud SDJ adalah sumber dana yang dimanfaatkan untuk jihad dan mujahidin. Bisa melalui uang infak yang diambil dari para binaan, maupun membuat perusahaan yang uangnya khusus buat operasional jihad. Ini sudah dibahas dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.
- 4. Anshor
Yang dimaksud Anshor adalah Menjadi penolong dan pembantu mujahidin. Baik bantuan Moril maupun Materiil. Seperti memberi tempat untuk mujahidin, dls. Ini juga sudah dibahas dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.
Jika keberadaan kita seperti dalam mata rantai jihad ini. Maka sesungguhnya keberadaan kita pada saat itu adalah sebagai seorang mujahid, walau pun kelihatannya kita duduk-duduk di dalam rumah bersama istri dan anak kita. Karena jihad yang sedang dilakukan mujahidin hari ini adalah Harbul ‘Ishobat (Perang Grilya). Perang gerilya membutuhkan pergerakan yang seaman mungkin dan senyaman mungkin sehingga nampak seakan-akan orang yang berjihad tidak Nampak bahwa ia sedang berjihad. Ia memukul musuh akan tetapi orang lain melihatnya sedang duduk-duduk santai di rumah. Bukankah begitu wahai akhie?
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang Telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Anfal: 72).
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia”. (QS. Al Anfal: 74).
Sudahkah kita mengambil perang seperti di dalam ayat ini? Peran kita adalah Menjadi Mujahid Anshor maupun menjadi Mujahid Muhajir. Memberi tempat tinggal dan pertolongan adalah peran yang diambil oleh mujahid Anshor.
Seorang jundullah adalah yang Tidak Takut Celaan Orang Yang Suka Mencela.
Di dalam perjalanan sang mujahid, pasti akan mendapatkan ujian dan tantangan, celaan dan cercaan, baik dari kalangan orang-orang kafir asli maupun kafir murtad, dari kalangan kaum muslimin awwam mau pun muslimin ulama, dari orang yang tidak mengenal sampai kawan akrab. Itu sudah menjadi sunnatullah.
Apalagi bagi para mujahidin yang hari ini berjihad di negeri seperti ini. Yang menurut anggapan kebanyakan orang bahwa negeri ini adalah negeri Islam, kita berjihad di sini dengan jihad Dakwah bukan Jihad senjata. Wal ‘iyadzu billah
Berjihad di sebuah Negara murtad yang menurut kebanyakan orang yang berfaham Murjiah mengatakan “bahwa system negara ini kafir akan tetapi penguasanya muslim. Karena penguasanya Jahil dan Belum Tersampaikan Hujjah”. Wal ‘iyadzu billah
Berjihad di tengah-tengah tekanan penguasa murtadz yang gencar melakukan permusuhan dan penindasan kepada para mujahidin.
Berjihad di tengah-tengah para aktifis harokah yang phoby akan jihad, walau pun sebagian mereka ada yang mengaku bahwa tandzimnya adalah tandzim jihad. Wal ‘iyadzu billah
Celaan-celaan itu datang dengan bertubi-tubi dan tak habis-habisnya. Dan menyebarkan issu yang menyesatkan ummat dengan menyebar fitnah murahan. Para mujahidin diposisikan seakan-akan sebagai musuh, dan memposisikan orang-orang yang bermudahanah dengan thoghut sebagai pahlawan. Wal ‘iyadzu billah.
Sebuah kisah:
Seorang ustadz berceramah di hadapan para mustami’. Dia mengatakan: “Saya pernah membesuk para ikhwah tersangka peledakan kedubes Australia. Pada saat saya datang membesuk, tangan mereka terborgol. Lalu saya katakan kepada mereka: “Antum baru bisa menjebol pagarnya saja. Jika kita bersama-sama maka kita akan dapat jebol dalamnya”. Maksud ustadz tersebut adalah meremehkan kerja keras dan kerja besar yang dilakukan oleh para ikhwah mujahid ini. Karena di dalam faktanya ustadz ini tidak ada sama sekali Mu’awanahnya kepada para mujahidin di dalam mensukseskan satu Amaliyat Jihadiyah. Tidak ikut andil dalam menyusun strategi untuk memukul musuh. Bahkan dia selalu me-Warning orang dengan kata-kata: “Hati-hati dengan Si A. hati-hati dengan Si B”. Wal ‘iyadzu billah.
Sebuah kisah:
Seorang ustadz mengajar di kelas santriwati. Dalam pengajarannya itu seorang ustadz mengatakan:“Sesungguhnya jihad itu tujuannya bukan mencari syahid, akan tetapi berjihad itu untuk mencari ridho Allah”.(Ustadz ini bermaksud memojokkan para ikhwah mujhaid yang selama ini menggelorakan semangat jihad dengan ingin mendapatkan syahadah dan 72 bidadari).
Mendengar celotehan ustadz ini para santriwati ini bingung dan berbisik-bisik antara temannya: “Sebenarnya ustadz ini maksudnya apa?” Dan pada kesempatan yang lain ustadz ini berkata: “Bom Bali itu bukan jihad. Karena tidak pakai izin Amir”. Dan pada kesempatan yang lain ustadz ini mengatakan: “Saya tidak berani mengatakan bahwa Bom Bali itu termasuk jihad, juga saya tidak berani mengatakan bahwa Bom Bali itu bukan jihad”. Kata-kata ini diungkapkan oleh ustadz tersebut guna menggembosi dan menjelekkan amal jihad yang dilakukan oleh para ikhwah mujahid. Na’udzu billahi min dzalik.
Sebuah kisah:
Seorang ustadz menasehati seorang santrinya yang mempunyai semangat berjihad. Ustadz tersebut berkata:“Kalau kamu mau berjihad maka kamu harus Tholabul ilmi dulu. Jihad itu tidak hanya modal semangat saja. Sesungguhnya orang-orang yang berjihad sekarang itu kurang sabar dan isti’jal”. Ini adalah perkataan yang benar akan tetapi diarahkan kepada yang batil. Karena ustadz ini sebenarnya mau mengatakan: “Kamu tidak usah ikut berjihad dengan orang-orang yang berjihad itu”. Akan tetapi untuk memoles kata-katanya maka ia bersilat lidah dengan seperti itu. Karena faktanya mengatakan seperti itu. Wal iyadzu billah
Semua kisah di atas adalah beberapa contoh yang dapat terekam oleh para ikhwah di lapangan. Baik rekaman elektronik maupun rekaman otak dan hafalan mereka. Adapun kenyataannya sikap dan komentar para Mukhodzilun dan Murjifun itu lebih pedas lagi. Mereka bermaksud memadamkan kobaran semangat api jihad yang membara di dada kaum muslimin. Mereka tidak sadar bahwa kobaran semangat api jihad ini tidak akan pernah padam walau pun seluruh manusia di jagad raya ini bersatu padu untuk memadamkannya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. Ash Shoff: 8).
Dan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ. لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَلاَ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتىَّ تَقُومَ السَّاعَةُ وفي رواية مسلم : لاَ يَزَالُ أَهْلُ الْغَرْبِ
“Akan selalu ada sekelompok dari ummatku yang dzohir diatas kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang menyelisihi dan mentelantarkan mereka hingga terjadi qiamat, dan diriwayat Muslim berbunyi: “Akan senantiasa ada ahlul ghorb” (orang-orang barat). (Majmu’ Fatawa, XIII / 531).
Para mujahidin ini selalu ada dan akan selalu ada. Tidak membahayakan bagi mereka celaan orang yang suka mencela dan cacian orang yang suka mencacat. Tidak membahayakan sama sekali ulah para Mukhodzilun dan Murjirun.
Wahai para Mukhodzilun dan Murjifun …..
Sesungguhnya sikap sinis dan tuduhan-tuduhan serta fitnah-fitnah yang kalian lancarkan terhadap mujahidin itu tidak sama sekali dapat memadhorotkan jihad dan mujahidin. Bahkan Allah akan mendatangkan para pembelanya untuk berdiri di kalangan mujahidin. Karena Allah berfirman:
“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dandigantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At Taubah: 39)
“Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini”. (QS. Muhammad: 38)
Sesungguhnya penggembosan dan cercaan yang kalian lakukan terhadap mujahidin hari ini tidak akan mengundur kemenangan mujahidin. Juga tidak dapat mengajukan kekalahan mujahidin sedikit pun. Karena Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْئٍ لمَ ْيَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ. وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْئٍ إِلاَّ بِشَيْئ ٍقَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ. رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Ketahuilah bahwa seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepadamu. dan seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang merugikan kamu, maka mereka tidak akan bisa merugikanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah terhadapmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering tintanya”. (HR. Tirmidzi).
Wahai para pembela mujahidin….. wahai para pendukung mujahidin ….. wahai orang-orang yang ingin berjihad bergabung dengan para mujahidin …..
Teguhkanlah hatimu, kuatkanlah azammu, tak usah kau hiraukan suara penggembos dan pencacat. Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.
Manusia itu akan berkumpul sesuai dengan kecondongan hati dan imannya. Jika hatinya cinta kepada jihad dan mujahidin maka ia pasti akan dapat berjihad dan bertemu dengan mujahidin. Jika tidak dapat bertemu di dunia pasti bertemu di Jannah kelak. Jika hatinya benci kepada jihad dan mujahidin, maka ia akan dijauhkan dari jihad dan mujahidin dan akan dikumpulkan bersama para Qo’idun, Mukhodzilun dan Murjifun.
Kumpulan kambing akan berkumpul dengan kambing. Kumpulan singa akan berkumpul dengan singa. Tidak mungkin kambing dapat berkumpul dalam kumpulan singa. Itu mustahil….. itu ajaib …..
Ingatlah wahai saudaraku para pembela mujahidin, para pendukung mujahidin ….. Bahwa sekarang banyak para ustadz dan ulama, dan atau para pemimpin yang dengan menggunakan nama besarnya karena ia pernah berjihad di Afghanistan, Philipina, Ambon dan Poso, ia menyihir para pengukitnya untuk tidak berjihad. Ia bersikap bak seoarang mujahid dan pendukung jihad, akan tetapi di belakang ia tusuk para mujahidin dengan mulut berbisanya yang mematikan.
Dengan menggunakan kebesaran namanya di tengah-tengah pengikutnya ia pojokkan mujahidin, ia cela mujahidin, walau pun dalam kata-katanya ia sering mengatakan: “Kita tidak boleh mencela mereka, dan jika mereka datang meminta bantuan maka kita bantu”. Walau pun kenyataannya bohong belaka.
Para ustadz, ulama dan pemimpin seperti ini tidak ubahnya seperti PELAWAK, yang kerjanya menyenangkan orang yang menontonnya. Di depan para mujahidin ia akan mengatakan bahwa dia membela, mencintai dan mendukung mujahidin. Bahkan dia merasa bagian dari mujahidin. Namun ketika bertemu dengan orang-orang yang tidak setuju dengan jihad dan mujahidin maka ia berceloteh yang difahami oleh orang-orang yang tidak senang dengan jihad itu bahwa “Para mujahidin itu bukan orang-orang yang disiplin, isti’jal, tidak sabar, dan lain sebagainya”.
Dengan menggunakan tingginya jabatan dan banyaknya pengikut ia katakan: “Tidak mungkin di dalam suatu wilayah terdapat dua Tandzim Jihad, dan “Jihad itu harus melalui Tandzim yang terpimpin”. Ia maksudkan bahwa tandzim jihad selain tandzimnya adalah menjadi pelemah tandzim jihad yang sudah ada. Padahal jika kita teliti, sungguh perkataan ini tidak ada sama sekali didukung oleh nash syar’ie dan waqi’.
Jika perkataan ustadz ini benar, maka tidak mungkin di Afghanistan terdapat tandzim-tandzim jihad selain Tholiban. Tidak akan mungkin ada tholiban dan Al Qoidah di dalam satu wilayah. Sesungguhnya tandzim-tandzim jihad yang ada hanyalah menjadi sarana memudahkan di dalam mengkoordinasi mujahidin dan program jihad. Di lapangan mereka saling Mu’awanah dan Munashoroh. Sebagaimana Tholiban memberikan bantuan dan pertolongannya kepada Al Qoidah. Jika di Afghanistan menerapkan faham ustadz yang mengatakan: “Tidak mungkin di dalam suatu wilayah terdapat dua Tandzim Jihad”, niscaya Tholiban memaksa Al Qo’idah untuk melebur ke dalam satu tandzim, yaitu Imaroh Islamiyah Tholiban.
Walau pun demikian, al-Qo’idah hormat dan setia terhadap Imaroh Islamiyah Thaliban. Namun secara administratif dan koordinasi di lapangan mereka berjalan sendiri-sendiri sesuai protap tandzim. Dan terjalin hubungan baik di lapangan antar kedua tandzim ini. Mereka saling Mu’awanah dan Munashoroh. Tidak saling menyalahkan dan melemahkan.
Jika Tholiban berfikiran bahwa “Gara-gara usamah menyerang WTC, dengan itu Afghanistan diserang Amerika”.Niscaya Syekh Mulla Umar hafidzohullah tidak mungkin menerima syekh Usamah bin Ladin dan para pengikutnya di Afghanisnistan. Namun syekh Mulla Umar sadar bahwa Amerika menyerang Afghanistan bukan karena ada Usamah, akan tetapi karena Islam.
Andai para ustadz dan pemimpin jama’ah di negeri ini sadar, bahwa Pemerintah murtad ini mengejar, menangkap, memenjara dan membunuh para mujahidin adalah bukan karena ada Bom Bali, dan aksi Bom-Bom lainnya. Akan tetapi karena Islam yang dibela, kehormatan kaum muslimin yang dibela. Niscaya tidak akan pernah keluar kata-kata cacian dan cemoohan terhadap mujahidin.
Namun jika masih tetap ada yang menggembosi, mencemooh, mencacat dan mencela. Maka saya sampaikan firman Allah Ta’ala:
“Katakanlah: “Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan[1]. Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, Sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS. At Taubah: 52).
Kita buktikan kelak siapa yang benar di antara kita. Jika kita sama-sama ikhlas di dalam berjuang untuk Iqomatud Dien maka pasti kita akan bertemu dan bersatu. Walau pun untuk kali ini kita tidak bisa bersatu. Namun jika memang ada niatan jahat dan hasad di dalam dada, maka sesungguhnya Amal kita yang akan menjawab semuanya.
Ikhwah fillah …..
Sudah wajar kebaikan itu akan dicela dan dicerca. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pun tidak kelewatan di cela dan dihina. Sejak beliau menerangkan dakwah Tauhid, maka beliau dianggap Tukang Sihir yang gila, dikatakan pemecah belah. Dls
Sekarang ketika kita mentahridh (mengobarkan semangat) jihad kaum muslimin kita dikatakan Provokator, Penggrogot, Teroris, dls. Maka jika karena kita mengobarkan semangat berjihad kita dikatakan provokator, dan jika kita berjihad dikatakan Teroris, maka katakanlah bahwa “Kita adalah Teroris”. Karena Allah Ta’ala berfirman:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan / menteror musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Anfal: 60).
Ikhwah fillah …..
Hendaknya kita yakin dengan janji dan pertolongan Allah, jika memang apa yang kita lakukan ini benar. Walau pun para Mukhodzilun menggembosi. Walau pun para Murjifun mencaci maki.
Kita akan bersabar dan akan tetap berjalan di atas jalan ini, walau pun tubuh kita terkoyak, walau pun raga kita tercabik-cabik. Kita hanya bisa berharap kepada Allah
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ
Demikian sesingkat Risalah dan Nida’at yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat buat kita semua. Amien
Tidak ada niat saya kecuali hanya kebaikan. Dan tidak ada yang dapat memberikan Taufiq kecuali hanya Allah.
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ. نِعْمَ اْلمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى رَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Bumi Allah, 26 Mei 2009 M.
1 Jumadil Akhir 1430 H.
Diambil dari : http://ishoba.wordpress.com/2010/08/09/wahai-para-penggembos-dan-pencacat-silahkan-kau-cela-aku/#more-1656
Read more..
Sep
06
Syaikh Yusuf bin Sholih Al-‘Uyairiy
Hari ini, seluruh dunia –kecuali yang dirahmati Alloh— berdiri satu barisan dengan kekuatan ediologinya, politiknya, ekonominya, informasinya, teknologi dan nasionalismenya, dan dengan segala kekuatannya, di hadapan salah satu syiar agama kita yang hanif (lurus), syiar itu adalah jihad fi sabilillah. Sebuah syiar yang Alloh wajibkan kepada kita dengan firman-Nya:
{كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ}
“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu kalian tidak suka; bisa jadi kalian tidak suka kepada sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Alloh Maha tahu sedangkan kalian tidaklah mengetahui.” 1
Juga dengan firman-Nya:
{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّم وَبِئْسَ الْمَصِيْر}
“Wahai Nabi, jihadlah melawan orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah kepada mereka, tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan sungguh itu sejelek-jelek tempat kembali.” 2
Dan firman-Nya:
{قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلاَ بِاْليَوْمِ اْلآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَلاَ يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُوْنَ}
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, tidak mengharamkan apa yang Alloh dan rosul-Nya haramkan dan tidak menganut agama yang benar (Islam) dari kalangan ahli kitab, sampai mereka membayar jizyah dari tangan sementara mereka dalam keadaan hina.” 3
Dalam ayat terakhir yang turun tentang jihad, Alloh berfirman menegaskan kewajiban ini:
{فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}
“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Mahapenyayang.” 4
Orang-orang kafir berusaha menghapus syiar jihad ini dan memberikan label kepadanya dengan label terorisme dan tindak kejahatan, menjuluki para pelakunya sebagai kaum teroris, orang-orang ekstrim, fundamentalis dan radikal.
Ditambah lagi, orang-orang munafik ikut membantu mereka dengan menjelekkan dan menghalang-halangi jihad dengan cara-cara syetan, ada yang mengatakan jihad dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensive), tidak ada jihad ofensiv (menyerang terlebih dahulu). Ada juga yang mengatakan bahwa jihad disyariatkan hanya untuk membebaskan negeri terjajah. Ada juga yang mengatakan bahwa jihad menjadi wajib kalau sudah ada perintah dari penguasa –padahal penguasa itu menjadi antek yahudi dan salibis—. Sekali waktu ada yang mengatakan bahwa jihad sudah tidak relevan untuk zaman kita sekarang, zaman kedamaian dan undang-undang baru internasional, Na`udzubillah min dzalik, kita berlindung kepada Alloh dari kesesatan-kesesatan ini.
Meski ada saja alasan, dorongan, istilah-istilah munafik dan kufur berbentuk apapun yang bertujuan menghapus panji jihad, kalau dirunut ujungnya sebenarnya jalan jihad ini –sejak zaman Rosul r — sudah jelas bagi umat Islam, rambu-rambunya sudah ditetapkan, pemahaman dan fikihnya sudah gamblang, kita tidak perlu lagi menambahkan pemahaman-pemahaman jihad yang baru yang tidak bias diselewengkan oleh siapapun, baik di belahan bumi timur maupun barat.
Khazanah kita sudah terlalu cukup untuk ditambahi, dari khazanah itulah kita menimba rukun, syarat, kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan dan sunnah-sunnah dalam urusan jihad, kita juga mengambil pilar-pilar disyariatkannya jihad dari khazanah tersebut.
Lebih dari itu, Alloh dan rosul-Nya r telah mengkhabarkan bahwa jihad akan terus berlangsung sampai nanti Alloh wariskan bumi dan penduduknya kepada orang-orang sholeh. Khabar dari Alloh dan rosul-Nya ini termasuk perkara baku yang tidak kami ragukan lagi dan tidak akan kami tanyakan kepada siapapun setelah Alloh dan rosul-Nya r menegaskan hakikat ini.
Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini dari Al-Quran dan Sunnah sangatlah banyak, seperti firman Alloh Ta`ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ، يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ذَالِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ}
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, Alloh akan datangkan satu kaum yang Dia cintai dan merekapun mencintai-Nya, lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir, mereka berjihad di jalan Alloh dan tidak takut celaan orang yang mencela. Itulah anugerah yang Alloh berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” 5
Firman Alloh: “…mereka berjihad…” menunjukkan jihad akan terus berlangsung, konteks ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja meninggalkan sifat-sifat dalam ayat ini, Alloh akan datangkan kaum lain yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai Alloh, merekalah yang akan menyandang sifat-sifat tadi.
Alloh juga berfirman:
{وَقَاتِلُوْهُمْ حَتَّى لاَ تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ}
“Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya menjadi milik Alloh, jika mereka berhenti maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” 6
Makna fitnah di sini adalah kekufuran, jadi perang akan terus berlangsung sampai tidak ada lagi kekufuran. Para ulama mengatakan: Kekufuran di muka bumi tidak akan pernah habis kecuali di zaman Nabi Isa turun di akhir zaman, di saat beliau menghapus jizyah dan mematahkan salib serta membunuh babi, beliau hanya menerima Islam. Setelah itu Alloh wafatkan beliau beserta orang-orang beriman yang mengikuti beliau, saat itulah tidak ada di muka bumi yang mengucapkan “Alloh, Alloh,” maka kiamatpun terjadi menimpa makhluk paling buruk saat itu.
Lebih menegaskan bahwa jihad ini akan terus berlangsung, Alloh Ta`ala berfirman dalam ayat jihad yang terakhir turun, yaitu ayatus Saif (ayat pedang):
{فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}
“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Mahapengampun lagi Maha Penyayang.” 7
Dalam Al-Quran, ayat yang menunjukkan terus adanya jihad sangatlah banyak.
Adapun dalil terus berlangsungnya jihad dalam As-Sunnah, maka lebih banyak lagi. Di antaranya adalah sabda Rosul r sebagaimana diriwayatkan Al-Jama`ah serta yang lain, dari ‘Urwah Al-Bariqi t ia berkata, Rosululloh r bersabda,
(اَلْخَيْلُ مَعْقُوْدٌ فِيْ نَوَاصِيْهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْأَجْرُ وَاْلمَغْنَمُ)
“Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, yaitu pahala dan ghanimah.”
Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika Bukhori menjadikan hadits ini sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad baik bersama orang jahat ataupun orang baik, “Sebelumnya, Imam Ahmad sudah lebih dahulu menjadikan hadits ini sebagai dalil (terus berlangsungnya jihad), sebab Nabi r menyebutkan terus adanya kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, kemudian beliau maknai kebaikan itu dengan pahala dan ghanimah, sedangkan ghanimah yang disejajarkan dengan pahala pada kuda hanya terjadi ketika ada jihad. Hadits ini juga berisi anjuran berperang dengan menggunakan kuda. Juga berisi kabar gembira akan tetap bertahannya Islam serta pemeluknya hingga hari kiamat, sebab ada jihad berarti ada mujahidin, mujahidin sendiri adalah orang-orang Islam. Hadits ini senada dengan hadits yang berbunyi: “Akan senantiasa ada satu kelompok umatku yang berperang di atas kebenaran.” Al-Hadits.” Sampai di sini perkataan Ibnu Hajar secara ringkas.
Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarah Shohih Muslim-nya ketika mengomentari hadits ini, “Sabda Rosululloh r: “Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat,” ditafsirkan oleh hadits lain dalam hadits shohih: “Kebaikan itu adalah pahala dan ghanimah.” Hadits ini menunjukkan bahwa Islam dan jihad akan tetap eksis hingga hari kiamat, maksud hingga hari kiamat adalah hingga sesaat sebelum kiamat terjadi, yakni ketika datang angin harum dari Yaman yang mencabut nyawa setiap mukmin, laki-laki maupun perempuan, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits shohih.”
Sampai di sini perkataan An-Nawawi.
Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan yang lain dari Anas bin Malik ra ia berkata, Rosululloh r bersabda,
(وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِيْ الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُهُ جُوْرُ جَائِرٍ وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ)
“Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kejahatan orang jahat ataupaun keadilan orang adil.”
Menerangkan hadits ini, penulis kitab `Aunul Ma`bud (Syarah Sunan Abu Dawud) mengatakan: Hadits yang berbunyi: “Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku,” Maksudnya sejak dimulainya era di mana aku (Rosululloh) diutus, “hingga umatku yang terakhir” maksudnya adalah Nabi Isa atau bisa juga Imam Mahdi, “…memerangi Dajjal…” Dajjal dalam konteks hadits di sini sebagai kata obyek. Setelah Dajjal terbunuh, selesailah sudah jihad. Mengenai peristiwa Ya’juj dan Ma’juj, jihad tidak dilakukan karena tidak mungkin bisa melawan mereka, dalam kondisi seperti ini jihad tidak wajib atas kaum muslimin berdasarkan nash ayat surat Al-Anfal. Adapun setelah Alloh binasakan Ya`juj dan Ma`juj, tidak ada lagi orang kafir di muka bumi selama Nabi Isa masih hidup di bumi. Adapun orang yang kembali kafir setelah kematian Nabi Isa u, mereka tidak diperangi karena baru saja kaum muslimin seluruhnya diwafatkan dengan hembusan angin harum dan karena orang-orang kafir terus ada hingga hari kiamat. Inilah pendapat Al-Qoriy. Al-Munziri tidak mengomentari hadits ini.” Selesai perkataan beliau.
Sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad, seperti tertera dalam Shohih Bukhori Muslim serta kitab hadits lain, redaksinya milik Muslim, dari Jabir t Nabi r bersabda,
(لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ)
“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang, hingga hari kiamat tiba.”
Dalam lafadz Bukhori disebutkan,
(لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ)
“Tidak akan terpengaruh oleh orang yang melemahkan semangat dan menyelisihi mereka.”
Dalam lafadz Imam Ahmad: “Mereka tidak mempedulikan orang yang menyelisihi dan melemahkan semangat mereka.”
Sabda beliau: “Akan senantiasa ada…” menjadi dalil akan tetap berlangsungnya jihad meskipun kon-teks hadits ini sudah cukup untuk menetapkan bahwa jihad akan tetap berlangsung.
An-Nawawi berkata dalam Syarah Shohih Muslim-nya: “Saya katakan: Kemungkinan, kelompok ini terpisah-pisah dalam sekian banyak jenis kaum muslimin, di antara mereka ada yang pemberani sebagai pelaku perang, ada juga yang ahli fikih, ahli hadits, orang-orang zuhud, orang yang beramar makruf nahi munkar, ada juga pelaku kebaikan lain, tidak mesti mereka berkumpul menjadi satu, bisa saja mereka berpencar-pencar di berbagai belahan dunia. Hadits ini berisi sebuah mukjizat nyata, karena ciri seperti ini –alhamdulillah— selalu ada dalam umat sejak zaman Nabi r hingga sekarang, dan akan selalu ada hingga tiba ketetapan Alloh sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.” Selesai perkataan An-Nawawi.
Dalil yang lain adalah sabda Nabi r,
(أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَّسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَالِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ)
“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang hak) selain Alloh dan bahwa Muhammad utusan Alloh, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, jika mereka lakukan itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka diserahkan kepada Alloh.” (muttafaq ‘alaih)
Dalam hadits ini, beliau menjadikan tujuan akhir peperangan adalah Islam, bermakna jika semua manusia sudah Islam maka tidak lagi ada perang.
Di sisi lain, banyak sekali hadits yang menunjukkan bahwa tidak mungkin seluruh manusia akan menjadi Islam. Demikian juga ada hadits-hadits yang menunjukkan bahwa kekufuran akan ada hingga hari kiamat.
Jika demikian, berarti perang akan selalu ada bersamaan dengan adanya kekufuran sampai tiba ketetapan Alloh Ta‘ala.
Sedangkan maksud ketetapan Alloh dalam hadits ini, ada yang mengatakan masuk Islamnya manusia di zaman Nabi Isa, ada juga yang berpendapat hari kiamat, ada yang mengatakan berhembusnya angin yang mencabut nyawa kaum mukminin, hanya saja makna yang ditunjukkan hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa perang akan selalu ada selama kekufuran ada.
Nash-nash lain yang menunjukkan bahwa jihad akan terus berlangsung hampir tak terhitung, para imam Islampun sepakat dan tidak ada yang berbeda pendapat bahwa jihad akan terus berlangsung. Rosul r sendiri mengkhabarkan hal ini sebagai sebuah berita yang tidak akan pernah berubah dan berganti.
Semua nash ini menjelaskan bahwa tidak akan pernah mungkin satu zaman berlalu sejak diutusnya Nabi r hingga hari kiamat kosong dari panji jihad pembela kebenaran yang diangkat di jalan Alloh Ta‘ala, ini adalah pengkhabaran yang pemung-kirnya bisa kufur kepada Alloh Ta`ala.
Jika kita meyakini hakikat ini, kita jadikan ini sebagai bagian terpenting dalam hidup kita, dan kita asumsikan sebagai salah satu prinsip baku yang kita konsentrasikan kehidupan kita ke arahnya, maka tidak akan mungkin kita akan mau tertinggal dalam memberikan andil kepada panji jihad dan berdiri di bawahnya walau bagaimanapun susahnya kondisi. Karena panji jihad di zaman kapanpun selalu terkait dengan Thoifah Manshuroh (kelompok yang ditolong, kelompok yang menang) yang diridhoi Alloh.
Thoifah manshuroh sendiri –menurut Imam Nawawi— tidak mesti harus ada di satu tempat, bisa saja dalam satu zaman kelompok ini berada di berbagai tempat. Thoifah manshuroh ini berperang di atas kebenaran dan mereka menang, zaman kapanpun tidak akan pernah kosong dari Thoifah manshuroh yang berperang dan mengangkat panji jihad.
Jika kita meyakini akidah ini, kita bisa pastikan bahwa kekuatan kufur dunia dan negara-negara munafik yang turut membantu mereka sampai kapanpun tidak akan pernah mampu memadamkan panji jihad, tidak akan mampu menumpas para mujahidin atau menghapus syiar jihad ini. Mungkin mereka bisa mengisolasinya di satu atau dua tempat, tapi untuk merontokkannya di zaman sekarang, itu hal yang mustahil walaupun seluruh jin dan manusia berkumpul untuk melakukannya. Karena panji jihad ini diangkat atas ketetapan dan izin Alloh Ta‘ala serta tidak mungkin akan diletakkan karena Alloh sendirilah yang menetapkan bagi diri-Nya sendiri untuk meninggikan panji ini sampai umat terakhir Muhammad SAW memerangi Dajjal bersama Isa bin Maryam AS. Inilah hakikat yang mesti kita jadikan titik tolak pertama, inilah keyakinan yang sudah semesti-nya kita memerangi musuh berdasar-kan keyakinan ini. Akidah yakin dan percaya penuh dengan janji Alloh I bahwa jihad akan tetap berjalan hingga hari kiamat.
Keputus asaan kaum muslimin hari ini setelah peristiwa mundurnya mujahidin dari kota-kota di Afghanistan bukan menunjukkan mujahidin putus asa dan berhenti berjihad, selamanya bukan. Mereka tetap yakin jihad ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat, kondisi mayoritas kaum muslimin yang begitu mengenaskan juga tidak akan selamanya berarti bahwa kekuatan kufur internasional mampu merontokkan panji jihad di dunia. Sayang, kebanyakan kaum muslimin tidak memahami hakikat permusuhan antara kebenaran dan kebatilan, tidak membaca sejarah umat, sejarah para nabi, khususnya dalam Al-Qur’an.
Seluruh dunia menentang janji Alloh bahwa jihad ini akan tetap berlangsung, sementara kami tetap percaya kepada Alloh dan kami bersumpah bahwa kekuatan kufur dunia yang memerangi Alloh I akan kalah. Undang-undang baru internasional berdiri di atas pemahaman yang sudah ditentukan, slogannya sangat jelas; pemahaman itu adalah jihad adalah terorisme, semua mujahid adalah teroris, para teroris harus ditangkap dan terorisme harus dibasmi; maknanya, para wali Alloh itu harus ditangkap dan syariat Alloh I harus dilenyapkan. Maka, hasil akhir peperangan seperti ini sudah bisa ditebak, dulu Alloh sudah menceritakan itu dalam kitab-Nya, Rosululloh r sudah menerangkannya dalam sunnahnya. Rosululloh r bersabda –sebagaimana riwayat Imam Bukhori, Ahmad dan yang lain, dari Abu Huroiroh t—,
(مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ)
“Alloh berfirman: Barangsiapa memu-suhi wali-Ku, Aku maklumkan perang dengannya…” artinya, Ku maklumkan bahwa ia pasti hancur, perang Alloh adalah melawan siapa saja yang memusuhi wali-Nya karena kesetiaan mereka kepada Alloh, dan orang menganggap para wali itu sebagai musuh lantaran komitmen mereka di atas agamanya.
Dalam redaksi lain disebutkan: “Aadzantuhuu bil Harbi…”
(Aku umumkan perang kepadanya), bentuknya nakiroh, artinya perang itu mencakup semua makna hukuman. Dalam riwayat Ahmad:
“Barangsiapa menyakiti wali-Ku…” Hanya menyakiti saja sudah berarti perang.
Dalam riwayat lain: “…sungguh ia telah menghalalkan perang melawan-Ku.”
Hukuman ini tidak selalunya nampak seperti yang menimpa umat-umat lain, tapi bisa juga hukuman itu disegerakan, bisa juga ditunda, Allohlah yang berhak menunda, tapi Alloh tidak pernah mengabaikannya.
Adapun hasil akhir dari perang ini, Alloh telah mengisahkannya dalam Al-Quran, kita ambil misalnya firman Alloh Ta‘ala:
{إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ اْلأَشْهَادُ}
“Sesungguhnya Kami pasti menolong (memenangkan) para rosul Kami dan orang-orang beriman di dunia dan di hari ketika saksi-saksi tegak.” 8
Alloh juga berfirman menegaskan bahwa musuh orang-orang beriman pasti kalah:
{إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللهِ فَسَيُنْفِقُوْنَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُوْنَ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا إِلىَ جَهَنَّمَ يُحْشَرُوْنَ}
“Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta mereka untuk memalingkan dari jalan Alloh, maka mereka akan menginfakkannya kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan, dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di neraka Jahannam.” 9
Alloh mengajak kita untuk mengambil pelajaran dari kejadian pada saat perang Badar, pada Yaumul Furqon (hari pembedaan antara yang hak dan batil):
{قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِِ اْلتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لَعِبْرَةً لِأُوليِ اْلأَبْصَارِِ}
“Sungguh telah ada tanda-tanda kebesaran Alloh bagi kalian pada dua kelompok yang bertemu dalam perang; satu kelompok berperang di jalan Alloh, sementara kelompok yang lain kufur, mereka melihat orang beriman dua kali lipat dari mereka jika dilihat mata. Dan Alloh menguatkan dengan pertolongan-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki, sesungguhnya pada yang demikian terdapat pelajaran bagi mereka yang berpandangan jeli.” 10
Pertanyaan yang selalu mengusik hati dan menyusup ke hati orang-orang lemah adalah: Mengapa Alloh tidak meno-long Pemerintahan Islam Taliban dalam perangnya melawan pasukan sekutu hingga hari ini? Padahal Pemerintahan itulah yang mampu mengangkat syiar penerapan syariat Islam dan memegang teguh Al-Quran dan Sunnah, seluruh dunia bersa-tu menyerangnya sampai-sampai Taliban dipaksa mundur dari kota-kota yang mereka kuasai, mengapakah ini terjadi?
Kami katakan, Alloh memiliki hikmah mengapa itu terjadi, hikmah pertama diterangkan dalam firman Alloh Ta‘ala:
{ذَالِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللهُ لاَنْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ}
“Yang demikian itu, kalau Alloh berkehendak pasti akan menangkan mereka atas orang-orang kafir, akan tetapi untuk menguji sebagian atas sebagian yang lain, dan orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh, maka amalan mereka tidak akan pernah disia-siakan.” 11
Bisa saja Alloh memenangkan Taliban atas mereka (bah-kan Alloh sangat Maha Kuasa) sendirian. Bisa saja Alloh mematikan dan meluluh lantakkan seluruh kekuatan mereka sekejap mata, akan tetapi Alloh membiarkan orang-orang kafir itu menguasai kaum muslimin untuk memberikan ujian, artinya untuk menguji kaum muslimin dan mencoba kejujuran mereka meskipun orang-orang kafir berkuasa atas mereka. Jika mereka sabar dan semakin berpegang teguh dengan agama mereka, serta lari dan mengadukan perkaranya kepada Alloh Ta‘ala, maka Alloh akan menolong mereka setelah melihat bahwa mereka memang layak memperoleh kemenangan, Alloh akan mantabkan kekuasaan agama yang Dia ridhoi bagi mereka (Islam), tentunya setelah mereka memenuhi syarat-syarat tercapainya kekuasaan di muka bumi. Alloh Ta‘ala berfirman:
{وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُوْنَنِيْ لاَ يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَالِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ}
“Alloh berjanji kepada orang-orang beriman dari kalian, pasti Ia kuasakan mereka di muka bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka dikuasakan, dan akan memantabkan posisi agama mereka yang Alloh ridhoi bagi mereka dan akan menggantikan keadaan takut mereka dengan keamanan, mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mensekutukan dengan apapun terhadap-Ku, dan barangsiapa kufur setelah itu, maka mereka adalah orang-orang fasik.” 12
Dan berfirman:
{قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللهِ وَاصْبِرُوْا إِنَّ اْلأَرْضَ لِلَّهِ يُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَاْلعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ}
“Musa berkata kepada kaumnya: ‘Minta tolonglah kalian kepada Alloh dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini adalah milik Alloh, Alloh mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya, dan hasil akhir adalah milik orang-orang bertakwa.” 13
Dan berfirman:
{وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُوْرِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ اْلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ}
“Dan telah Kami tetapkan dalam Zabur bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang sholeh.”
Dan berfirman:
{إنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهِ ثُمّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ الْمَلاَئِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِيْ اْلآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْ أَنْفُسَكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدْعُوْنَ}
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan tuhan kami adalah Alloh kemudian mereka istiqomah, malaikat turun kepada mereka: Janganlah kalian takut dan sedih dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian. Kami adalah pelindung kalian di kehidupan dunia dan akhirat, di sana kalian mendapatkan apa saja yang kalian inginkan dan di sana terdapat apa yang kalian minta.” 14
Jadi, syarat dimantabkannya posisi (tamkiin) di muka bumi harus terpenuhi dahulu dalam diri kaum mukminin sebelum kemantaban posisi itu tercapai. Sebagian syarat itu telah Alloh sebutkan dalam ayat-ayat tadi. Di antaranya adalah iman dan amal sholeh, mengikuti manhaj Nabi r dan para shahabat beliau yang dahulu telah berkuasa di muka bumi, meyakini ajaran agama yang benar (Islam), tidak menyekutukan Alloh, meminta tolong hanya kepada Alloh, sabar di atas jalan jihad dan perang melawan musuh, bertakwa kepada Alloh dalam kondisi sendirian atau dilihat orang, kesholihan secara menyeluruh di semua lapisan, karakter seorang mujahid hendaknya senantiasa menya-takan tuhanku adalah Alloh sekaligus mengamalkan konsek-wensi pernyataan tersebut, ia harus konsisten (istiqomah) di atas ajaran agamanya. Inilah syarat-syarat yang apabila seorang hamba bersungguh-sungguh merealisasikannya, ia akan menjadi orang yang berhak diberi kemenangan oleh Alloh dan Alloh akan kuasakan dia di muka bumi.
Kalau kita mau meneliti hikmah mengapa Alloh menunda kemenangan dan mendatangkan kekalahan –secara kasat mata— kepada kaum muslimin di medan pertempuran, mau tidak mau kita harus menilainya dengan adil. Hanya, kita akan sendirikan pembahasannya setelah ini dengan izin Alloh, cukup kita isyaratkan di sini secara sepintas mengingat pemahaman seperti ini tidak boleh hilang dari benak setiap muslim yang hidup hari ini di mana ia selalu mengikuti perkembangan dari medan pertempuran di Afghanistan dengan segala suasana dan eksistensinya, peperangan antara kekuatan kufur internasional seluruhnya melawan mujahidin Afghan.
Kita mohon kepada Alloh agar memuliakan mujahidin dan menolong mereka serta menjadikan mereka berkuasa. Semoga Alloh memecah belah dan mencerai beraikan orang-orang kafir, menghinakan dan menjadikan mereka sebagai ghanimah bagi kaum muslimin.
1 QS. Al-Baqoroh: 216
2 QS. At-Taubah: 73
3 QS. At-Taubah: 29
4 QS. At-Taubah: 5
5 QS. Al-Maidah: 54
6 QS. Al-Anfal: 39
7QS. At-Taubah: 5
8 QS. Ghofir: 51
9QS. Al-Anfal: 36
10 QS. Ali Imron: 13
11 QS. Muhammad: 4
12QS. An-Nuur: 55
13 QS. Al-A‘roof: 128
14 QS. Fushilat: 30-31
Read more..
|
|