Makna-makna Kemenangan

Comment( 0)

 Syaikh Yusuf bin Sholih Al-‘Uyairiy

Baiklah, sejenak kita kaji tentang apa makna kemenangan yang tercantum dalam Al-Quran dan sunnah. Sebenarnya, makna-makna kemenangan ini tidak cukup untuk kita kupas di sini satu persatu, itu memerlukan pembahasan sendiri, tapi sebagaimana dalam kaidah ushul fikih: apa yang tidak bisa di bisa dicapai semua tidak bisa ditinggal sebagian besarnya. Oleh karena itu, kami katakan:

Makna kemenangan pertama:

Makna terbesar dari sebuah kemenangan –yang pasti telah dicapai oleh siapa saja yang mau berjihad, baik sendirian atau bersama sama umat— adalah ketika seorang mujahid berhasil mengalahkan nafsunya, mengalahkan syetan yang menggodanya serta mengalahkan ‘delapan perkara yang disukai semua manusia’ dan kesukaan-kesukaan yang menjadi cabangnya, mengalahkan urusan-urusan duniawi yang menarik dirinya, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh umat gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Alloh menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya:

{قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوْا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ اْلفَاسِقِيْنَ}

Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Alloh dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh menda-tangkan keputusan-Nya”. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [1]

Maka ketika seorang hamba berhasil meninggalkan delapan perkara ini dan bersedia keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang dan berhasil mengalahkan nafsu dan syahwatnya serta perkara-perkara menarik yang membikin orang enggan keluar untuk berjihad.

Dengan keberhasilannya mencapai kemenangan ini, ia telah menggapai kemenangan lain yang lebih besar lagi, yaitu ketika ia berhasil keluar dari lingkaran orang-orang fasik, ia telah bebas dari janji dan ancaman Alloh yang tercantum di akhir ayat di atas. Semua kemenangan ini telah ia gapai ketika ia telah buktikan secara nyata bahwa ia lebih mencintai Alloh, rosul dan jihad di jalan-Nya. Sungguh, ini adalah kemenangan sangat besar.

Makna kemenangan kedua:

Jika seorang hamba keluar untuk berangkat berjihad, berarti ia telah mewujudkan kemenangan dalam bentuk yang lain dari kemenangan pertama. Bentuk kemenangan kali ini berupa kemenangan atas syetan yang senantiasa mengintai dan berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara untuk menghalanginya dari jihad. Sebagaimana tercantum di dalam Shohih Bukhori dari Abu Huroiroh t bahwasanya Rosululloh r bersabda:

(إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعِدَ لاِبْنِ آدَمَ فِيْ طَرِيْقِ اْلإِيْمَانِ فَقَالَ لَهُ أَتُؤْمِنُ وَتَذَرُ دِيْنَكَ وَدِيْنَ آبَائِكَ؟ فَخَالَفَهُ فَآمَنَ، ثُمَّ قَعِدَ لَهُ عَلَى طَرِيْقِ اْلِهجْرَةِ فَقَالَ لَهُ أَتُهَاجِرُ وَتَتْرُكُ مَالَكَ وَأَهْلَكَ؟ فَخَالَفَهُ فَهَاجَرَ، ثُمَّ قَعِدَ لَهُ عَلَى طَرِيْقِ اْلجِهَادِ فَقَالَ لَهُ أَتُجَاهِدُ فَتُقْتَلُ نَفْسُكَ فَتُنْكَحُ نِسَاؤُكَ وَيُقْسَمُ مَالُكَ؟ فَخَالَفَهُ فَجَاهَدَ فَقُتِلَ، فَحَقٌّ عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ)

“Syetan duduk menghadang anak Adam di atas jalan iman, syetan itu berkata kepadanya: “Apakah kamu mau beriman dan meninggalkan agamamu dan agama ayahmu?” Anak Adam itu tidak memperdulikannya dan terus beriman. Kemudian syetan duduk di jalan hijrah, ia berkata kepa-danya: “Apakah kamu mau berhijrah dengan meninggalkan harta dan keluargamu?” ia tidak memperdulikannya dan terus berhijrah. Kemudian syetan duduk di atas jalan jihad, ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mau berjihad? Nanti kamu terbunuh dan isterimu akan dinikahi orang, hartamu akan dibagi-bagikan kepada orang lain.” Ia kembali tidak memperdulikannya dan terus berjihad hingga terbunuh. Siapa yang seperti ini keadaannya, menjadi hak Alloh untuk memasukkannya ke surga.”

Jadi, hanya dengan jihadlah kemenangan atas syetan itu tercapai dan seorang hamba bisa menggapai surga Alloh Yang Mahapengasih.

Makna kemenangan ketiga:

Jika seorang hamba keluar untuk berjihad, ia telah mencapai kemena-ngan dan termasuk orang-orang yang disebut Alloh dalam firman-Nya:

(وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ اْلمُحْسِنِيْنَ)

“Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami, pasti akan Kami tunjukan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.”  [2]

Duh, alangkah besar kemenangan itu, ketika seorang hamba berada di bawah naungan hidayah Alloh I.  Kemenangan terbesar melawan syetan adalah hidayah, sedangkan anugerah Alloh I terbesar adalah taufik dari-Nya untuk bisa menggapai hidayah itu dan berubah status menjadi orang-orang yang berbuat ihsan (muhsinin) di mana kebersamaan Alloh selalu menyertai mereka, khususnya kebersamaan Alloh berupa kemenangan, taufik, hidayah dan keshalehan.

Seandainya saja umat ini berjihad semua, seandainya mereka semua mau ikut serta dalam jihad dengan sungguh-sungguh, tentu umat ini akan menjadi umat yang mendapat petunjuk dan selalu disertai kebersamaan Alloh seperti yang terjadi di zaman shahabat dan tabi‘ìn, umat yang mendapatkan taufik, umat yang menang dan senantiasa ditolong Alloh I.

Makna kemenangan keempat:

Ketika seorang telah berhasil keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang atas orang-orang yang menghala-nginya yang mana mereka ini berasal dari saudara sekulit dan sebahasanya sendiri, bahkan di antara mereka ada yang menggunakan nash-nash syar‘i untuk melegitimasi sikap menghalangi mereka terhadap umat dari jihad. Alloh I telah hinakan mereka dalam firman-Nya:

{لَوْ خَرَجُوْا فِيْكُمْ مَا زَادُوْكُمْ إِلاَّ خَبَالاً وَلَأَوْضَعُوْا خِلاَلَكُمْ يَبْغُوْنَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيْكُمْ سَمَّاعُوْنَ لَهُمْ وَاللهُ عَلِيْمٌ بِالظَّالِمِيْنَ}

Kalaulah mereka keluar bersama kalian, mereka tidak akan menambah-kan apapun bagi kalian selain kekacauan, mereka mencari-cari fitnah di dalam tubuh kalian dan di antara kalian ada yang suka mendengarkan mereka. Dan Alloh Maha Mengetahui akan orang-orang dzalim.” [3]

Alloh I mengarahkan ayat ini kepada para shahabat Rosululloh r bahwa di antara mereka ada yang suka mendengarkan kata orang-orang yang menghalang-halangi dari jihad. Ini bukan karena iman para shahabat itu lemah, tapi karena orang-orang yang menghalangi dari jihad itu memiliki kedudukan di tengah kelompoknya ta-pi mereka menyembunyikan isi batinnya. Saking besarnya fitnah yang ditimbulkan orang-orang yang meng-halangi ini, dan saking dahsyatnya mereka mengkaburkan antara yang hak dan batil serta meyakinkan syubhat mereka, sampai-sampai orang berimanpun terpedaya dengan kata-kata mereka. Itu sebabnya Alloh I mengingatkan manusia terbaik setelah para nabi (para shahabat) agar mewaspadai orang-orang seperti ini.

Di antara orang-orang yang menghalangi jihad adalah yang ter-cantum dalam firman Alloh I:

{فَرِحَ اْلمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُوْلِ اللهِ وَكَرِهُوْا أَنْ يُجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَقَالُوْا لاَ تَنْفِرُوْا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّاً لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ}

“Orang-orang yang tidak ikut berjihad itu merasa senang dengan kedudukan mereka di belakang Rosululloh dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Alloh serta mengatakan: “Janganlah kalian berpe-rang dalam terik panas.” Katakanlah (Hai Muhammad): “Neraka Jahannam itu jauh lebih panas,” kalau mereka mengetahui.” [4]

Jadi, orang-orang yang menghalangi dari jihad ini menggunakan semua pasukannya, baik yang berkuda atau yang berjalan kaki, dan menggunakan semua kekuatan yang mereka miliki dalam rangka menghalangi seorang hamba dari jihad. Selanjutnya, mereka melarang umat untuk berjalan di atas jalan kemuliaan dan harga diri.

Maka ketika seorang mujahid keluar untuk berjihad, berarti ia telah merealisasikan kemenangan atas orang-orang yang tidak mau ikut jihad dan menghalangi darinya.

Jadi setelah ia menang atas nafsu, syahwat dan dunianya, ia menang atas syetannya, selanjutnya ia menang atas orang-orang yang suka mempengaruhi orang lain agar lemah semangatnya dari kalangan saudara sekulit dan sebahasanya sendiri.

Makna kemenangan kelima:

Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepayahan dan kegoncangan dan komentar-komentar yang melemah-kannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu keme-nangan. Alloh I berfirman:

{يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِيْنَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ}

“Alloh meneguhkan orang-orang beri-man dengan perkataan yang kokoh ketika di dunia maupun di akhirat. Dan Alloh menyesatkan orang-orang zhalim dan Alloh mengerjakan apa yang Dia kehendaki.” [5]

Bukankah orang yang tetap teguh di atas jalan jihad dan terus melak-sanakannya serta menjadi orang-orang yang diteguhkan seperti dalam ayat ini sudah cukup untuk disebut sebagai orang yang mendapatkan kemenangan?

Benar, demi Alloh.

Betapa banyak orang yang sudah berjihad dan mendapatkan keme-nangan di medan pertempuran, akan tetapi prinsip-prinsip yang ia pegang setelah itu mengendur, kemantaban akidahnya bergeser, ia lantas hanya memperhatikan urusan syahwat dan dunianya dengan hasil yang ia peroleh dari medan jihad.

Betapa banyak kita lihat orang yang mengalami kesengsaraan dan kegoncangan melebihi orang yang sekarang masih terus berjalan di atas jalan jihad, mereka memang pantang mundur ketika di medan tempur, tetapi dunia telah mengalahkan prin-sip yang ia pegang dan kemantaban akidahnya. Ia terpalingkan oleh pengaruh-pengaruh yang rusak sehingga merubah dirinya menjadi orang yang condong kepada dunia. Dengan kekalahan prinsipnya ini, ia beralasan dengan seribu alasan. Nah, bukankah ini sebenarnya yang disebut kekalahan, dan bukankah keteguhan di atas jalan jihad adalah kemenangan hakiki?

Makna kemenangan keenam:

Ada kemenangan lain yang dicapai seorang hamba ketika ia keluar untuk pergi berjihad, yaitu ketika ia korbankan jiwa, waktu dan hartanya dalam rangka memper-tahankan prinsip-prinsip yang ia pegang, dalam rangka membela keyakinan dan agamanya.

Karena berkorban demi agama pada dasarnya adalah kemenangan itu sendiri, entah kemenangan (militer) berada di fihaknya ataukah di fihak musuhnya. Ia dikatakan menang karena ia menjadi tinggi dengan prinsip yang ia pegang teguh, ia rela berperang demi membela prinsip tersebut, ia rela mengorbankan nyawanya dengan murah demi menebusnya, itulah kemenangan hakiki walaupun ia menelan kekalahan di medan pertempuran. Alloh Ta‘ala berfirman kepada Rosul-Nya SAW dan para shahabatnya ketika mereka kalah di medan Uhud:

{وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ}

“…dan janganlah kamu merasa hina dan sedih sedangkan kalian adalah lebih tinggi…”  [6]

70 orang kaum muslimin terbunuh, mereka dicincang-cincang, Rosululloh SAW sendiri terluka, sebagian lari walau kemudian Alloh ampuni mereka, tetapi semua ini tidak sedi-kitpun mengubah hakikat bahwa kaum musliminlah yang lebih mulia.

Jadi, kemuliaan atau ketinggian seorang mujahid adalah manakala ia terjun ke medan pertempuran dan mengikuti peperangan Islam, inilah sebenarnya kemuliaan dirinya. Ia telah menang atas musuhnya dengan kemuliaan tersebut.

Ketika ia melihat kaumnya yang bersenjatakan apa adanya, sudah begitu mereka miskin lagi dan tidak punya apa-apa selain iman, lantas atas dasar apakah umat ini berjihad melawan musuhnya padahal jumlah pasukan dan perlengkapannya jauh lebih kecil? Untuk tujuan apakah umat ini berjihad melawan musuhnya pada-hal kalau diukur dengan materi pasti mereka kalah? Bukankah umat ini tidak punya persenjataan yang seimbang dengan musuhnya? Tetapi umat ini terus melawan setelah melakukan persiapan semampunya, bukankah ketika umat seperti ini hanya sekedar berani melawan saja sudah cukup untuk disebut sebagai umat yang menang?

Sungguh umat yang hanya berbekal iman dalam melawan musuhnya yang dilengkapi dengan berbagai peralatan dan senjata canggih adalah umat yang menang dengan kemuliaan dan prinsip yang ia pegang.

Ketika orang yang kondisinya apa adanya seperti ini berani menghadapi persekutuan negara-negara di seluruh dunia lengkap dengan peralatan dan persenjataannya yang  bertekhnologi canggih sudah cukup disebut sebagai kemenangan, yang dalam peperangan itu ia  persembahkan nyawanya murah demi membela keyakinannya?

Benar, demi Alloh.

Sungguh sejarah hanya menuliskan tintanya untuk kisah kehidupan para pahlawan walaupun kesyahidan menjadi ujung kehidupannya. Adapun orang-orang yang kebanyakan cenderung kepada dunia dan rela hidup dalam kehinaan, maka sejarah tidak akan pernah sudi menulisnya, bahkan sejarah akan membencinya. Dan alangkah jauh perbedaan antara ke-duanya di sisi Alloh robbul Alamin.

Keteguhan seorang di atas jalan jihad dan di atas akidah serta prinsip yang ia rela berperang untuknya, menimbulkan kemenangan prinsip dan akidah kepada dua kelompok:

 

Kelompok pertama: Kelompok yang memenangkan prinsipnya atas orang-orang yang berprinsip sesat, orang-orang ahli bid‘ah dan khurofat serta faham filsafat yang berusaha mentakwil-takwilkan nash dalam rangka memalingkan orang yang berjihad dari prinsip yang ia pegang. Maka kalau seorang mujahid tetap teguh, terus berperang demi membela prinsipnya itu dan tidak memperdulikan syubhat-syubhat yang dilontarkan orang-orang sesat tadi, berarti ia telah mereali-sasikan kemenangan atas mereka.

 

Kelompok kedua: Ia menang dengan prinsipnya atas prinsip orang kafir, orang zindiq, orang murtad dan orang menyimpang.

Ketika ia menyatakan dengan terus terang bahwa ia sangat merindukan kematian di atas jalan yang ia yakini, dan ia menyatakan bahwa kematian sama sekali tidak mempengaruhi maju mundurnya sedikitpun, maka itu sudah termasuk kemenangan tersendiri.

Gambaran kemenangan ini dicontohkan oleh tukang sihir Fir‘aun ketika mereka diancam akan dibunuh dan disalib setelah mereka menya-takan keimanannya secara terang-terangan, Fir‘aun berkata:

(.. فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلاَفٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَاباً وَأَبْقَى)

“Benar-benar akan kupotong tangan dan kaki kalian secara bersilang dan sungguh akan kusalib kalian di pokok pohon kurma, dan kalian akan tahu siapa di antara kita yang lebih dahsyat dan lama siksaannya.”  [7]

Maka para tukang sihir itu menjawab dengan penuh harga diri sebagai seorang mukmin:

{قَالُوْا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءَنَا مِنَ اْلبَيِّنَاتِ وَالَّذِيْ فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِيْ هَذِهِ اْلحَيَاةَ الدُّنْيَا}

“Mereka berkata: Kami tidak akan mengutamakan kamu di atas keterangan yang datang kepada kami dan Dzat yang menciptakan kami, maka putuskanlah sesukamu, sesung-guhnya kamu hanyalah memutuskan di dunia ini.”  [8]

Dalam jawaban lain, para tukang sihir itu mengatakan:

{وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنََ}

“Dan tidaklah kamu menyiksa kami kecuali karena kami beriman kepada ayat-ayat robb kami ketika itu datang kepada kami.”  Wahai robb kami, limpahkanlah kesabaran ke atas kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim.” [9]

Allohu Akbar! Alloh Mahabesar, demi Alloh I inilah kemenangan besar itu, ketika seseorang teguh di atas prinsipnya hingga mati!

Kemenangan seperti ini juga dicontohkan dalam kisah Khubaib bin ‘Adi ra ketika beliau disalib di tengah-tengah orang kafir Quraisy. Saat itu, antara dirinya dan kematian hanya berjarak beberapa saat saja, seperti diriwayatkan Abul Aswad dari ‘Urwah ia berkata:

“Setelah mereka meletakkan senjata (selesai menyiksa) dan Khubaib masih di atas kayu salib, mereka membujuknya dengan mengatakan: “Apakah kamu suka kalau posisimu sekarang digantikan oleh Muhammad?” Khubaib menjawab: “Tidak, Demi Alloh Yang Maha Agung, aku tidak rela walau beliau hanya tertusuk duri demi menebusku.”

Allohu Akbar! Alangkah besar kemenangan dan kemuliaan Khubaib ini.

Padahal betapa banyak kaum yang dibinasakan dan dihancurkan tetapi oleh Alloh I tidak diabadikan ceritanya seperti cerita mereka yang Alloh I sebut telah mencapai keme-nangan besar.

Dulu dalam kisah Ashhabul Ukhdud, orang-orang kafir membe-rikan dua pilihan kepada penduduk negeri itu yang masuk Islam, berbalik kafir atau tetap memegang prinsip tapi dibunuh dengan dibakar api. Api dunia ternyata tidak mampu mengun-durkan mereka dari prinsip yang mereka pegang. Mereka lebih memilih selamat dari api neraka di akhirat walau harus mereka bayar dengan memasuki api dunia. Maka merekapun terjun satu persatu ke dalam api, persis seperti belalang yang meloncat dengan penuh kemantaban dan perasaan rela berkorban, mereka tidak ditakutkan oleh pemandangan api yang begitu hebat. Mereka memasu-kinya demi meraih kemenangan. Ketika ada seorang wanita yang tampak ragu, ia pun mulai fikir-fikir, pemahaman tentang kemenangan hakiki hilang dari benaknya, lalu Alloh menjadikan bayi yang ia susui bisa berbicara untuk menerangkan makna kemenangan hakiki dan keberun-tungan yang besar, bayi itu berkata –sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Muslim—: “Ibu, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Akhirnya sang ibupun terjun ke dalam api bersama bayi yang ia susui.

Meskipun begitu memilukan, tapi Alloh telah abadikan kisah mereka, Alloh memuji mereka dengan pujian yang belum pernah Dia berikan kepada selain mereka yang hidup di kemudian hari, Alloh berfirman:

(إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ ذَالِكَ اْلفَوْزُ اْلكَبِيْرُ)

“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh itu bagi mereka surga-surga yang di bawahnya meng-alir sungai-sungai, itulah kemenangan yang sangat besar.” [10]

Maka, bagi setiap mukmin yang kehilangan makna kemenangan hakiki seperti wanita tadi, ayat ini, pujian ini dan kesaksian ini menerangkan kepadanya makna kemenangan yang hilang dari benaknya.

Makna kemenangan ketujuh:

Kemenangan yang selanjutnya adalah kemenangan yang Alloh berikan berupa kemenangan hujjah dan dalil.

Ini dekat dengan makna kemenangan sebelumnya. Bedanya, kemenangan ini tidak hanya dirasakan pelaku yang mendapat kemenangan ini, tapi meluas kepada orang lain, baik ketika orang itu masih hidup atau sudah meninggal. Yang penting hujjah dia tersampaikan dan memuaskan hati orang walaupun dirinya sendiri lemah dan tidak meraih kemenangan di medan tempur.

Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta‘ala mengenai kemenangan hujjah yang diraih Nabi Ibrohim AS atas kaumnya setelah sebelumnya mela-kukan perdebatan, firman-Nya:

{وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيْمَ عَلىَ قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّنْ نَّشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ}

“Dan itulah hujjah-hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim atas kaumnya, Kami mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki, sesungguhnya robbmu adalah Maha Bijaksana lagi Mahamengetahui.” [11]

Pengangkatan derajat di sini maknanya adalah keme-nangan.

Alloh juga memenangkan Nabi Ibrohim atas raja Namrud ketika ia membantah dakwah beliau, Alloh berfirman:

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ رَبِيَ الَّذِي يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ، قَالَ أَنَا أُحْيِيْ وَأُمِيْتُ، قَالَ إِبْرَاهِيْمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ اْلمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ اْلمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ، وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ}.

“Tidakkah engkau perhatikan orang yang mendebat Ibrohim mengenai robbnya, orang itu diberi kekuasaan oleh Alloh, ketika Ibrohim mengatakan: Robbku adalah yang menghidupkan dan mematikan. Orang itu berkata: Aku juga bisa mematikan dan menghidupkan. Ibrohim berkata: Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur, maka terbit-kanlah matahari itu dari barat,” maka heran terdiamlah orang kafir itu. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim.” [12]

Di dalam kisah kemenangan prinsip yang diraih pemuda Ghulam dan Ashhabul Ukhdud terdapat dalil yang jelas yang menunjukkan makna kemenangan prinsip. Saat itu, ghulam terbunuh, tetapi hujjahnya menang dan berhasil mengalahkan kekufuran raja, semua orangpun beriman kepada Alloh.

Jadi, kemenangan hujjah dari terbunuhnya ghulam dan keteguhan dia sebelum mati adalah kemenangan yang sangat nyata, ia telah kalahkan kekufuran raja pada zamannya walaupun kekufuran itu memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi kekufuran itu tetap jatuh tak berdaya di hadapan keteguhan, di hadapan prinsip dan keyakinannya yang agung.

Thoifah manshuroh (kelompok yang bakal mendapat kemenangan) itu pasti akan mendapat kemenangan, sebagaimana telah dikabarkan Rosululloh r, sebagaimana sabda beliau dalam Shohih Bukhori Muslim:

(لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِّنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَالِكَ).

“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran, tidak akan dipengaruhi oleh orang yang melemahkan semangat, hingga tiba ketentuan Alloh sementara mereka tidak berubah.”

 

Kemenangan di dalam hadits ini, yang paling minimal adalah kemenangan hujjah dan dalil, bisa saja diiringi kemenangan wilayah dan kekuasaan. Akan tetapi, walaupun umat Islam sendiri menyia-nyiakan kelompok ini (tidak mau membantu mereka) dan musuh bersatu padu mengha-dapinya, kelompok ini tetap saja menang.

Makna kemenangan kedelapan:

Di antara bentuk kemenangan yang Alloh I berikan kepada para mujahidin adalah dengan menghancurkan musuh mereka dengan menimpakan musibah dari sisi-Nya, musibah ini terjadi disebabkan karena jihad yang dilakukan para mujahidin.

Seringnya, mujahidin kalah menghadapi musuhnya di medan tempur, ini mengingat tidak seimbangnya kekuatan kedua belah fihak. Akan tetapi Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Karena mujahidin telah berusaha maksimal mencurahkan segala upayanya untuk menempuh sebab dan berjuang dengan kekuatan yang Alloh I berikan kepada mereka dan mereka telah melakukan I‘dad dengan serius, maka Alloh I akan menjadikan usaha dan perlawanan mereka yang tidak seberapa itu menjadi sebab kehancuran musuh mereka dengan menurunkan kegoncangan bencana dari sisi-Nya. Alloh I tegaskan hal ini dalam firman-Nya:

{كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِيْنَ}

“Betapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Alloh, dan Alloh bersama orang-orang yang sabar.” [13]

Keguncangan yang menimpa Fir‘aun lantaran jihad Nabi Musa u dan pengikutnya menjelaskan makna ini. Pada dasarnya, Alloh I bisa saja membinasakan Firaun sebelum adanya Nabi Musa u ataupun setelahnya. Di awal-awal berpalingnya Firaun dan kesombongannya, Alloh I memberikan tenggang waktu sebelum akhirnya Firaun semakin melampaui batas dan berbuat kejam, ia keluar dengan pasukan berkuda dan pasukan pejalan kakinya untuk memadamkan cahaya Alloh I.

Kenyataan di lapangan, kegon-cangan menimpa Firaun dan bala tentaranya, sebabnya adalah Nabi Musa AS, Alloh I berfirman:

{فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوْسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ}

“Maka Kami wahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatmu ke laut, maka terbelahlah laut itu, maka masing-masing sisinya laksana gunung yang besar.” [14]

{وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ}

“Dan Kami hancurkan apa yang diper-buat Firaun dan kaumnya serta apa yang mereka bangun.” [15]

Ketika Nabi r dakwah secara terbuka dan kaum Quraisy berpaling dari kebenaran, Alloh I timpakan adzab kepada mereka agar mereka mau tunduk kepada perintah Nabi SAW. Dalam Shohih Bukhori Muslim disebutkan dari ‘Abdulloh bin ‘Abbas ra bahwasanya ketika kaum Quraisy benar-benar tidak mau mentaati Nabi SAW dan beliau sendiri telah melihat kaum Quraisy sudah benar-benar berpaling, Nabi SAW berdoa agar mereka ditimpa paceklik seperti yang terjadi pada zaman Nabi Yusuf. Maka merekapun tertimpa kelaparan yang memporak porandakan segala sesuatu, sampai-sampai mereka makan kulit dan bangkai, di antara mereka ada yang memandangi langit karena saking laparnya dan tiba-tiba muncul asap di sana. Akhirnya Abu Sufyan datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Hai Muhammad, sesungguhnya engkau memerintahkan untuk mentaati Alloh dan menyambung tali silaturohim, dan sesungguhnya kaummu telah mengalami kehancuran, maka berdoalah kebaikan untuk mereka kepada Alloh.”

Alloh I berfirman:

Maka tunggulah hingga langit datang dengan asap yang nyata. Yang meliputi manusia, inilah adzab yang pedih. Sesungguhnya Kami hanya menghilangkan azab sedikit saja, karena kalian akan kembali kufur lagi. Pada hari di mana Kami menghantam dengan siksaan yang besar, sesung-guhnya Kami Maha membalas.” [16]

Jadi, musibah apa saja yang menimpa mereka itu disebabkan oleh jihad yang dilakukan Nabi SAW. Peristiwa ini terjadi setelah hijrah dan disyariatkannya jihad. Musibah yang menimpa mereka bukan karena pasukan Rosul ketika di medan perang. Karena Rosul tidak membu-nuh kaum Quraisy lebih dari 200 orang dalam peperangan beliau mela-wan mereka. Sementara fihak Quraisy kurang lebih telah membunuh separo jumlah ini dari kaum muslimin. Akan tetapi Alloh menimpakan kegoncangan/ bencana dari sisi-Nya agar me-reka mau tunduk kepada perintah Rosululloh SAW. Dengan bencana ini, Alloh memberi petunjuk sebagian ka-um dan membinasakan sebagian kaum yang masih di atas kekufuran-nya.

Di zaman kita sekarang, hancurnya Uni Soviet mempertegas makna hakikat ini. Ditinjau di medan perang, mujahidin tidak lebih kuat dan tidak lebih banyak jumlah personelnya dari-pada Soviet. Akan tetapi, karena me-reka begitu gencar memusuhi dan membunuh wali-wali Alloh, maka bala, musibah, kemiskinan dan kerusakan datang susul menyusul sampai akhir-nya Sovietpun runtuh. Maka siapa yang mengatakan bahwa Soviet run-tuh lantaran sistem sosialis-komunis-nya, silahkan lihat masih banyak negara sosialis komunis yang masih berdiri. Kalau ada yang mengatakan bahwa Soviet runtuh karena hutang negaranya yang menumpuk, dulu sebelum Soviet runtuh Amerika lebih banyak jumlah hutangnya, apalagi hutang dalam negeri. Siapa yang mengatakan bahwa Soviet runtuh karena undang-undang militernya yang diktator, masih banyak negara yang sistem militernya jauh lebih diktator.

Kalau orang mau memperhatikan sebab-sebab keruntuhan Uni Soviet, tidak akan melihat kesimpulan lebih jelas selain bahwa penyebabnya karena mereka memerangi agama Islam dan disebabkan jihad yang dilancarkan mujahidin melawan mereka.

Kemenangan seperti ini banyak sekali dibuktikan dalam sejarah para nabi, terlalu banyak bukti sejarah untuk disebutkan di sini, semua bukti sejarah ini menunjukan bahwa penyebab utama turunnya adzab dan kehancuran musuh adalah jihadnya para mujahidin.

Jadi jihad adalah sebab utama kehancuran orang kafir dan kemenangan dari sisi Alloh Ta‘ala untuk kaum mukminin.

Kalaulah kita tidak melihat kemenangan dengan segera, sebenarnya kemenangan itu hampir saja datang.

Dalam sejarah, tidak ada satu kaum yang hancur binasa tanpa ada sebab, sedangkan bencana-bencana yang menimpa orang-orang kafir penyebabnya adalah jihad yang dila-kukan para rosul yang diutus kepada mereka, atau disebabkan jihad yang dilakukan orang-orang beriman dari kalangan hamba-hamba Alloh yang sholeh.

Makna kemenangan kesembilan:

Bentuk keme




One Response to Makna-makna Kemenangan

Leave a Reply

design by Natty WP