Makna-makna kemenangan

jihad Comment( 5)

 Syaikh Yusuf bin Sholih Al-‘Uyairiy


Baiklah, sejenak kita kaji tentang apa makna kemenangan yang tercantum dalam Al-Quran dan sunnah. Sebenarnya, makna-makna kemenangan ini tidak cukup untuk kita kupas di sini satu persatu, itu memerlukan pembahasan sendiri, tapi sebagaimana dalam kaidah ushul fikih: apa yang tidak bisa di bisa dicapai semua tidak bisa ditinggal sebagian besarnya. Oleh karena itu, kami katakan:


Makna kemenangan pertama:


Makna terbesar dari sebuah kemenangan –yang pasti telah dicapai oleh siapa saja yang mau berjihad, baik sendirian atau bersama sama umat— adalah ketika seorang mujahid berhasil mengalahkan nafsunya, mengalahkan syetan yang menggodanya serta mengalahkan ‘delapan perkara yang disukai semua manusia’ dan kesukaan-kesukaan yang menjadi cabangnya, mengalahkan urusan-urusan duniawi yang menarik dirinya, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh umat gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Alloh menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya:


{قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوْا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ اْلفَاسِقِيْنَ}


Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Alloh dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh menda-tangkan keputusan-Nya”. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [1]


Maka ketika seorang hamba berhasil meninggalkan delapan perkara ini dan bersedia keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang dan berhasil mengalahkan nafsu dan syahwatnya serta perkara-perkara menarik yang membikin orang enggan keluar untuk berjihad.


Dengan keberhasilannya mencapai kemenangan ini, ia telah menggapai kemenangan lain yang lebih besar lagi, yaitu ketika ia berhasil keluar dari lingkaran orang-orang fasik, ia telah bebas dari janji dan ancaman Alloh yang tercantum di akhir ayat di atas. Semua kemenangan ini telah ia gapai ketika ia telah buktikan secara nyata bahwa ia lebih mencintai Alloh, rosul dan jihad di jalan-Nya. Sungguh, ini adalah kemenangan sangat besar.


Makna kemenangan kedua:


Jika seorang hamba keluar untuk berangkat berjihad, berarti ia telah mewujudkan kemenangan dalam bentuk yang lain dari kemenangan pertama. Bentuk kemenangan kali ini berupa kemenangan atas syetan yang senantiasa mengintai dan berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara untuk menghalanginya dari jihad. Sebagaimana tercantum di dalam Shohih Bukhori dari Abu Huroiroh t bahwasanya Rosululloh r bersabda:


(إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعِدَ لاِبْنِ آدَمَ فِيْ طَرِيْقِ اْلإِيْمَانِ فَقَالَ لَهُ أَتُؤْمِنُ وَتَذَرُ دِيْنَكَ وَدِيْنَ آبَائِكَ؟ فَخَالَفَهُ فَآمَنَ، ثُمَّ قَعِدَ لَهُ عَلَى طَرِيْقِ اْلِهجْرَةِ فَقَالَ لَهُ أَتُهَاجِرُ وَتَتْرُكُ مَالَكَ وَأَهْلَكَ؟ فَخَالَفَهُ فَهَاجَرَ، ثُمَّ قَعِدَ لَهُ عَلَى طَرِيْقِ اْلجِهَادِ فَقَالَ لَهُ أَتُجَاهِدُ فَتُقْتَلُ نَفْسُكَ فَتُنْكَحُ نِسَاؤُكَ وَيُقْسَمُ مَالُكَ؟ فَخَالَفَهُ فَجَاهَدَ فَقُتِلَ، فَحَقٌّ عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ)


“Syetan duduk menghadang anak Adam di atas jalan iman, syetan itu berkata kepadanya: “Apakah kamu mau beriman dan meninggalkan agamamu dan agama ayahmu?” Anak Adam itu tidak memperdulikannya dan terus beriman. Kemudian syetan duduk di jalan hijrah, ia berkata kepa-danya: “Apakah kamu mau berhijrah dengan meninggalkan harta dan keluargamu?” ia tidak memperdulikannya dan terus berhijrah. Kemudian syetan duduk di atas jalan jihad, ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mau berjihad? Nanti kamu terbunuh dan isterimu akan dinikahi orang, hartamu akan dibagi-bagikan kepada orang lain.” Ia kembali tidak memperdulikannya dan terus berjihad hingga terbunuh. Siapa yang seperti ini keadaannya, menjadi hak Alloh untuk memasukkannya ke surga.”


Jadi, hanya dengan jihadlah kemenangan atas syetan itu tercapai dan seorang hamba bisa menggapai surga Alloh Yang Mahapengasih.


Makna kemenangan ketiga:


Jika seorang hamba keluar untuk berjihad, ia telah mencapai kemena-ngan dan termasuk orang-orang yang disebut Alloh dalam firman-Nya:


(وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ اْلمُحْسِنِيْنَ)


“Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami, pasti akan Kami tunjukan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.”  [2]


Duh, alangkah besar kemenangan itu, ketika seorang hamba berada di bawah naungan hidayah Alloh I.  Kemenangan terbesar melawan syetan adalah hidayah, sedangkan anugerah Alloh I terbesar adalah taufik dari-Nya untuk bisa menggapai hidayah itu dan berubah status menjadi orang-orang yang berbuat ihsan (muhsinin) di mana kebersamaan Alloh selalu menyertai mereka, khususnya kebersamaan Alloh berupa kemenangan, taufik, hidayah dan keshalehan.


Seandainya saja umat ini berjihad semua, seandainya mereka semua mau ikut serta dalam jihad dengan sungguh-sungguh, tentu umat ini akan menjadi umat yang mendapat petunjuk dan selalu disertai kebersamaan Alloh seperti yang terjadi di zaman shahabat dan tabi‘ìn, umat yang mendapatkan taufik, umat yang menang dan senantiasa ditolong Alloh I.


Makna kemenangan keempat:


Ketika seorang telah berhasil keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang atas orang-orang yang menghala-nginya yang mana mereka ini berasal dari saudara sekulit dan sebahasanya sendiri, bahkan di antara mereka ada yang menggunakan nash-nash syar‘i untuk melegitimasi sikap menghalangi mereka terhadap umat dari jihad. Alloh I telah hinakan mereka dalam firman-Nya:


{لَوْ خَرَجُوْا فِيْكُمْ مَا زَادُوْكُمْ إِلاَّ خَبَالاً وَلَأَوْضَعُوْا خِلاَلَكُمْ يَبْغُوْنَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيْكُمْ سَمَّاعُوْنَ لَهُمْ وَاللهُ عَلِيْمٌ بِالظَّالِمِيْنَ}


Kalaulah mereka keluar bersama kalian, mereka tidak akan menambah-kan apapun bagi kalian selain kekacauan, mereka mencari-cari fitnah di dalam tubuh kalian dan di antara kalian ada yang suka mendengarkan mereka. Dan Alloh Maha Mengetahui akan orang-orang dzalim.” [3]


Alloh I mengarahkan ayat ini kepada para shahabat Rosululloh r bahwa di antara mereka ada yang suka mendengarkan kata orang-orang yang menghalang-halangi dari jihad. Ini bukan karena iman para shahabat itu lemah, tapi karena orang-orang yang menghalangi dari jihad itu memiliki kedudukan di tengah kelompoknya ta-pi mereka menyembunyikan isi batinnya. Saking besarnya fitnah yang ditimbulkan orang-orang yang meng-halangi ini, dan saking dahsyatnya mereka mengkaburkan antara yang hak dan batil serta meyakinkan syubhat mereka, sampai-sampai orang berimanpun terpedaya dengan kata-kata mereka. Itu sebabnya Alloh I mengingatkan manusia terbaik setelah para nabi (para shahabat) agar mewaspadai orang-orang seperti ini.


Di antara orang-orang yang menghalangi jihad adalah yang ter-cantum dalam firman Alloh I:


{فَرِحَ اْلمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُوْلِ اللهِ وَكَرِهُوْا أَنْ يُجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَقَالُوْا لاَ تَنْفِرُوْا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّاً لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ}


“Orang-orang yang tidak ikut berjihad itu merasa senang dengan kedudukan mereka di belakang Rosululloh dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Alloh serta mengatakan: “Janganlah kalian berpe-rang dalam terik panas.” Katakanlah (Hai Muhammad): “Neraka Jahannam itu jauh lebih panas,” kalau mereka mengetahui.” [4]


Jadi, orang-orang yang menghalangi dari jihad ini menggunakan semua pasukannya, baik yang berkuda atau yang berjalan kaki, dan menggunakan semua kekuatan yang mereka miliki dalam rangka menghalangi seorang hamba dari jihad. Selanjutnya, mereka melarang umat untuk berjalan di atas jalan kemuliaan dan harga diri.


Maka ketika seorang mujahid keluar untuk berjihad, berarti ia telah merealisasikan kemenangan atas orang-orang yang tidak mau ikut jihad dan menghalangi darinya.


Jadi setelah ia menang atas nafsu, syahwat dan dunianya, ia menang atas syetannya, selanjutnya ia menang atas orang-orang yang suka mempengaruhi orang lain agar lemah semangatnya dari kalangan saudara sekulit dan sebahasanya sendiri.


Makna kemenangan kelima:


Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepayahan dan kegoncangan dan komentar-komentar yang melemah-kannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu keme-nangan. Alloh I berfirman:


{يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِيْنَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ}


“Alloh meneguhkan orang-orang beri-man dengan perkataan yang kokoh ketika di dunia maupun di akhirat. Dan Alloh menyesatkan orang-orang zhalim dan Alloh mengerjakan apa yang Dia kehendaki.” [5]


Bukankah orang yang tetap teguh di atas jalan jihad dan terus melak-sanakannya serta menjadi orang-orang yang diteguhkan seperti dalam ayat ini sudah cukup untuk disebut sebagai orang yang mendapatkan kemenangan?


Benar, demi Alloh.


Betapa banyak orang yang sudah berjihad dan mendapatkan keme-nangan di medan pertempuran, akan tetapi prinsip-prinsip yang ia pegang setelah itu mengendur, kemantaban akidahnya bergeser, ia lantas hanya memperhatikan urusan syahwat dan dunianya dengan hasil yang ia peroleh dari medan jihad.


Betapa banyak kita lihat orang yang mengalami kesengsaraan dan kegoncangan melebihi orang yang sekarang masih terus berjalan di atas jalan jihad, mereka memang pantang mundur ketika di medan tempur, tetapi dunia telah mengalahkan prin-sip yang ia pegang dan kemantaban akidahnya. Ia terpalingkan oleh pengaruh-pengaruh yang rusak sehingga merubah dirinya menjadi orang yang condong kepada dunia. Dengan kekalahan prinsipnya ini, ia beralasan dengan seribu alasan. Nah, bukankah ini sebenarnya yang disebut kekalahan, dan bukankah keteguhan di atas jalan jihad adalah kemenangan hakiki?


Makna kemenangan keenam:


Ada kemenangan lain yang dicapai seorang hamba ketika ia keluar untuk pergi berjihad, yaitu ketika ia korbankan jiwa, waktu dan hartanya dalam rangka memper-tahankan prinsip-prinsip yang ia pegang, dalam rangka membela keyakinan dan agamanya.


Karena berkorban demi agama pada dasarnya adalah kemenangan itu sendiri, entah kemenangan (militer) berada di fihaknya ataukah di fihak musuhnya. Ia dikatakan menang karena ia menjadi tinggi dengan prinsip yang ia pegang teguh, ia rela berperang demi membela prinsip tersebut, ia rela mengorbankan nyawanya dengan murah demi menebusnya, itulah kemenangan hakiki walaupun ia menelan kekalahan di medan pertempuran. Alloh Ta‘ala berfirman kepada Rosul-Nya SAW dan para shahabatnya ketika mereka kalah di medan Uhud:


{وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ}


“…dan janganlah kamu merasa hina dan sedih sedangkan kalian adalah lebih tinggi…”  [6]


70 orang kaum muslimin terbunuh, mereka dicincang-cincang, Rosululloh SAW sendiri terluka, sebagian lari walau kemudian Alloh ampuni mereka, tetapi semua ini tidak sedi-kitpun mengubah hakikat bahwa kaum musliminlah yang lebih mulia.


Jadi, kemuliaan atau ketinggian seorang mujahid adalah manakala ia terjun ke medan pertempuran dan mengikuti peperangan Islam, inilah sebenarnya kemuliaan dirinya. Ia telah menang atas musuhnya dengan kemuliaan tersebut.


Ketika ia melihat kaumnya yang bersenjatakan apa adanya, sudah begitu mereka miskin lagi dan tidak punya apa-apa selain iman, lantas atas dasar apakah umat ini berjihad melawan musuhnya padahal jumlah pasukan dan perlengkapannya jauh lebih kecil? Untuk tujuan apakah umat ini berjihad melawan musuhnya pada-hal kalau diukur dengan materi pasti mereka kalah? Bukankah umat ini tidak punya persenjataan yang seimbang dengan musuhnya? Tetapi umat ini terus melawan setelah melakukan persiapan semampunya, bukankah ketika umat seperti ini hanya sekedar berani melawan saja sudah cukup untuk disebut sebagai umat yang menang?


Sungguh umat yang hanya berbekal iman dalam melawan musuhnya yang dilengkapi dengan berbagai peralatan dan senjata canggih adalah umat yang menang dengan kemuliaan dan prinsip yang ia pegang.


Ketika orang yang kondisinya apa adanya seperti ini berani menghadapi persekutuan negara-negara di seluruh dunia lengkap dengan peralatan dan persenjataannya yang  bertekhnologi canggih sudah cukup disebut sebagai kemenangan, yang dalam peperangan itu ia  persembahkan nyawanya murah demi membela keyakinannya?


Benar, demi Alloh.


Sungguh sejarah hanya menuliskan tintanya untuk kisah kehidupan para pahlawan walaupun kesyahidan menjadi ujung kehidupannya. Adapun orang-orang yang kebanyakan cenderung kepada dunia dan rela hidup dalam kehinaan, maka sejarah tidak akan pernah sudi menulisnya, bahkan sejarah akan membencinya. Dan alangkah jauh perbedaan antara ke-duanya di sisi Alloh robbul Alamin.


Keteguhan seorang di atas jalan jihad dan di atas akidah serta prinsip yang ia rela berperang untuknya, menimbulkan kemenangan prinsip dan akidah kepada dua kelompok:


 


Kelompok pertama: Kelompok yang memenangkan prinsipnya atas orang-orang yang berprinsip sesat, orang-orang ahli bid‘ah dan khurofat serta faham filsafat yang berusaha mentakwil-takwilkan nash dalam rangka memalingkan orang yang berjihad dari prinsip yang ia pegang. Maka kalau seorang mujahid tetap teguh, terus berperang demi membela prinsipnya itu dan tidak memperdulikan syubhat-syubhat yang dilontarkan orang-orang sesat tadi, berarti ia telah mereali-sasikan kemenangan atas mereka.


 


Kelompok kedua: Ia menang dengan prinsipnya atas prinsip orang kafir, orang zindiq, orang murtad dan orang menyimpang.


Ketika ia menyatakan dengan terus terang bahwa ia sangat merindukan kematian di atas jalan yang ia yakini, dan ia menyatakan bahwa kematian sama sekali tidak mempengaruhi maju mundurnya sedikitpun, maka itu sudah termasuk kemenangan tersendiri.


Gambaran kemenangan ini dicontohkan oleh tukang sihir Fir‘aun ketika mereka diancam akan dibunuh dan disalib setelah mereka menya-takan keimanannya secara terang-terangan, Fir‘aun berkata:


(.. فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلاَفٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَاباً وَأَبْقَى)


“Benar-benar akan kupotong tangan dan kaki kalian secara bersilang dan sungguh akan kusalib kalian di pokok pohon kurma, dan kalian akan tahu siapa di antara kita yang lebih dahsyat dan lama siksaannya.”  [7]


Maka para tukang sihir itu menjawab dengan penuh harga diri sebagai seorang mukmin:


{قَالُوْا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءَنَا مِنَ اْلبَيِّنَاتِ وَالَّذِيْ فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِيْ هَذِهِ اْلحَيَاةَ الدُّنْيَا}


“Mereka berkata: Kami tidak akan mengutamakan kamu di atas keterangan yang datang kepada kami dan Dzat yang menciptakan kami, maka putuskanlah sesukamu, sesung-guhnya kamu hanyalah memutuskan di dunia ini.”  [8]


Dalam jawaban lain, para tukang sihir itu mengatakan:


{وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنََ}


“Dan tidaklah kamu menyiksa kami kecuali karena kami beriman kepada ayat-ayat robb kami ketika itu datang kepada kami.”  Wahai robb kami, limpahkanlah kesabaran ke atas kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim.” [9]


Allohu Akbar! Alloh Mahabesar, demi Alloh I inilah kemenangan besar itu, ketika seseorang teguh di atas prinsipnya hingga mati!


Kemenangan seperti ini juga dicontohkan dalam kisah Khubaib bin ‘Adi ra ketika beliau disalib di tengah-tengah orang kafir Quraisy. Saat itu, antara dirinya dan kematian hanya berjarak beberapa saat saja, seperti diriwayatkan Abul Aswad dari ‘Urwah ia berkata:


“Setelah mereka meletakkan senjata (selesai menyiksa) dan Khubaib masih di atas kayu salib, mereka membujuknya dengan mengatakan: “Apakah kamu suka kalau posisimu sekarang digantikan oleh Muhammad?” Khubaib menjawab: “Tidak, Demi Alloh Yang Maha Agung, aku tidak rela walau beliau hanya tertusuk duri demi menebusku.”


Allohu Akbar! Alangkah besar kemenangan dan kemuliaan Khubaib ini.


Padahal betapa banyak kaum yang dibinasakan dan dihancurkan tetapi oleh Alloh I tidak diabadikan ceritanya seperti cerita mereka yang Alloh I sebut telah mencapai keme-nangan besar.


Dulu dalam kisah Ashhabul Ukhdud, orang-orang kafir membe-rikan dua pilihan kepada penduduk negeri itu yang masuk Islam, berbalik kafir atau tetap memegang prinsip tapi dibunuh dengan dibakar api. Api dunia ternyata tidak mampu mengun-durkan mereka dari prinsip yang mereka pegang. Mereka lebih memilih selamat dari api neraka di akhirat walau harus mereka bayar dengan memasuki api dunia. Maka merekapun terjun satu persatu ke dalam api, persis seperti belalang yang meloncat dengan penuh kemantaban dan perasaan rela berkorban, mereka tidak ditakutkan oleh pemandangan api yang begitu hebat. Mereka memasu-kinya demi meraih kemenangan. Ketika ada seorang wanita yang tampak ragu, ia pun mulai fikir-fikir, pemahaman tentang kemenangan hakiki hilang dari benaknya, lalu Alloh menjadikan bayi yang ia susui bisa berbicara untuk menerangkan makna kemenangan hakiki dan keberun-tungan yang besar, bayi itu berkata –sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Muslim—: “Ibu, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Akhirnya sang ibupun terjun ke dalam api bersama bayi yang ia susui.


Meskipun begitu memilukan, tapi Alloh telah abadikan kisah mereka, Alloh memuji mereka dengan pujian yang belum pernah Dia berikan kepada selain mereka yang hidup di kemudian hari, Alloh berfirman:


(إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ ذَالِكَ اْلفَوْزُ اْلكَبِيْرُ)


“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh itu bagi mereka surga-surga yang di bawahnya meng-alir sungai-sungai, itulah kemenangan yang sangat besar.” [10]


Maka, bagi setiap mukmin yang kehilangan makna kemenangan hakiki seperti wanita tadi, ayat ini, pujian ini dan kesaksian ini menerangkan kepadanya makna kemenangan yang hilang dari benaknya.


Makna kemenangan ketujuh:


Kemenangan yang selanjutnya adalah kemenangan yang Alloh berikan berupa kemenangan hujjah dan dalil.


Ini dekat dengan makna kemenangan sebelumnya. Bedanya, kemenangan ini tidak hanya dirasakan pelaku yang mendapat kemenangan ini, tapi meluas kepada orang lain, baik ketika orang itu masih hidup atau sudah meninggal. Yang penting hujjah dia tersampaikan dan memuaskan hati orang walaupun dirinya sendiri lemah dan tidak meraih kemenangan di medan tempur.


Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta‘ala mengenai kemenangan hujjah yang diraih Nabi Ibrohim AS atas kaumnya setelah sebelumnya mela-kukan perdebatan, firman-Nya:


{وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيْمَ عَلىَ قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّنْ نَّشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ}


“Dan itulah hujjah-hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim atas kaumnya, Kami mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki, sesungguhnya robbmu adalah Maha Bijaksana lagi Mahamengetahui.” [11]


Pengangkatan derajat di sini maknanya adalah keme-nangan.


Alloh juga memenangkan Nabi Ibrohim atas raja Namrud ketika ia membantah dakwah beliau, Alloh berfirman:


{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ رَبِيَ الَّذِي يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ، قَالَ أَنَا أُحْيِيْ وَأُمِيْتُ، قَالَ إِبْرَاهِيْمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ اْلمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ اْلمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ، وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ}.


“Tidakkah engkau perhatikan orang yang mendebat Ibrohim mengenai robbnya, orang itu diberi kekuasaan oleh Alloh, ketika Ibrohim mengatakan: Robbku adalah yang menghidupkan dan mematikan. Orang itu berkata: Aku juga bisa mematikan dan menghidupkan. Ibrohim berkata: Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur, maka terbit-kanlah matahari itu dari barat,” maka heran terdiamlah orang kafir itu. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim.” [12]


Di dalam kisah kemenangan prinsip yang diraih pemuda Ghulam dan Ashhabul Ukhdud terdapat dalil yang jelas yang menunjukkan makna kemenangan prinsip. Saat itu, ghulam terbunuh, tetapi hujjahnya menang dan berhasil mengalahkan kekufuran raja, semua orangpun beriman kepada Alloh.


Jadi, kemenangan hujjah dari terbunuhnya ghulam dan keteguhan dia sebelum mati adalah kemenangan yang sangat nyata, ia telah kalahkan kekufuran raja pada zamannya walaupun kekufuran itu memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi kekufuran itu tetap jatuh tak berdaya di hadapan keteguhan, di hadapan prinsip dan keyakinannya yang agung.


Thoifah manshuroh (kelompok yang bakal mendapat kemenangan) itu pasti akan mendapat kemenangan, sebagaimana telah dikabarkan Rosululloh r, sebagaimana sabda beliau dalam Shohih Bukhori Muslim:


(لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِّنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَالِكَ).


“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran, tidak akan dipengaruhi oleh orang yang melemahkan semangat, hingga tiba ketentuan Alloh sementara mereka tidak berubah.”


 


Kemenangan di dalam hadits ini, yang paling minimal adalah kemenangan hujjah dan dalil, bisa saja diiringi kemenangan wilayah dan kekuasaan. Akan tetapi, walaupun umat Islam sendiri menyia-nyiakan kelompok ini (tidak mau membantu mereka) dan musuh bersatu padu mengha-dapinya, kelompok ini tetap saja menang.


Makna kemenangan kedelapan:


Di antara bentuk kemenangan yang Alloh I berikan kepada para mujahidin adalah dengan menghancurkan musuh mereka dengan menimpakan musibah dari sisi-Nya, musibah ini terjadi disebabkan karena jihad yang dilakukan para mujahidin.


Seringnya, mujahidin kalah menghadapi musuhnya di medan tempur, ini mengingat tidak seimbangnya kekuatan kedua belah fihak. Akan tetapi Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Karena mujahidin telah berusaha maksimal mencurahkan segala upayanya untuk menempuh sebab dan berjuang dengan kekuatan yang Alloh I berikan kepada mereka dan mereka telah melakukan I‘dad dengan serius, maka Alloh I akan menjadikan usaha dan perlawanan mereka yang tidak seberapa itu menjadi sebab kehancuran musuh mereka dengan menurunkan kegoncangan bencana dari sisi-Nya. Alloh I tegaskan hal ini dalam firman-Nya:


{كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِيْنَ}


“Betapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Alloh, dan Alloh bersama orang-orang yang sabar.” [13]


Keguncangan yang menimpa Fir‘aun lantaran jihad Nabi Musa u dan pengikutnya menjelaskan makna ini. Pada dasarnya, Alloh I bisa saja membinasakan Firaun sebelum adanya Nabi Musa u ataupun setelahnya. Di awal-awal berpalingnya Firaun dan kesombongannya, Alloh I memberikan tenggang waktu sebelum akhirnya Firaun semakin melampaui batas dan berbuat kejam, ia keluar dengan pasukan berkuda dan pasukan pejalan kakinya untuk memadamkan cahaya Alloh I.


Kenyataan di lapangan, kegon-cangan menimpa Firaun dan bala tentaranya, sebabnya adalah Nabi Musa AS, Alloh I berfirman:


{فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوْسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ}


“Maka Kami wahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatmu ke laut, maka terbelahlah laut itu, maka masing-masing sisinya laksana gunung yang besar.” [14]


{وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ}


“Dan Kami hancurkan apa yang diper-buat Firaun dan kaumnya serta apa yang mereka bangun.” [15]


Ketika Nabi r dakwah secara terbuka dan kaum Quraisy berpaling dari kebenaran, Alloh I timpakan adzab kepada mereka agar mereka mau tunduk kepada perintah Nabi SAW. Dalam Shohih Bukhori Muslim disebutkan dari ‘Abdulloh bin ‘Abbas ra bahwasanya ketika kaum Quraisy benar-benar tidak mau mentaati Nabi SAW dan beliau sendiri telah melihat kaum Quraisy sudah benar-benar berpaling, Nabi SAW berdoa agar mereka ditimpa paceklik seperti yang terjadi pada zaman Nabi Yusuf. Maka merekapun tertimpa kelaparan yang memporak porandakan segala sesuatu, sampai-sampai mereka makan kulit dan bangkai, di antara mereka ada yang memandangi langit karena saking laparnya dan tiba-tiba muncul asap di sana. Akhirnya Abu Sufyan datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Hai Muhammad, sesungguhnya engkau memerintahkan untuk mentaati Alloh dan menyambung tali silaturohim, dan sesungguhnya kaummu telah mengalami kehancuran, maka berdoalah kebaikan untuk mereka kepada Alloh.”


Alloh I berfirman:


Maka tunggulah hingga langit datang dengan asap yang nyata. Yang meliputi manusia, inilah adzab yang pedih. Sesungguhnya Kami hanya menghilangkan azab sedikit saja, karena kalian akan kembali kufur lagi. Pada hari di mana Kami menghantam dengan siksaan yang besar, sesung-guhnya Kami Maha membalas.” [16]


Jadi, musibah apa saja yang menimpa mereka itu disebabkan oleh jihad yang dilakukan Nabi SAW. Peristiwa ini terjadi setelah hijrah dan disyariatkannya jihad. Musibah yang menimpa mereka bukan karena pasukan Rosul ketika di medan perang. Karena Rosul tidak membu-nuh kaum Quraisy lebih dari 200 orang dalam peperangan beliau mela-wan mereka. Sementara fihak Quraisy kurang lebih telah membunuh separo jumlah ini dari kaum muslimin. Akan tetapi Alloh menimpakan kegoncangan/ bencana dari sisi-Nya agar me-reka mau tunduk kepada perintah Rosululloh SAW. Dengan bencana ini, Alloh memberi petunjuk sebagian ka-um dan membinasakan sebagian kaum yang masih di atas kekufuran-nya.


Di zaman kita sekarang, hancurnya Uni Soviet mempertegas makna hakikat ini. Ditinjau di medan perang, mujahidin tidak lebih kuat dan tidak lebih banyak jumlah personelnya dari-pada Soviet. Akan tetapi, karena me-reka begitu gencar memusuhi dan membunuh wali-wali Alloh, maka bala, musibah, kemiskinan dan kerusakan datang susul menyusul sampai akhir-nya Sovietpun runtuh. Maka siapa yang mengatakan bahwa Soviet run-tuh lantaran sistem sosialis-komunis-nya, silahkan lihat masih banyak negara sosialis komunis yang masih berdiri. Kalau ada yang mengatakan bahwa Soviet runtuh karena hutang negaranya yang menumpuk, dulu sebelum Soviet runtuh Amerika lebih banyak jumlah hutangnya, apalagi hutang dalam negeri. Siapa yang mengatakan bahwa Soviet runtuh karena undang-undang militernya yang diktator, masih banyak negara yang sistem militernya jauh lebih diktator.


Kalau orang mau memperhatikan sebab-sebab keruntuhan Uni Soviet, tidak akan melihat kesimpulan lebih jelas selain bahwa penyebabnya karena mereka memerangi agama Islam dan disebabkan jihad yang dilancarkan mujahidin melawan mereka.


Kemenangan seperti ini banyak sekali dibuktikan dalam sejarah para nabi, terlalu banyak bukti sejarah untuk disebutkan di sini, semua bukti sejarah ini menunjukan bahwa penyebab utama turunnya adzab dan kehancuran musuh adalah jihadnya para mujahidin.


Jadi jihad adalah sebab utama kehancuran orang kafir dan kemenangan dari sisi Alloh Ta‘ala untuk kaum mukminin.


Kalaulah kita tidak melihat kemenangan dengan segera, sebenarnya kemenangan itu hampir saja datang.


Dalam sejarah, tidak ada satu kaum yang hancur binasa tanpa ada sebab, sedangkan bencana-bencana yang menimpa orang-orang kafir penyebabnya adalah jihad yang dila-kukan para rosul yang diutus kepada mereka, atau disebabkan jihad yang dilakukan orang-orang beriman dari kalangan hamba-hamba Alloh yang sholeh.


Makna kemenangan kesembilan:


Bentuk keme

Read more..


WAHAI PARA PENGGEMBOS DAN PENCACAT! SILAHKAN KAU CELA AKU

jihad Comment( 0)

 Abdullah Muridusy Syahadah

Kepada Kaum Muslimin Secara umum dan para aktivis Harokah secara khusus


Di Mana Saja Berada


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه. أمَّا بعد


Puja dan puji syukur hanya untuk Allah. Rob semesta alam. Yang telah berfirman:


“Ikutilah apa yang Telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”. (QS. Al An’am: 106)


Sholawat serta salam kita haturkan ke atas junjungan nabi kita Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Yang telah bersabda:


اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا : ِلمَنْ ؟ قَالَ : ِللهِ, وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ


“Dien itu Nasehat. Kami bertanya: Bagi siapa? Beliau bersabda: “Bagi Allah, Kitabnya, Rosul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi kaum muslimin pada umumnya”. (HR. Muslim).


 


Ikhwah fillah …..


Dalam Risalah dan Nida’at yang ke-9 ini, saya menghadirkan ke tengah-tengah antum sekalian satu tema “WAHAI PARA PENGGEMBOS DAN PENCACAT! SILAHKAN KAU CELA AKU!!!!!”


Tema ini adalah hasil perenungan dari pengalaman dan pelajaran yang saya ambil di dalam perjalanan hidup saya semenjak memulai menapaki jalan jihad fie sabilillah ini. Juga kejadian-kejadian yang dialami oleh sebagian ikhwah mujahidin.


Memang aku sadar, ketika mulai aku tancapkan niatan dalam hati untuk berjihad, maka terbayang olehku mulut-mulut Mukhodzilun (Penggembos) dan Murjifun (Pencacat) itu akan berceloteh, tiang-tiang gantungan akan dipasang oleh thoghut, pintu-pintu penjara dibuka lebar-lebar, selalu dipantau dan dikejar-kejar oleh musuh. Aku sadar itu dan ternyata itu tidak hanya menjadi bayangan saja, akan tetapi menjadi kenyataan.


Dari awal sudah aku sadari bahwa dalam perjalanan ini akan nampak siapa pembela dan siapa musuh. Baik musuh dari kalangan Kafir Asli maupun Kafir Murtad dan Munafiq, serta musuh dari kalangan aktivis haroki sendiri yang notabena mereka mengenal kita. Yang hati mereka dihinggapi penyakit WAHN dan HASAD. Wal ‘iyadzu billah


 


Ikhwah fillah …..


Risalah dan Nida’at ke-9 ini semoga bisa menjadi ibroh dan pelajaran buat para ikhwah yang juga bercita-cita untuk berjihad dan mati syahid fie sabilillah. Sebuah pelajaran yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang menapakinya, sebuah pelajaran yang hanya dapat difahami oleh orang yang menjalaninya. Dan akan memperkokoh pendirian dan azam (tekad) bagi para penitinya hingga ia mendapat dua kebaikan “Kemenangan atau Mati Syahid”.


 


Ikhwah fillah …..


Allah Ta’ala berfirman:


“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Maidah: 54).


Di dalam ayat ini Allah menerangkan tentang ciri-ciri dan sifat Hizbullah (Kelompok Allah) dan Jundullah (Tentara Allah). Ciri-ciri tersebut adalah:



  1. Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah

  2. Bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin

  3. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir

  4. Berjihad fie sabilillah

  5. Tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela


Inilah beberapa sifat mendasar bagi Jundullah.


Ikhwah fillah …


Tentunya kita semua ingin menjadi Jundullah dan Hizbullah. Dan ternyata banyak orang yang bercita-cita menjadi Jundullah, walau pun pada realitanya mereka menjauhkan diri dari cita-citanya itu. Antara Idea dan Realita sungguh sangat berbeda. Mereka ingin mendapat predikat Jundullah namun jalan yang ditempuh bukan jalan Jundullah. Ia tidak sadar bahwa kapal tidak akan mungkin dapat berlayar di atas pasir.


Jika diringkas, pendek katanya adalah bahwa ayat ini menerangkan tentang jatidiri seorang Jundullah (Mujahid).Bahwa:


Seorang jundullah adalah orang yang sangat mencintai Allah, hingga Allah pun mencintainya. Kecintaannya kepada Allah lebih besar daripada kecintaannya kepada yang lain-Nya, walau pun terhadap dirinya sendiri. Karena ia faham dengan firman Allah3


“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”. (QS. Al Baqoroh: 165).


Karena kecintaanya kepada Allah lah sehingga ia mengorbankan segala yang ia miliki untuk menolong Allah dan membela agama-Nya, hingga nyawa pun ia korbankan demi kecintaannya kepada Allah.


Seorang jundullah adalah orang yang sangat lemah lembut dan kasih sayang terhadap orang mukmin. Ia mencintai saudaranya mukmin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Karena ia faham dengan sabda shollallahu ‘alaihi wasallam:


لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ


“Tidak beriman salah satu dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhori dan Muslim).


Subhanallah …… Maha Suci Allah. Beginilah sifat seorang mujahid. Ia korbankan dirinya dan nyawanya demi membela saudaranya yang terdzolimi dan terbantai. Demi membela kehormatan seorang muslimah yang dijamah oleh tangan-tangan musuh durjana la’natullah ‘alaihim. Walau pun orang-orang menganggapnya sebagai “Orang yang bersemangat dan orang yang isti’jal (tergesa-gesa)”. Dls.


Seorang jundullah adalah yang bersikap keras kepada orang-orang kafir (baik kafir asli maupun murtad). Ia bersikap keras di dalam masalah aqidah, lalu ia bersikap keras di dalam sikap dan perbuatan yang diimplementasikan di dalam Jihad fie sabilillah.


Di antara sikap keras terhadap orang kafir di dalam aqidah dan perbuatan adalah seperti yang dicontohkan oleh Nabi Allah Ibrahim ‘alaihis salam:


“Sesungguhnya telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (Al Mumtahanah: 4)


Adapun tata cara bersikap tegas dan keras kepada musuh adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah:



  1. Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah

    1. Engkau meninggalkannya

    2. Engkau membencinya

    3. Engkau mengkafirkan pelakunya

    4. Dan engkau memusuhi para pelakunya




Hari ini tidak ada yang bisa mengamalkan sikap seperti ini kecuali para mujahidin dan para Da’i Tauhid yang jujur di dalam dakwahnya. Karena zaman sekarang ada orang yang tidak mau berjihad, ia mengambil peran di bidang dakwah, akan tetapi dakwahnya tidak jujur. Katanya mendakwahkan tauhid akan tetapi mencela Da’i tauhid yang dengan tegas mendakwahkan tauhid. Katanya mendakwahkan tauhid akan tetapi bermudahanah (bertoleransi) kepada thoghut. Katanya keras kepada thoghut akan tetapi malah bergandengan dengan thoghut. Seperti ada kasus seorang pemimpin ormas Islam yang notabene mempunyai misi menyerukan dakwah tauhid dan mengikut manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, akan tetapi dia menjadi Tim Sukses salah satu CAPRES (Calon Presiden). Bahkan dia mengadakan hubungan dengan badan-badan yang notabene milik thoghut. Sementara paraFANATISANnya mengatakan “Itu hanya untuk wasilah saja agar dakwah kita lancar dan tidak dicurigai”. Dakwah tauhid macam apa ini? Sementara mereka mencaci dan mencibir orang yang secara tegas menyampaikan dakwah tauhid. Wal ‘iyadzu billah


Dalam faktanya, ormas ini melarang para binaannya untuk menghadiri sebuah bedah buku yang diadakan oleh sebuah Organizer yang bertemakan “SURAT KEPADA PENGUASA” (Sebuah buku yang membahas tentang kafirnya penguasa negeri ini karena tidak berhukum dengan hukum Allah). Karena dianggap forum ini bertentangan dengan misi dan visinya. Wal ‘iyadzu billah.


Memang kadang bahasa lisan itu berbeda dengan bahasa tubuh. Lisannya mengatakan mendukung dakwah tauhid, akan tetapi bahasa tubuhnya menyelisihi. Bahkan ada yang secara terang-terangan mencela dan memojokkan para mujahidin dan para da’i tauhid. Bahasa lisannya mengatakan cinta dan mendukung mujahidin, akan tetapi bahasa tubuhnya menampakkan kebencian dan celaan. Wal ‘iyadzu billah.


Seorang Jundullah (mujahid) adalah ia berjihad fie sabilillah.


Yang dimaksud jihad fie sabilillah di sini adalah memerangi orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimah Allah. Singkatnya adalah jihad fie sabilillah adalah Memisahkan kepala musuh dari raganya, atau mengeluarkan nyawa musuh dari jiwanya.


Adapun penopang yang masuk dalam mata rantai jihad sungguh sangat banyak sekali.


Yang dimaksud MATA RANTAI JIHAD adalah ikatan dan atau hubungan yang dapat mensukseskan Amaliyat (Operasi) jihad fie sabilillah. Mata rantai itu di antaranya adalah:



  1. Pengkaderan

  2. Sumber daya mujahid

  3. Sumber dana mujahid

  4. Anshor


Penjabarannya adalah:



  1. 1. Pengkaderan


Yang kita maksud pengkaderan di sini adalah pengkaderan personal yang siap menjadi mujahid.  Yang siap diikut sertakan dalam amaliyat jihadiyah. Baik di dalam maupun luar negeri. Baik jihad konvensional maupun gerilya. Pengkaderan ini bisa melalui beberapa sarana:



  1. Pondok pesantren

  2. Halaqoh taklim

  3. Dls


Dengan catatan bahwa pondok pesantren, Halaqoh taklim dan yang lain itu betul-betul mencetak santri dan binaannya untuk menjadi mujahid.


 


Sebuah kisah:


Seorang ustadz menasehati salah seorang santrinya. Ustadz itu mengatakan: “Buat apa saya membuat pondok pesantren kalau bukan untuk mencetak kader yang siap untuk Iqomatud Dien (menegakkan Dien)? Saya ini dituduh sebagai Qo’idun (orang-orang yang duduk dari jihad) dan Murji’ah”. Ustadz tersebut bermaksud mengarahkan pada santrinya bahwa ia ingin mencetak kader mujahid.


Dalam faktanya ustadz tersebut tidak jujur dengan perkataannya. Bahasa lisan dengan bahasa tubuh tidak sama.


 


Faktanya: Ketika ada salah seorang santri pondok keluar dengan misterius (menurut ustadz) tersebut. Ditambah lagi ada kasus seorang ustadz di sebuah pondok keluar dari pondok dengan misterius juga. Ustadz itu pun kebakaran jenggot dan berang. Ustadz tersebut berkata: “Saya sadar bahwa pondok ini ada yang menggerogoti”.Trus ustadz tersebut berkata: “Orang-orang yang berjihad hari ini adalah orang-orang yang tidak sabar”. Dls. Wal ‘iyadzu billah.


Mestinya jika ustadz tersebut jujur bahwa dia mendirikan pondok pesantren itu untuk mencetak kader mujahid, maka mestinya ia berlapang dada dengan santrinya yang bersemangat untuk berjihad. Jika santrinya ingin pergi berjihad walaupun tidak melalui jalurnya maka hendaknya ia merestui dan mendukung. Dan jika ada orang lain dan atau Tandzim jihad yang mengajak santrinya berjihad, mestinya ia izinkan santrinya berjihad. Bukan dihalang-halangi.


Jadi fungsi pondok dan halaqoh ta’lim adalah untuk mencetak mujahid.


Ibarat jama’ah jihad itu sebagai senjata api “M 16”, maka pondok pesantren dan halaqoh ta’lim berfungsi sebagaiMagazine yang berfungsi untuk menyimpan peluru-peluru yang siap ditembakkan. Bukan menjadi magezin yang menyimpan peluru yang mejen (mis fayer).


Jika memang pondok pesantren dan halaqoh ta’lim itu memang berfungsi sebagai kantong mujahid, maka duduknya para ustadz yang membina di situ bukan menjadi Qo’idun. Akan tetapi ia menjadi mujahid yang bertugas untuk mengkader generasi mujahid. Sebagaimana firman Allah:


“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. At-Taubah: 122).



  1. 2. Sumber Daya Mujahid (SDM)


Yang dimaksud SDM adalah kader-kader yang siap menjadi mujahid. Ini sudah diterangkan di dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.



  1. 3. Sumber Dana Jihad (SDJ)


Yang dimaksud SDJ adalah sumber dana yang dimanfaatkan untuk jihad dan mujahidin. Bisa melalui uang infak yang diambil dari para binaan, maupun membuat perusahaan yang uangnya khusus buat operasional jihad. Ini sudah dibahas dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.



  1. 4. Anshor


Yang dimaksud Anshor adalah Menjadi penolong dan pembantu mujahidin. Baik bantuan Moril maupun Materiil. Seperti memberi tempat untuk mujahidin, dls. Ini juga sudah dibahas dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.


Jika keberadaan kita seperti dalam mata rantai jihad ini. Maka sesungguhnya keberadaan kita pada saat itu adalah sebagai seorang mujahid, walau pun kelihatannya kita duduk-duduk di dalam rumah bersama istri dan anak kita. Karena jihad yang sedang dilakukan mujahidin hari ini adalah Harbul ‘Ishobat (Perang Grilya). Perang gerilya membutuhkan pergerakan yang seaman mungkin dan senyaman mungkin sehingga nampak seakan-akan orang yang berjihad tidak Nampak bahwa ia sedang berjihad. Ia memukul musuh akan tetapi orang lain melihatnya sedang duduk-duduk santai di rumah. Bukankah begitu wahai akhie?


Allah berfirman:


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang Telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Anfal: 72).


“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al Anfal: 74).


Sudahkah kita mengambil perang seperti di dalam ayat ini? Peran kita adalah Menjadi Mujahid Anshor maupun menjadi Mujahid Muhajir. Memberi tempat tinggal dan pertolongan adalah peran yang diambil oleh mujahid Anshor.


Seorang jundullah adalah yang Tidak Takut Celaan Orang Yang Suka Mencela.


Di dalam perjalanan sang mujahid, pasti akan mendapatkan ujian dan tantangan, celaan dan cercaan, baik dari kalangan orang-orang kafir asli maupun kafir murtad, dari kalangan kaum muslimin awwam mau pun muslimin ulama, dari orang yang tidak mengenal sampai kawan akrab. Itu sudah menjadi sunnatullah.


Apalagi bagi para mujahidin yang hari ini berjihad di negeri seperti ini. Yang menurut anggapan kebanyakan orang bahwa negeri ini adalah negeri Islam, kita berjihad di sini dengan jihad Dakwah bukan Jihad senjata. Wal ‘iyadzu billah


Berjihad di sebuah Negara murtad yang menurut kebanyakan orang yang berfaham Murjiah mengatakan “bahwa system negara ini kafir akan tetapi penguasanya muslim. Karena penguasanya Jahil dan Belum Tersampaikan Hujjah”. Wal ‘iyadzu billah


Berjihad di tengah-tengah tekanan penguasa murtadz yang gencar melakukan permusuhan dan penindasan kepada para mujahidin.


Berjihad di tengah-tengah para aktifis harokah yang phoby akan jihad, walau pun sebagian mereka ada yang mengaku bahwa tandzimnya adalah tandzim jihad. Wal ‘iyadzu billah


Celaan-celaan itu datang dengan bertubi-tubi dan tak habis-habisnya. Dan menyebarkan issu yang menyesatkan ummat dengan menyebar fitnah murahan. Para mujahidin diposisikan seakan-akan sebagai musuh, dan memposisikan orang-orang yang bermudahanah dengan thoghut sebagai pahlawan. Wal ‘iyadzu billah.


Sebuah kisah:


Seorang ustadz berceramah di hadapan para mustami’. Dia mengatakan: “Saya pernah membesuk para ikhwah tersangka peledakan kedubes Australia. Pada saat saya datang membesuk, tangan mereka terborgol. Lalu saya katakan kepada mereka: “Antum baru bisa menjebol pagarnya saja. Jika kita bersama-sama maka kita akan dapat jebol dalamnya”. Maksud ustadz tersebut adalah meremehkan kerja keras dan kerja besar yang dilakukan oleh para ikhwah mujahid ini. Karena di dalam faktanya ustadz ini tidak ada sama sekali Mu’awanahnya kepada para mujahidin di dalam mensukseskan satu Amaliyat Jihadiyah. Tidak ikut andil dalam menyusun strategi untuk memukul musuh. Bahkan dia selalu me-Warning orang dengan kata-kata: “Hati-hati dengan Si A. hati-hati dengan Si B”. Wal ‘iyadzu billah.


Sebuah kisah:


Seorang ustadz mengajar di kelas santriwati. Dalam pengajarannya itu seorang ustadz mengatakan:“Sesungguhnya jihad itu tujuannya bukan mencari syahid, akan tetapi berjihad itu untuk mencari ridho Allah”.(Ustadz ini bermaksud memojokkan para ikhwah mujhaid yang selama ini menggelorakan semangat jihad dengan ingin mendapatkan syahadah dan 72 bidadari).


Mendengar celotehan ustadz ini para santriwati ini bingung dan berbisik-bisik antara temannya: “Sebenarnya ustadz ini maksudnya apa?” Dan pada kesempatan yang lain ustadz ini berkata: “Bom Bali itu bukan jihad. Karena tidak pakai izin Amir”. Dan pada kesempatan yang lain ustadz ini mengatakan: “Saya tidak berani mengatakan bahwa Bom Bali itu termasuk jihad, juga saya tidak berani mengatakan bahwa Bom Bali itu bukan jihad”. Kata-kata ini diungkapkan oleh ustadz tersebut guna menggembosi dan menjelekkan amal jihad yang dilakukan oleh para ikhwah mujahid. Na’udzu billahi min dzalik.


Sebuah kisah:


Seorang ustadz menasehati seorang santrinya yang mempunyai semangat berjihad. Ustadz tersebut berkata:“Kalau kamu mau berjihad maka kamu harus Tholabul ilmi dulu. Jihad itu tidak hanya modal semangat saja. Sesungguhnya orang-orang yang berjihad sekarang itu kurang sabar dan isti’jal”. Ini adalah perkataan yang benar akan tetapi diarahkan kepada yang batil. Karena ustadz ini sebenarnya mau mengatakan: “Kamu tidak usah ikut berjihad dengan orang-orang yang berjihad itu”. Akan tetapi untuk memoles kata-katanya maka ia bersilat lidah dengan seperti itu. Karena faktanya mengatakan seperti itu. Wal iyadzu billah


Semua kisah di atas adalah beberapa contoh yang dapat terekam oleh para ikhwah di lapangan. Baik rekaman elektronik maupun rekaman otak dan hafalan mereka. Adapun kenyataannya sikap dan komentar para Mukhodzilun dan Murjifun itu lebih pedas lagi. Mereka bermaksud memadamkan kobaran semangat api jihad yang membara di dada kaum muslimin. Mereka tidak sadar bahwa kobaran semangat api jihad ini tidak akan pernah padam walau pun seluruh manusia di jagad raya ini bersatu padu untuk memadamkannya.


Allah Ta’ala berfirman:


“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. Ash Shoff: 8).


Dan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:


لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ. لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَلاَ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتىَّ تَقُومَ السَّاعَةُ وفي رواية مسلم : لاَ يَزَالُ أَهْلُ الْغَرْبِ


“Akan selalu ada sekelompok dari ummatku yang dzohir diatas kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang menyelisihi dan mentelantarkan mereka hingga terjadi qiamat, dan diriwayat Muslim berbunyi: “Akan senantiasa ada ahlul ghorb” (orang-orang barat). (Majmu’ Fatawa, XIII / 531).


Para mujahidin ini selalu ada dan akan selalu ada. Tidak membahayakan bagi mereka celaan orang yang suka mencela dan cacian orang yang suka mencacat. Tidak membahayakan sama sekali ulah para Mukhodzilun dan Murjirun.


Wahai para Mukhodzilun dan Murjifun …..


Sesungguhnya sikap sinis dan tuduhan-tuduhan serta fitnah-fitnah yang kalian lancarkan terhadap mujahidin itu tidak sama sekali dapat memadhorotkan jihad dan mujahidin. Bahkan Allah akan mendatangkan para pembelanya untuk berdiri di kalangan mujahidin. Karena Allah berfirman:


“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dandigantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At Taubah: 39)


“Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini”. (QS. Muhammad: 38)


Sesungguhnya penggembosan dan cercaan yang kalian lakukan terhadap mujahidin hari ini tidak akan mengundur kemenangan mujahidin. Juga tidak dapat mengajukan kekalahan mujahidin sedikit pun. Karena Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْئٍ لمَ ْيَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ. وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْئٍ إِلاَّ بِشَيْئ ٍقَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ. رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ


“Ketahuilah bahwa seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepadamu. dan seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang merugikan kamu, maka mereka tidak akan bisa merugikanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah terhadapmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering tintanya”. (HR. Tirmidzi).


Wahai para pembela mujahidin….. wahai para pendukung mujahidin ….. wahai orang-orang yang ingin berjihad bergabung dengan para mujahidin …..


Teguhkanlah hatimu, kuatkanlah azammu, tak usah kau hiraukan suara penggembos dan pencacat. Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.


Manusia itu akan berkumpul sesuai dengan kecondongan hati dan imannya. Jika hatinya cinta kepada jihad dan mujahidin maka ia pasti akan dapat berjihad dan bertemu dengan mujahidin. Jika tidak dapat bertemu di dunia pasti bertemu di Jannah kelak. Jika hatinya benci kepada jihad dan mujahidin, maka ia akan dijauhkan dari jihad dan mujahidin dan akan dikumpulkan bersama para Qo’idun, Mukhodzilun dan Murjifun.


Kumpulan kambing akan berkumpul dengan kambing. Kumpulan singa akan berkumpul dengan singa. Tidak mungkin kambing dapat berkumpul dalam kumpulan singa. Itu mustahil….. itu ajaib …..


Ingatlah wahai saudaraku para pembela mujahidin, para pendukung mujahidin ….. Bahwa sekarang banyak para ustadz dan ulama, dan atau para pemimpin yang dengan menggunakan nama besarnya karena ia pernah berjihad di Afghanistan, Philipina, Ambon dan Poso, ia menyihir para pengukitnya untuk tidak berjihad. Ia bersikap bak seoarang mujahid dan pendukung jihad, akan tetapi di belakang ia tusuk para mujahidin dengan mulut berbisanya yang mematikan.


Dengan menggunakan kebesaran namanya di tengah-tengah pengikutnya ia pojokkan mujahidin, ia cela mujahidin, walau pun dalam kata-katanya ia sering mengatakan: “Kita tidak boleh mencela mereka, dan jika mereka datang meminta bantuan maka kita bantu”. Walau pun kenyataannya bohong belaka.


Para ustadz, ulama dan pemimpin seperti ini tidak ubahnya seperti PELAWAK, yang kerjanya menyenangkan orang yang menontonnya. Di depan para mujahidin ia akan mengatakan bahwa dia membela, mencintai dan mendukung mujahidin. Bahkan dia merasa bagian dari mujahidin. Namun ketika bertemu dengan orang-orang yang tidak setuju dengan jihad dan mujahidin maka ia berceloteh yang difahami oleh orang-orang yang tidak senang dengan jihad itu bahwa “Para mujahidin itu bukan orang-orang yang disiplin, isti’jal, tidak sabar, dan lain sebagainya”.


Dengan menggunakan tingginya jabatan dan banyaknya pengikut ia katakan: “Tidak mungkin di dalam suatu wilayah terdapat dua Tandzim Jihad, dan “Jihad itu harus melalui Tandzim yang terpimpin”. Ia maksudkan bahwa tandzim jihad selain tandzimnya adalah menjadi pelemah tandzim jihad yang sudah ada. Padahal jika kita teliti, sungguh perkataan ini tidak ada sama sekali didukung oleh nash syar’ie dan waqi’.


Jika perkataan ustadz ini benar, maka tidak mungkin di Afghanistan terdapat tandzim-tandzim jihad selain Tholiban. Tidak akan mungkin ada tholiban dan Al Qoidah di dalam satu wilayah. Sesungguhnya tandzim-tandzim jihad yang ada hanyalah menjadi sarana memudahkan di dalam mengkoordinasi mujahidin dan program jihad. Di lapangan mereka saling Mu’awanah dan Munashoroh. Sebagaimana Tholiban memberikan bantuan dan pertolongannya kepada Al Qoidah. Jika di Afghanistan menerapkan faham ustadz yang mengatakan: “Tidak mungkin di dalam suatu wilayah terdapat dua Tandzim Jihad”, niscaya Tholiban memaksa Al Qo’idah untuk melebur ke dalam satu tandzim, yaitu Imaroh Islamiyah Tholiban.


Walau pun demikian, al-Qo’idah hormat dan setia terhadap Imaroh Islamiyah Thaliban. Namun secara administratif dan koordinasi di lapangan mereka berjalan sendiri-sendiri sesuai protap tandzim. Dan terjalin hubungan baik di lapangan antar kedua tandzim ini. Mereka saling Mu’awanah dan Munashoroh. Tidak saling menyalahkan dan melemahkan.


Jika Tholiban berfikiran bahwa “Gara-gara usamah menyerang WTC, dengan itu Afghanistan diserang Amerika”.Niscaya Syekh Mulla Umar hafidzohullah tidak mungkin menerima syekh Usamah bin Ladin dan para pengikutnya di Afghanisnistan. Namun syekh Mulla Umar sadar bahwa Amerika menyerang Afghanistan bukan karena ada Usamah, akan tetapi karena Islam.


Andai para ustadz dan pemimpin jama’ah di negeri ini sadar, bahwa Pemerintah murtad ini mengejar, menangkap, memenjara dan membunuh para mujahidin adalah bukan karena ada Bom Bali, dan aksi Bom-Bom lainnya. Akan tetapi karena Islam yang dibela, kehormatan kaum muslimin yang dibela. Niscaya tidak akan pernah keluar kata-kata cacian dan cemoohan terhadap mujahidin.


Namun jika masih tetap ada yang menggembosi, mencemooh, mencacat dan mencela. Maka saya sampaikan firman Allah Ta’ala:


“Katakanlah: “Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan[1]. Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, Sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS. At Taubah: 52).


Kita buktikan kelak siapa yang benar di antara kita. Jika kita sama-sama ikhlas di dalam berjuang untuk Iqomatud Dien maka pasti kita akan bertemu dan bersatu. Walau pun untuk kali ini kita tidak bisa bersatu. Namun jika memang ada niatan jahat dan hasad di dalam dada, maka sesungguhnya Amal kita yang akan menjawab semuanya.


Ikhwah fillah …..


Sudah wajar kebaikan itu akan dicela dan dicerca. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pun tidak kelewatan di cela dan dihina. Sejak beliau menerangkan dakwah Tauhid, maka beliau dianggap Tukang Sihir yang gila, dikatakan pemecah belah. Dls


Sekarang ketika kita mentahridh (mengobarkan semangat) jihad kaum muslimin kita dikatakan Provokator, Penggrogot, Teroris, dls. Maka jika karena kita mengobarkan semangat berjihad kita dikatakan provokator, dan jika kita berjihad dikatakan Teroris, maka katakanlah bahwa “Kita adalah Teroris”. Karena Allah Ta’ala berfirman:


“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan / menteror musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Anfal: 60).


 


 


Ikhwah fillah …..


Hendaknya kita yakin dengan janji dan pertolongan Allah, jika memang apa yang kita lakukan ini benar. Walau pun para Mukhodzilun menggembosi. Walau pun para Murjifun mencaci maki.


Kita akan bersabar dan akan tetap berjalan di atas jalan ini, walau pun tubuh kita terkoyak, walau pun raga kita tercabik-cabik. Kita hanya bisa berharap kepada Allah


حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ


Demikian sesingkat Risalah dan Nida’at yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat buat kita semua. Amien


Tidak ada niat saya kecuali hanya kebaikan. Dan tidak ada yang dapat memberikan Taufiq kecuali hanya Allah.


حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ. نِعْمَ اْلمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ


لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ


وَصَلَّى اللهُ عَلَى رَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ


وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Bumi Allah, 26 Mei 2009 M.


1 Jumadil Akhir 1430 H.


 


Diambil dari : http://ishoba.wordpress.com/2010/08/09/wahai-para-penggembos-dan-pencacat-silahkan-kau-cela-aku/#more-1656


Read more..

Jihad akan terus berlangsung (ada) hingga hari kiamat

jihad Comment( 0)



Syaikh Yusuf bin Sholih Al-‘Uyairiy


Hari ini, seluruh dunia –kecuali yang dirahmati Alloh— berdiri satu barisan dengan kekuatan ediologinya, politiknya, ekonominya, informasinya, teknologi dan nasionalismenya, dan dengan segala kekuatannya, di hadapan salah satu syiar agama kita yang hanif (lurus), syiar itu adalah jihad fi sabilillah. Sebuah syiar yang Alloh wajibkan kepada kita dengan firman-Nya:


{كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ}


“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu kalian tidak suka; bisa jadi kalian tidak suka kepada sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Alloh Maha tahu sedangkan kalian tidaklah mengetahui.” 1


Juga dengan firman-Nya:


{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّم وَبِئْسَ الْمَصِيْر}


“Wahai Nabi, jihadlah melawan orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah kepada mereka, tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan sungguh itu sejelek-jelek tempat kembali.” 2


Dan firman-Nya:


{قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلاَ بِاْليَوْمِ اْلآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَلاَ يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُوْنَ}


“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, tidak mengharamkan apa yang Alloh dan rosul-Nya haramkan dan tidak menganut agama yang benar (Islam) dari kalangan ahli kitab, sampai mereka membayar jizyah dari tangan sementara mereka dalam keadaan hina.” 3


Dalam ayat terakhir yang turun tentang jihad, Alloh berfirman menegaskan kewajiban ini:


{فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}


“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Mahapenyayang.” 4


Orang-orang kafir berusaha menghapus syiar jihad ini dan memberikan label kepadanya dengan label terorisme dan tindak kejahatan, menjuluki para pelakunya sebagai kaum teroris, orang-orang ekstrim, fundamentalis dan radikal.


Ditambah lagi, orang-orang munafik ikut membantu mereka dengan menjelekkan dan menghalang-halangi jihad dengan cara-cara syetan, ada yang mengatakan jihad dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensive), tidak ada jihad ofensiv (menyerang terlebih dahulu). Ada juga yang mengatakan bahwa jihad disyariatkan hanya untuk membebaskan negeri terjajah. Ada juga yang mengatakan bahwa jihad menjadi wajib kalau sudah ada perintah dari penguasa –padahal penguasa itu menjadi antek yahudi dan salibis—. Sekali waktu ada yang mengatakan bahwa jihad sudah tidak relevan untuk zaman kita sekarang, zaman kedamaian dan undang-undang baru internasional, Na`udzubillah min dzalik, kita berlindung kepada Alloh dari kesesatan-kesesatan ini.


Meski ada saja alasan, dorongan, istilah-istilah munafik dan kufur berbentuk apapun yang bertujuan menghapus panji jihad, kalau dirunut ujungnya sebenarnya jalan jihad ini –sejak   zaman Rosul r — sudah jelas bagi umat Islam, rambu-rambunya sudah ditetapkan, pemahaman dan fikihnya sudah gamblang, kita tidak perlu lagi menambahkan pemahaman-pemahaman jihad yang baru yang tidak bias diselewengkan oleh siapapun, baik di belahan bumi timur maupun barat.


Khazanah kita sudah terlalu cukup untuk ditambahi, dari khazanah itulah kita menimba rukun, syarat, kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan dan sunnah-sunnah dalam urusan jihad, kita juga mengambil pilar-pilar disyariatkannya jihad dari khazanah tersebut.


Lebih dari itu, Alloh dan rosul-Nya r telah mengkhabarkan bahwa jihad akan terus berlangsung sampai nanti Alloh wariskan bumi dan penduduknya kepada orang-orang sholeh. Khabar dari Alloh dan rosul-Nya ini termasuk perkara baku yang tidak kami ragukan lagi dan tidak akan kami tanyakan kepada siapapun setelah Alloh dan rosul-Nya r menegaskan hakikat ini.


Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini dari Al-Quran dan Sunnah sangatlah banyak, seperti firman Alloh Ta`ala:


{يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ، يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ذَالِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ}


“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, Alloh akan datangkan satu kaum yang Dia cintai dan merekapun mencintai-Nya, lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir, mereka berjihad di jalan Alloh dan tidak takut celaan orang yang mencela. Itulah anugerah yang Alloh berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” 5


Firman Alloh: “…mereka berjihad…” menunjukkan jihad akan terus berlangsung, konteks ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja meninggalkan sifat-sifat dalam ayat ini, Alloh akan datangkan kaum lain yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai Alloh, merekalah yang akan menyandang sifat-sifat tadi.


Alloh juga berfirman:


{وَقَاتِلُوْهُمْ حَتَّى لاَ تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ}


“Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya menjadi milik Alloh, jika mereka berhenti maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” 6


Makna fitnah di sini adalah kekufuran, jadi perang akan terus berlangsung sampai tidak ada lagi kekufuran. Para ulama mengatakan: Kekufuran di muka bumi tidak akan pernah habis kecuali di zaman Nabi Isa turun di akhir zaman, di saat beliau menghapus jizyah dan mematahkan salib serta membunuh babi, beliau hanya menerima Islam. Setelah itu Alloh wafatkan beliau beserta orang-orang beriman yang mengikuti beliau, saat itulah tidak ada di muka bumi yang mengucapkan “Alloh, Alloh,” maka kiamatpun terjadi menimpa makhluk paling buruk saat itu.


Lebih menegaskan bahwa jihad ini akan terus berlangsung, Alloh Ta`ala berfirman dalam ayat jihad yang terakhir turun, yaitu ayatus Saif (ayat pedang):


{فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}


“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Mahapengampun lagi Maha Penyayang.” 7


Dalam Al-Quran, ayat yang menunjukkan terus adanya jihad sangatlah banyak.


Adapun dalil terus berlangsungnya jihad dalam As-Sunnah, maka lebih banyak lagi. Di antaranya adalah sabda Rosul r sebagaimana diriwayatkan Al-Jama`ah serta yang lain, dari ‘Urwah Al-Bariqi t ia berkata, Rosululloh r bersabda,


(اَلْخَيْلُ مَعْقُوْدٌ فِيْ نَوَاصِيْهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْأَجْرُ وَاْلمَغْنَمُ)


“Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, yaitu pahala dan ghanimah.”


Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika Bukhori menjadikan hadits ini sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad baik bersama orang jahat ataupun orang baik, “Sebelumnya, Imam Ahmad sudah lebih dahulu menjadikan hadits ini sebagai dalil (terus berlangsungnya jihad), sebab Nabi r menyebutkan terus adanya kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, kemudian beliau maknai kebaikan itu dengan pahala dan ghanimah, sedangkan ghanimah yang disejajarkan dengan pahala pada kuda hanya terjadi ketika ada jihad. Hadits ini juga berisi anjuran berperang dengan menggunakan kuda. Juga berisi kabar gembira akan tetap bertahannya Islam serta pemeluknya hingga hari kiamat, sebab ada jihad berarti ada mujahidin, mujahidin sendiri adalah orang-orang Islam. Hadits ini senada dengan hadits yang berbunyi: “Akan senantiasa ada satu kelompok umatku yang berperang di atas kebenaran.” Al-Hadits.” Sampai di sini perkataan Ibnu Hajar secara ringkas.


Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarah Shohih Muslim-nya ketika mengomentari hadits ini, “Sabda Rosululloh r: “Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat,” ditafsirkan oleh hadits lain dalam hadits shohih: “Kebaikan itu adalah pahala dan ghanimah.” Hadits ini menunjukkan bahwa Islam dan jihad akan tetap eksis hingga hari kiamat, maksud hingga hari kiamat adalah hingga sesaat sebelum kiamat terjadi, yakni ketika datang angin harum dari Yaman yang mencabut nyawa setiap mukmin, laki-laki maupun perempuan, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits shohih.”


Sampai di sini perkataan An-Nawawi.


Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan yang lain dari Anas bin Malik ra ia berkata, Rosululloh r bersabda,


(وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِيْ الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُهُ جُوْرُ جَائِرٍ وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ)


“Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kejahatan orang jahat ataupaun keadilan orang adil.”


Menerangkan hadits ini, penulis kitab `Aunul Ma`bud (Syarah Sunan Abu Dawud) mengatakan: Hadits yang berbunyi: “Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku,” Maksudnya sejak dimulainya era di mana aku (Rosululloh) diutus, “hingga umatku yang terakhir” maksudnya adalah Nabi Isa atau bisa juga Imam Mahdi, “…memerangi Dajjal…” Dajjal dalam konteks hadits di sini sebagai kata obyek. Setelah Dajjal terbunuh, selesailah sudah jihad. Mengenai peristiwa Ya’juj dan Ma’juj, jihad tidak dilakukan karena tidak mungkin bisa melawan mereka, dalam kondisi seperti ini jihad tidak wajib atas kaum muslimin berdasarkan nash ayat surat Al-Anfal. Adapun setelah Alloh binasakan Ya`juj dan Ma`juj, tidak ada lagi orang kafir di muka bumi selama Nabi Isa masih hidup di bumi. Adapun orang yang kembali kafir setelah kematian Nabi Isa u, mereka tidak diperangi karena baru saja kaum muslimin seluruhnya diwafatkan dengan hembusan angin harum dan karena orang-orang kafir terus ada hingga hari kiamat. Inilah pendapat Al-Qoriy. Al-Munziri tidak mengomentari hadits ini.” Selesai perkataan beliau.


Sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad, seperti tertera dalam Shohih Bukhori Muslim serta kitab hadits lain, redaksinya milik Muslim, dari Jabir t Nabi r bersabda,


(لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ)


“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang, hingga hari kiamat tiba.”



Dalam lafadz Bukhori disebutkan,


(لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ)


“Tidak akan terpengaruh oleh orang yang melemahkan semangat dan menyelisihi mereka.”


Dalam lafadz Imam Ahmad: “Mereka tidak mempedulikan orang yang menyelisihi dan melemahkan semangat mereka.”


Sabda beliau: “Akan senantiasa ada…” menjadi dalil akan tetap berlangsungnya jihad meskipun kon-teks hadits ini sudah cukup untuk menetapkan bahwa jihad akan tetap berlangsung.


An-Nawawi berkata dalam Syarah Shohih Muslim-nya: “Saya katakan: Kemungkinan, kelompok ini terpisah-pisah dalam sekian banyak jenis kaum muslimin, di antara mereka ada yang pemberani sebagai pelaku perang, ada juga yang ahli fikih, ahli hadits, orang-orang zuhud, orang yang beramar makruf nahi munkar, ada juga pelaku kebaikan lain, tidak mesti mereka berkumpul menjadi satu, bisa saja mereka berpencar-pencar di berbagai belahan dunia. Hadits ini berisi sebuah mukjizat nyata, karena ciri seperti ini –alhamdulillah— selalu ada dalam umat sejak zaman Nabi r hingga sekarang, dan akan selalu ada hingga tiba ketetapan Alloh sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.” Selesai perkataan An-Nawawi.


Dalil yang lain adalah sabda Nabi r,


(أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَّسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَالِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ)


“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang hak) selain Alloh dan bahwa Muhammad utusan Alloh, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, jika mereka lakukan itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka diserahkan kepada Alloh.” (muttafaq ‘alaih)


Dalam hadits ini, beliau menjadikan tujuan akhir peperangan adalah Islam, bermakna jika semua manusia sudah Islam maka tidak lagi ada perang.


Di sisi lain, banyak sekali hadits yang menunjukkan bahwa tidak mungkin seluruh manusia akan menjadi Islam. Demikian juga ada hadits-hadits yang menunjukkan bahwa kekufuran akan ada hingga hari kiamat.


Jika demikian, berarti perang akan selalu ada bersamaan dengan adanya kekufuran sampai tiba ketetapan Alloh Ta‘ala.


Sedangkan maksud ketetapan Alloh dalam hadits ini, ada yang mengatakan masuk Islamnya manusia di zaman Nabi Isa, ada juga yang berpendapat hari kiamat, ada yang mengatakan berhembusnya angin yang mencabut nyawa kaum mukminin, hanya saja makna yang ditunjukkan hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa perang akan selalu ada selama kekufuran ada.


Nash-nash lain yang menunjukkan bahwa jihad akan terus berlangsung hampir tak terhitung, para imam Islampun sepakat dan tidak ada yang berbeda pendapat bahwa jihad akan terus berlangsung. Rosul r sendiri mengkhabarkan hal ini sebagai sebuah berita yang tidak akan pernah berubah dan berganti.


Semua nash ini menjelaskan bahwa tidak akan pernah mungkin satu zaman berlalu sejak diutusnya Nabi r hingga hari kiamat kosong dari panji jihad pembela kebenaran yang diangkat di jalan Alloh Ta‘ala, ini adalah pengkhabaran yang pemung-kirnya bisa kufur kepada Alloh Ta`ala.


Jika kita meyakini hakikat ini, kita jadikan ini sebagai bagian terpenting dalam hidup kita, dan kita asumsikan sebagai salah satu prinsip baku yang kita konsentrasikan kehidupan kita ke arahnya, maka tidak akan mungkin kita akan mau tertinggal dalam memberikan andil kepada panji jihad dan berdiri di bawahnya walau bagaimanapun susahnya kondisi. Karena panji jihad di zaman kapanpun selalu terkait dengan Thoifah Manshuroh (kelompok yang ditolong, kelompok yang menang) yang diridhoi Alloh.


Thoifah manshuroh sendiri –menurut Imam Nawawi— tidak mesti harus ada di satu tempat, bisa saja dalam satu zaman kelompok ini berada di berbagai tempat. Thoifah manshuroh ini berperang di atas kebenaran dan mereka menang, zaman kapanpun tidak akan pernah kosong dari Thoifah manshuroh yang berperang dan mengangkat panji jihad.


Jika kita meyakini akidah ini, kita bisa pastikan bahwa kekuatan kufur dunia dan negara-negara munafik yang turut membantu mereka sampai kapanpun tidak akan pernah mampu memadamkan panji jihad, tidak akan mampu menumpas para mujahidin atau menghapus syiar jihad ini. Mungkin mereka bisa mengisolasinya di satu atau dua tempat, tapi untuk merontokkannya di zaman sekarang, itu hal yang mustahil walaupun seluruh jin dan manusia berkumpul untuk melakukannya. Karena panji jihad ini diangkat atas ketetapan dan izin Alloh Ta‘ala serta tidak mungkin akan diletakkan karena Alloh sendirilah yang menetapkan bagi diri-Nya sendiri untuk meninggikan panji ini sampai umat terakhir Muhammad SAW memerangi Dajjal bersama Isa bin Maryam AS. Inilah hakikat yang mesti kita jadikan titik tolak pertama, inilah keyakinan yang sudah semesti-nya kita memerangi musuh berdasar-kan keyakinan ini. Akidah yakin dan percaya penuh dengan janji Alloh I bahwa jihad akan tetap berjalan hingga hari kiamat.


Keputus asaan kaum muslimin hari ini setelah peristiwa mundurnya mujahidin dari kota-kota di Afghanistan bukan menunjukkan mujahidin putus asa dan berhenti berjihad, selamanya bukan. Mereka tetap yakin jihad ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat, kondisi mayoritas kaum muslimin yang begitu mengenaskan juga tidak akan selamanya berarti bahwa kekuatan kufur internasional mampu merontokkan panji jihad di dunia. Sayang, kebanyakan kaum muslimin tidak memahami hakikat permusuhan antara kebenaran dan kebatilan, tidak membaca sejarah umat, sejarah para nabi, khususnya dalam Al-Qur’an.


Seluruh dunia menentang janji Alloh bahwa jihad ini akan tetap berlangsung, sementara kami tetap percaya kepada Alloh dan kami bersumpah bahwa kekuatan kufur dunia yang memerangi Alloh I akan kalah. Undang-undang baru internasional berdiri di atas pemahaman yang sudah ditentukan, slogannya sangat jelas; pemahaman itu adalah jihad adalah terorisme, semua mujahid adalah teroris, para teroris harus ditangkap dan terorisme harus dibasmi; maknanya, para wali Alloh itu harus ditangkap dan syariat Alloh I harus dilenyapkan. Maka, hasil akhir peperangan seperti ini sudah bisa ditebak, dulu Alloh sudah menceritakan itu dalam kitab-Nya, Rosululloh r sudah menerangkannya dalam sunnahnya. Rosululloh r bersabda –sebagaimana riwayat Imam Bukhori, Ahmad dan yang lain, dari Abu Huroiroh t—,


(مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ)


“Alloh berfirman: Barangsiapa memu-suhi wali-Ku, Aku maklumkan perang dengannya…” artinya, Ku maklumkan bahwa ia pasti hancur, perang Alloh adalah melawan siapa saja yang memusuhi wali-Nya karena kesetiaan mereka kepada Alloh, dan orang menganggap para wali itu sebagai musuh lantaran komitmen mereka di atas agamanya.


Dalam redaksi lain disebutkan: “Aadzantuhuu bil Harbi…”


(Aku umumkan perang kepadanya), bentuknya nakiroh, artinya perang itu mencakup semua makna hukuman. Dalam riwayat Ahmad:


“Barangsiapa menyakiti wali-Ku…” Hanya menyakiti saja sudah berarti perang.


Dalam riwayat lain: “…sungguh ia telah menghalalkan perang melawan-Ku.”


Hukuman ini tidak selalunya nampak seperti yang menimpa umat-umat lain, tapi bisa juga hukuman itu disegerakan, bisa juga ditunda, Allohlah yang berhak menunda, tapi Alloh tidak pernah mengabaikannya.


Adapun hasil akhir dari perang ini, Alloh telah mengisahkannya dalam Al-Quran, kita ambil misalnya firman Alloh Ta‘ala:


{إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ اْلأَشْهَادُ}


“Sesungguhnya Kami pasti menolong (memenangkan) para rosul Kami dan orang-orang beriman di dunia dan di hari ketika saksi-saksi tegak.” 8


Alloh juga berfirman menegaskan bahwa musuh orang-orang beriman pasti kalah:


{إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللهِ فَسَيُنْفِقُوْنَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُوْنَ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا إِلىَ جَهَنَّمَ يُحْشَرُوْنَ}


Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta mereka untuk memalingkan dari jalan Alloh, maka mereka akan menginfakkannya kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan, dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di neraka Jahannam.” 9


Alloh mengajak kita untuk mengambil pelajaran dari kejadian pada saat perang Badar, pada Yaumul Furqon (hari pembedaan antara yang hak dan batil):


{قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِِ اْلتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لَعِبْرَةً لِأُوليِ اْلأَبْصَارِِ}


“Sungguh telah ada tanda-tanda kebesaran Alloh bagi kalian pada dua kelompok yang bertemu dalam perang; satu kelompok berperang di jalan Alloh, sementara kelompok yang lain kufur, mereka melihat orang beriman dua kali lipat dari mereka jika dilihat mata. Dan Alloh menguatkan dengan pertolongan-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki, sesungguhnya pada yang demikian terdapat pelajaran bagi mereka yang berpandangan jeli.” 10


Pertanyaan yang selalu mengusik hati dan menyusup ke hati orang-orang lemah adalah: Mengapa Alloh tidak meno-long Pemerintahan Islam Taliban dalam perangnya melawan pasukan sekutu hingga hari ini? Padahal Pemerintahan itulah yang mampu mengangkat syiar penerapan syariat Islam dan memegang teguh Al-Quran dan Sunnah, seluruh dunia bersa-tu menyerangnya sampai-sampai Taliban dipaksa mundur dari kota-kota yang mereka kuasai, mengapakah ini terjadi?


Kami katakan, Alloh memiliki hikmah mengapa itu terjadi, hikmah pertama diterangkan dalam firman Alloh Ta‘ala:


{ذَالِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللهُ لاَنْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ}


“Yang demikian itu, kalau Alloh berkehendak pasti akan menangkan mereka atas orang-orang kafir, akan tetapi untuk menguji sebagian atas sebagian yang lain, dan orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh, maka amalan mereka tidak akan pernah disia-siakan.” 11


Bisa saja Alloh memenangkan Taliban atas mereka (bah-kan Alloh sangat Maha Kuasa) sendirian. Bisa saja Alloh mematikan dan meluluh lantakkan seluruh kekuatan mereka sekejap mata, akan tetapi Alloh membiarkan orang-orang kafir itu menguasai kaum muslimin untuk memberikan ujian, artinya untuk menguji kaum muslimin dan mencoba kejujuran mereka meskipun orang-orang kafir berkuasa atas mereka. Jika mereka sabar dan semakin berpegang teguh dengan agama mereka, serta lari dan mengadukan perkaranya kepada Alloh Ta‘ala, maka Alloh akan menolong mereka setelah melihat bahwa mereka memang layak memperoleh kemenangan, Alloh akan mantabkan kekuasaan agama yang Dia ridhoi bagi mereka (Islam), tentunya setelah mereka memenuhi syarat-syarat tercapainya kekuasaan di muka bumi. Alloh Ta‘ala berfirman:


{وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُوْنَنِيْ لاَ يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَالِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ}


“Alloh berjanji kepada orang-orang beriman dari kalian, pasti Ia kuasakan mereka di muka bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka dikuasakan, dan akan memantabkan posisi agama mereka yang Alloh ridhoi bagi mereka dan akan menggantikan keadaan takut mereka dengan keamanan, mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mensekutukan dengan apapun terhadap-Ku, dan barangsiapa kufur setelah itu, maka mereka adalah orang-orang fasik.” 12


Dan berfirman:


{قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللهِ وَاصْبِرُوْا إِنَّ اْلأَرْضَ لِلَّهِ يُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَاْلعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ}


“Musa berkata kepada kaumnya: ‘Minta tolonglah kalian kepada Alloh dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini adalah milik Alloh, Alloh mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya, dan hasil akhir adalah milik orang-orang bertakwa.” 13


Dan berfirman:


{وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُوْرِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ اْلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ}


“Dan telah Kami tetapkan dalam Zabur bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang sholeh.”


Dan berfirman:


{إنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهِ ثُمّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ الْمَلاَئِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِيْ اْلآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْ أَنْفُسَكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدْعُوْنَ}


“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan tuhan kami adalah Alloh kemudian mereka istiqomah, malaikat turun kepada mereka: Janganlah kalian takut dan sedih dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian. Kami adalah pelindung kalian di kehidupan dunia dan akhirat, di sana kalian mendapatkan apa saja yang kalian inginkan dan di sana terdapat apa yang kalian minta.” 14


Jadi, syarat dimantabkannya posisi (tamkiin) di muka bumi harus terpenuhi dahulu dalam diri kaum mukminin sebelum kemantaban posisi itu tercapai. Sebagian syarat itu telah Alloh sebutkan dalam ayat-ayat tadi. Di antaranya adalah iman dan amal sholeh, mengikuti manhaj Nabi r dan para shahabat beliau yang dahulu telah berkuasa di muka bumi, meyakini ajaran agama yang benar (Islam), tidak menyekutukan Alloh, meminta tolong hanya kepada Alloh, sabar di atas jalan jihad dan perang melawan musuh, bertakwa kepada Alloh dalam kondisi sendirian atau dilihat orang, kesholihan secara menyeluruh di semua lapisan, karakter seorang mujahid hendaknya senantiasa menya-takan tuhanku adalah Alloh sekaligus mengamalkan konsek-wensi pernyataan tersebut, ia harus konsisten (istiqomah) di atas ajaran agamanya. Inilah syarat-syarat yang apabila seorang hamba bersungguh-sungguh merealisasikannya, ia akan menjadi orang yang berhak diberi kemenangan oleh Alloh dan Alloh akan kuasakan dia di muka bumi.


Kalau kita mau meneliti hikmah mengapa Alloh menunda kemenangan dan mendatangkan kekalahan –secara kasat mata— kepada kaum muslimin di medan pertempuran, mau tidak mau kita harus menilainya dengan adil. Hanya, kita akan sendirikan pembahasannya setelah ini dengan izin Alloh, cukup kita isyaratkan di sini secara sepintas mengingat pemahaman seperti ini tidak boleh hilang dari benak setiap muslim yang hidup hari ini di mana ia selalu mengikuti perkembangan dari medan pertempuran di Afghanistan dengan segala suasana dan eksistensinya, peperangan antara kekuatan kufur internasional seluruhnya melawan mujahidin Afghan.


Kita mohon kepada Alloh agar memuliakan mujahidin dan menolong mereka serta menjadikan mereka berkuasa. Semoga Alloh memecah belah dan mencerai beraikan orang-orang kafir, menghinakan dan menjadikan mereka sebagai ghanimah bagi kaum muslimin.




1 QS. Al-Baqoroh: 216

2 QS. At-Taubah: 73


3 QS. At-Taubah: 29


4 QS. At-Taubah: 5


5 QS. Al-Maidah: 54


6 QS. Al-Anfal: 39


7QS. At-Taubah: 5


8 QS. Ghofir: 51


9QS. Al-Anfal: 36


10 QS. Ali Imron: 13


11 QS. Muhammad: 4


12QS. An-Nuur: 55


13 QS. Al-A‘roof: 128


14 QS. Fushilat: 30-31



 

Read more..

TEGUHLAH DI JALAN ALLAH

tauhid Comment( 0)

Kepada ikhwan tauhid di mana saja berada, semoga Allah ta’ala memberikan kekuatan dan istiqamah…


Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada penghulu kaum muwahhidin Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya dan para sahabat semuanya…


Ketahuilah bahwa ajal itu sudah ditentukan yang tidak mungkin dimajukan atau diundur, dan siapa pun tidak bisa merubah ketentuan itu. Allah ta’ala berfirman:


وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَابًا مُّؤَجَّلاً


“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang sudah ditentukan waktunya.” [Ali Imran : 145]


Rizqi dan apa yang menimpa kita juga sudah ditentukan lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi sebagaimana di dalam hadits yang shahih, dan bahkan ketentuan itu dicatat pula oleh malaikat di saat masing-masing kita masih berupa janin berumur 4 bulan di rahim ibu, sebagaimana sabdanya:


إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَك فَيَنْفُخُ فِيْهِ الْرُّوْحَ ويُؤْمَرُ بِأَرْبَعٍ كَلِمَاتٍ بِِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ


“Sesungguhnya seseorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya empat puluh hari berupa nuthfah kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian dikirimkan malaikat kepadanya terus dia meniupkan ruh di dalamnya, dan ia diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizqinya, ajalnya, amalnya dan nasibapa dia binasa atau bahagia.” [HR Al Bukhari dan Muslim]


Oleh sebab itu tidak akan mati satu jiwapun kecuali setelah memenuhi ajal dan rizqi yang sudah ditentukan baginya, sebagaimana sabdanya:


لن تموت نفس حتى تستكمل رزقها وأجلها


“Tidak akan mati satu jiwapun sampai ia menyempurnakan rizqinya dan ajalnya.” [Hadits tsabit riwayat Al Hakim dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah]


Dan begitu juga manfaat yang kita dapatkan dan madlarat atau bahaya yang menimpa kita, itu semua sudah ditentukan dan dicatat Allah di dalam Al Lauh Al Mahfudh, sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala:


مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا


“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Al Lauh Al Mahfudh) sebelum kami mewujudkannya.” [Al Hadid : 22]


Oleh sebab itu tidak seorangpun bisa mendatangkan manfaat kepada kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kita, dan begitu juga sebaliknya tidak ada seorangpun bisa menimpakan madlarat atau bahaya terhadap diri kita kecuali apa yang telah Allah taqdirkan menimpa kita, sebagaimana sabdanya:


وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ


“Dan ketahuilah bahwa seandainya umat bersepakat untuk mendatangkan sesuatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak bisa mendatangkan sesuatu manfaat kepadamu kecuali suatu manfaat yang sudah Allah ta’ala tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka bersepakat untuk mendatangkan sesuatu madlarat kepadamu, maka mereka tidak bisa menimpakan sesuatu madlaratpun kepadamu kecuali suatu madlarat yang sudah Allah taqdirkan menimpamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” [Hadits Hasan shahih riwayat At Tirmidzi]


Ini adalah ketentuan taqdir yang kita imani dan kita yakini agar kita tidak putus asa atau bersedih hati atas bencana atau musibah yang menimpa kita dan supaya kita tidak angkuh dan bangga diri dengan kebaikan yang kita raih, karena itu semua adalah dari Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya ta’ala:


لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ


“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Al Hadid : 23]


Kalau hal ini sudah kita pahami, maka ketahuilah wahai ikhwani bahwa Allah ta’ala sudah memerintahkan manusia untuk bertauhid hanya kepada Allah ta’ala dan kufur kepada thaghut:


اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ


“Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut itu.” [An Nahl : 36]


juga memerintahkan untuk mendakwahkannya:


ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ


“Ajaklah (mereka) kepada jalan Rab-mu dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.” [An Nahl : 125]


Dan memerintahkan untuk memperjuangkannya dengan segenap kemampuan, baik harta, jiwa maupun lisan, sebagaimana sabdanya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:


جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ


“Jihadilah orang-orang musyrik itu dengan harta kalian, jiwa kalian dan lisan kalian.” [HR Ahmad dan An Nasai dan dishahihkan oleh Al Hakim]


Dan Allah ta’ala mengabarkan kepada kita dakwah tauhid ini akan selalu memiliki musuh, sebagaimana firman-Nya ta’ala:


وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِن


“Dan demikianlah, Kami telah menjadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan syaitan-syaitan jin.” [Al An’am : 112]


sebagaimana yang dikatakan Waraqah Ibnu Naufal kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di awal Islam:


لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا أُوذِيَ


“Tidak seorangpun datang dengan seperti apa yang kamu bawa melainkan pasti disakiti dan dimusuhi.” [HR Al Bukhari]


juga firman-Nya:


وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَى مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللّهِ


“Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkaupun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah.” [Al An’am : 34]


Oleh sebab itu setiap orang yang bertauhid akan mendapatkan ujian di dalam keimanannya, sebagaimana firman-Nya:


الم، أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ


“Alif. Laam. Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji. Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al ‘Ankabut : 1-3]


Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam saat ditanya siapa orang yang paling berat ujiannya maka beliau menjawab:


الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُوْن ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينُهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خفف عنه


“Para nabi, kemudian orang-orang yang saleh, terus yang berikutnya dan yang berikutnya, seseorang diuji sesuai kadar diennya, bila dia kokoh di dalam diennya maka ujiannya di tambah dan bila tipis di dalam agamanya maka ujiannya diringankan.” [HR Ahmad]


Sedangkan diantara bentuk ujian dari Allah ta’ala kepada ikhwan tauhid pada hari ini adalah penguasaan para thaghut dan anshar mereka terhadap banyak ikhwan dengan bentuk penahanan, pemenjaraan, penyiksaan dan bentuk lainnya, yang mana ini adalah bagian dari ujian yang telah Allah tetapkan, yang harus dihadapi dengan kesabaran, keteguhan prinsip dan ‘izzah, apalagi bagi ikhwan yang telah memposisikan dirinya sebagai mujahidin dan ansharuddien yang tentunya sebelum melangkah masuk ke dalam jalur ini mereka sudah mengetahui konsekuensi jalan ini, yaitu keterbunuhan, terluka, terusir dan yang paling pahitnya adalah pemenjaraan. Oleh sebab itu tidaklah pantas bagi para amir, komandan dan mas’ul di dalam ‘amal islami, dia menampilkan hal-hal yang manisnya saja di dalam amal jihadi ini, seperti ghanimah, kesyahidan dan kemenangan, tanpa menjelaskan hal-hal pahit yang bisa terjadi di dalam jalan ini dan cara menanggulangi dan mengantisipasinya supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk dari keadaan sebelum melangkah, seperti penyesalan, pembongkaran rahasia kepada thaghut, dan yang lebih buruk lagi adalah terpuruk kepada loyalitas yang membatalkan. Karena orang-orang kafir itu kalau sudah menawan dan menguasai orang muslim apalagi mujahidin, maka mereka benar-benar akan bersikap sebagai musuh yang sudah menguasai musuh-musuhnya yang sangat dibencinya, dimana mereka akan melampiaskan segala kesumatnya baik dengan lisannya ataupun dengannya dan kalau bisa mereka itu sangat ingin andai para tawanan itu meninggalkan prinsipnya dan membelot kepada mereka, sebagaimana firman-Nya ta’ala:


إِن يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاء وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُم بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ


“Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi-mu lalu mereka melepaskan tangan dan lidahnya kepadamu dengan keburukan dan mereka ingin agar kamu (kembali) kafir.” [Al Mumtahanah : 2]


Maka sangatlah aneh kalau ada diantara kita yang bersikap kepada mereka seolah kepada teman, seperti berkelakar, bercanda dan tertawa riang bersama. Padahal yang rukhshah hanyalah sekedar tersenyum yang dipaksakan kepada musuh yang menguasai, sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Sesungguhnya kami tersenyum (yang dipaksakan) di hadapan mereka sedangkan hati kami melaknat mereka.” Dimana mereka itu saat menguasai diri kita, mereka tidak akan mengindahkan tali kekerabatan, atau tali perjanjian atau tali kemanusiaan, dimana harga diri dan kehormatan kita dihinakan, fisik disiksa dan keyakinanpun dilecehkan, juga mereka tidak menaruh belas kasihan kepada balita dan wanita dan bahkan kepada lansia. Inilah cerminan firman Allah ta’ala:


كَيْفَ وَإِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لاَ يَرْقُبُواْ فِيكُمْ إِلاًّ وَلاَ ذِمَّةً


“Bagaimana mungkin (ada perjanjian demikian), padahal jika mereka memperoleh kemenangan atas kalian, mereka tidak mengindahkan hubungan kekerabatan dengan kalian dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian.” [At Taubah : 8]


juga firman-Nya ta’ala:


لاَ يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلاًّ وَلاَ ذِمَّةً وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ


“Mereka tidak mengindahkan hubungan kekerabatan dengan orang mu’min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [At Taubah : 10]


Maka peliharalah kebencian dan rasa permusuhan yang ada dihati kita terhadap mereka, karena itu adalah pokok ketauhidan dan modal masuk surga. Raasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:


أوثق عرى الإمان الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ


“Ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [HR Ahmad]


Hindarilah pemberian mereka yang diluar batas kewajaran, seperti hadiah, tunjangan buat keluarga atau santunan modal, karena hal itu bisa menimbulkan rasa simpati dan kedekatan hati kita kepada mereka yang secara pasti bisa melenyapkan rasa kebencian dan rasa permusuhan, sebab pemberian hadiah itu adalah mematikan permusuhan dan menghidupkan kecintaan, sebagaimana sabdanya:


تهادوا تحابوا


“Salinglah kalian memberikan hadiah, tentu kalian akan saling mencintai.” [Hadits hasan riwayat Al Bukhari di dalam Al Adab Al Mufrid dan Abu Ya’la]


Ketahuilah ikhwan… bahwa bumi ini milik Allah ta’ala dan semua makhluk adalah ciptaan dan hamba Allah ta’ala, baik yang mu’min maupun yang kafir. Allah ta’ala membenci kekafiran dan orangnya dan andaikata Dia mau tentu mudah bagi Dia untuk membinasakan mereka semua, namun Dia ta’ala ingin menguji kita dengan sikap mereka, sebagaimana firman-Nya ta’ala:


وَلَوْ يَشَاء اللَّهُ لَانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِن لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُم بِبَعْض


“dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kalian satu sama lain.” [Muhammad : 4]


Maka bersabarlah terhadap segala kesulitan di dalam mempertahankan tauhid, dan bersabarlah terhadap jauh dan panjangnya jalan tauhid dan jihad ini, dan sabarlah terhadap sedikitnya kawan dan banyaknya lawan. Jangan terpesona dengan keleluasaan orang-orang kafir di dunia ini:


لاَ يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُواْ فِي الْبِلاَدِ، مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ


“Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh keleluasaan orang-orang kafir (bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah neraka jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” [Ali Imran : 196-197]


Karena memang dunia adalah surga buat melampiaskan apa yang mereka inginkan, dan penjara pengekang hawa nafsu bagi orang mu’min, sebagaimana sabdanya:


الدنياسجن المؤمن وجنة الكافر


“Dunia adalah penjara orang mu’min dan surga orang kafir.” [HR Muslim]


Oleh karena dia melampiaskan segala keinginannya di surga dunianya ini, maka kelak dia dipenjarakan segalanya di neraka jahannam, sebagaimana firman-Nya:


وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرً


“Dan Kami jadikan jahannam itu sebagai penjara bagi orang-orang kafir.” [Al Isra : 8]


Dan sebaliknya, karena orang mu’min memenjarakan hawa nafsu dan keinginannya di dunia ini dengan batasan ajaran Allah ta’ala, maka kelak Allah ta’ala masukkan dia ke surga-Nya untuk mencapai segala yang diinginkannya:


الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ، ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ، يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


“(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya.” [Az Zukhruf : 69-71]


Ini Allah ta’ala berikan sebagai balasan atas kesabaran orang mu’min di dunia dalam memegang prinsip Al Haq:


وَجَزَاهُم بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا


“Dan Dia membalas mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutra.” [Al Insan : 12]


Bersabarlah dan berharaplah kepada Allah serta memelaslah kepada-Nya dengan doa, dzikir dan ketaatan. Mintalah kepada-Nya keteguhan dan peneguhan dengan banyak mengucapkan doa:


اللهم يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ ويا مصرف القلوب صرِّ قلبي عَلَى طاعتك وطاعة رسولك


“Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati hamba di atas agama-Mu, dan wahai Dzat Yang Memalingkan hati, palingkanlah hati hamba kepada ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepada Rasul-Mu.”


Ketahuilah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang saleh.


Jangan engkau takut kepada thaghut dan bala tentaranya, karena manfaat dan madlarat hanyalah di Tangan Allah ta’ala. Mereka itu adalah syaitan-syaitan manusia yang menakut-nakuti kita dengan bala tentara dan algojonya, maka bersandarlah kepada Allah ta’ala dan jangan takut kepada mereka:


إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ


“Sesungguhnya mereka hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kalian) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang beriman.” [Ali Imran : 175]


Karena mereka tidak bakal bisa mendatangkan bahaya dan madlarat selagi Allah ta’ala tidak menghendakinya walaupun kita tetap teguh dan mempertahankan prinsip di hadapan mereka, sebagaimana mereka tidak bisa mendatangkan manfaat kepada kita walaupun kita memelas kepada mereka dengan penyesalan dan penanggalan prinsip bila Allah tidak menghendakinya, karena ketentuan sudah Allah ta’ala tetapkan namun kita tidak mengetahuinya sedangkan kita tidak diperintahkan untuk mengikuti apa yang tidak kita ketahui, tapi Allah ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang kita ketahui atau yang mungkin kita ketahui yaitu syari’at-Nya. Di mana ilmu itu ada dua, yaitu: ilmu yang tidak diketahui yaitu taqdir, maka ini harus diimani, dan yang lain adalah ilmu yang ada di hadapan kita yaitu syari’atNya, maka ini harus diikuti.


Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:


واعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطئك وما أخطئك لم يكن ليصيبك وأعلم أن النصر مع الصبر وأن الفرج مع الكرب وأن مع العسر يسرا


“Ketahuilah bahwa apa yang (ditaqdirkan) menimpamu tidaklah mungkin meleset darimu, dan bahwa apa yang (ditaqdirkan) meleset darimu tidaklah mungkin menimpamu. Dan ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran dan bahwa kebebasan itu bersama kesulitan serta bahwa bersama kesukaran itu ada kemudahan.” [lanjutan hadits Ibnu ‘Abbas di dalam Al Arba’in An Nawawiyyah]


Bersabarlah….karena kita semua sedang diuji:


شكى إليّ جملي طول الثرى             صبر حميل كلانا مبتلى


Untaku mengeluh kepadaku panjangnya perjalanan


(Kukatakan): Kesabaran yang baik, semua kita dapat ujian


Sekarang adalah saatnya bagi semua untuk muhasabah apa yang telah dilakukan kemarin, apa yang kurang? Apa yang harus dibenahi? Setiap masukan dan kritikan dari berbagai pihak harus di dengar, yang baik kita terima dari manapun walaupun tujuan si pengkritik itu hanya ingin mempermalukan kita di hadapan khalayak, karena masalah buruknya niat adalah urusan dia dengan Allah ta’ala, namun kewajiban kita adalah mengamalkan kebenaran sesuai dengan batas maksimal kemampuan yang kita miliki, sedangkan kesalahan adalah hal yang biasa terjadi pada setiap orang yang berbuat supaya dilakukan perbaikan untuk kedepannya, namun yang tercela adalah orang yang hanya pandai berkomentar dan menyalahkan tanpa mau berbuat atau minimal membantu meringankan beban orang yang mau berbuat dengan menyantuni keluarganya atau hal lainnya..


Semoga Allah ta’ala memberikan kesabaran dan istiqamah kepada semua orang-orang yang bertauhid di mana saja mereka berada ….


وصلى الله على محمد وآله وصحبه أجمعين وآخر دعوانا ان الحمد لله رب العالمين


 


 


26 Sya’ban 1431 H


Abu Sulaiman


http://millahibrahim.wordpress.com/2010/08/27/teguhlah-di-jalan-allah/#more-1350

Read more..
design by Natty WP