menghindari lagu dan musik

catetan Comment( 0)

Udan Dimyati Ahmad 27 January at 17:02 Reply

Saudaraku…


 


Masing-masing bagian tubuh kita memiliki fungsi untuk mewujudkan nilai kemanusiaan kita di sisi Allah Swt. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan begitu seterusnya bagian tubuh kita yang lain. Tentu bagi sebuah telinga yang diciptakan untuk mendengar, tidak semua unsur-unsur yang didengarkan dapat menghantarkannya kepada kebahagiaan atau nilai-nilai kemanusiaannya yang terhormat. Bahkan, mungkin dapat juga menghantarkan kepada kerendahan hewaniah atau lebih hina dari itu.


 


Salah satu unsur pendengaran yang – kita sadari atau tidak – dapat meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan kita yang terhormat adalah musik dan lagu. Allah Swt telah mengingatkan bahwa lagu merupakan salah satu sarana ke jalan kesesatan, hingga mengarah kepada penolakan kebenaran akan ayat-ayat Allah Swt .yang amat agung. Hanya dengan suara gendang, seruling dan kata-kata yang mendesah manusia menjadi begitu angkuh kepada sang pencipta dan begitu menjadi hina ke lembah kehewanian.


 


Allah Swt. berfirman:


 


“Dan diantara manusia [ada] orang yang mempergunakan Lahwal hadits {perkataan tidak berguna] untuk menyesatkan [manusia] dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olok. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” [Qs. 31 : 6-7].


 


Al Wahidi dan lain-lain berkata: Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lahwal hadits adalah lagu atau nyanyian [al-ghina]. Hal itu dikatakan oleh Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas`ud, Mujahid dan Ikrimah.


 


Abu Ash Shuhbah berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas`ud tentang firman Allah Swt.[Qs. Luqman : 6 – 7] maka beliau menjawab:


 


“Demi Allah yang tidak ada Illah selain-Nya itulah lagu atau nyanyian.” Beliau mengulang-ngulangnya sebanyak tiga kali. Ibnu Abbas berkata: “Lahwal hadits adalah kebathilan dan lagu atau nyanyian.”


 


Ubidillah pernah bertanya kepada Qosim bin Muhammad : “Bagaimana pendapat anda tentang lagu/nyanyian ? Qosim menjawab: “Bathil”. Lalu Ubaidillah bertanya lagi: “Kalau aku sudah tahu itu sebuah kebathilan, maka bagaimana pendapat anda tentang dimana adanya ?” Qosim balik bertanya: “Dimana akan engkau lihat yang bathil”. Ubaidillah menjawab: “ Di dalam Neraka.” Maka Qosim berkata: “Begitulah lagu.”


 


Kemunafiqan, kehinaan, kemaksiatan bahkan mungkin kesyirikan menjadi fenomena biasa dalam jiwa-jiwa para pemusik dan pemirsa lagu. Hukum-hukum Allah seakan tak berharga sedikitpun dibandingkan goyang-goyang hewaniah yang dipertontonkan dan dijajakan hampir di setiap jalan dan lorong desa. Anak-anak, kaum wanita, kaum laki-laki sampai kepada kaum tua renta telah menjadi pemabuk dan tentara yang rela mati membela hak asasi kemaksiatan dan kehinaan hanya karena dibayar sebuah lagu dan musik yang melenakan.


 


Saudaraku…


 


Demikianlah semua nasehat Islam disampaikan kepada kita untuk mengingatkan akan besarnya bahaya lagu dan musik. Mendengarkan musik dan lagu tidak ada manfaatnya untuk jiwa atau mendatangkan kemaslahatan bagi kita, bahkan kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih banyak tidak terbayangkan dahsyatnya bagi manusia dan kemanusiaan. Lagu dan musik bagi jiwa ibarat arak yang memabukkan bagi tubuh, bahkan jauh lebih membahayakan. Maka, berusahalah sepenuh keyakinan dan kemampuan untuk berjuang meninggalkan semua yang tidak diridhai Allah tanpa ragu dan kecewa, Allah pasti menolong kita.

Read more..


Akidah Umat di Jaman ini

catetan Comment( 0)

cinta perusak akidah di akhir zaman




zaman ini adalah zaman dimana akan berakhirnya peradaban manusia...

zaman akhir,zaman dimana kaum2 kapitalis, liberlism dan misionaris akan menyerang moeslem secara besar-besaran. baik secara fisik maupun ideologi.

bila kita pelajari ayat Allah Swt. bahwa tanda-tanda akan datangnya kiamat antara lain adalah munculnya matahari dari ufuk barat dan terbenam di ufuk timur. dapat kita rasakan saat ini...

karena bila kita garisbawahi kata matahari...

kita akan tahu makna dari matahari tersebut.

matahari adalah sinar yang menyinari alam ini.

bila kita maksudkan bahwa matahari itu adalah adat kebiasaan mungkin kita akan mendapatkan arti yang berbeda. maksudnya begini kebudayaan kaum mulimin adalah berpakaian dan berprilaku ala timur yang serba menutup aurat. namun pada kenyataannya di akhir zaman ini kebudayaan timur kaum muslimin terasa sudah jauh dari koridor islami.kebudayaan kita ( Islam ) telah hancur di serang kebudayaan barat.

nah darisanalah maksud matahari terbit di ufuk barat dan terbenam di ufuk timur.

namun jika kenyataannya memang matahari benar2 terbit di ufuk barat itu adalah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta�ala..

seperti anak muda yang sedang kasmaran mereka tidak pernah mengerti arti kata cinta...

bagi mereka cinta lebih diutamakan kepada pasangannya( kekasih) sesama manusia dan tidak sedikit orang yang dimabuk cinta lupa akan Allah sehingga tanpa disadari mereka telah Syirik menyekutukan Allah...

saudari-saudari kita yang telihat anggun berjilbab masih banyak yang berbuat seperti itu (mengagung-agungkan cinta).

apakah mereka tidak tahu?

ataukah mereka hanya pura-pura tidaktahu???

dulu juga saya pernah merasakan hal seperti itu, dan saat itu saya belum mengerti akan arti cinta yang hakiki.namun sekarang setelah saya banyak belajar tentang dienul islam, saya sadar akan dosa besar yang selama ini saya buat.

memang manusia adalah tempatnya salah dan dosa...

semoga Allah mengampuni orang2 yang belum tahu.

sekarang wahai saudara dan saudariku...

marilah kita tegakkan Khilafah Islam secara murni sesuai dengan Al-Qur�an dan Assunah..

dan marilah kita coba tegakkan kembali pondasi agama melalui dakwah...

semoga Allah selalu melindungi kita dalam menegakkan Khilafah



Abdul Aziz Waluya

Read more..

Kedudukan Al-qur’an disisi Rasulullah SAW dan Para Sahabat bag.2

catetan Comment( 0)

 



Ketiga : Para sahabat memandang bahwa Al Qur’an adalah nasehat dari Dzat yang amat sayang kepada mereka yang sangat perlu didengar yang berarti mereka sangat menyadari kalau mereka bisa salah, tapi akan segera kembali kepada kebenaran manakala ada teguran dari Al Qur’an.



Ma’qil bin Yasar pernah menikahkan adik perempuannya dengan salah seorang sahabat, tapi kemudian dicerainya sampai habis masa iddahnya, kemudian bekas suami tadi melamar lagi dan karena Ma’qil sedang marah beliau tolak lamarannya dan bertekat tidak akan mengawinkannya, padahal adiknya juga masih cinta dengan bekas suaminya serta ingin kembali kepadanya. Dengan kejadian ini Allah menurunkan ayat :



وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ) (البقرة:232)

Artinya :" apabila kamu manthalak isteri-isterimu lalu habis iddahnya ,maka janganlah kamu ( para wali ) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya ,apabila telah terdapat kerelaan dintara mereka dengan cara yang ma�ruf ,itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman diantara kamu kepada Alloh dan hari kemudian .Itu lebih baik bagimu dan lebih suci .Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui ".



Setelah turun ayat ini Ma’qil langsung menikahkan adiknya lagi dengan sahabat mantan suamiya .



Sahabat hidup dengan misi, “Risalah menyelamatkan seluruh manusia dari perbudakan manusia untuk manusia menuju penghambaan Allah yang Esa dan mengeluarkan mereka dari kedhaliman sistim manusia menuju keadilan Islam dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akherat”, dan pastilah kaum yang membawa misi demikian ada pendukung dan musuhnya, maka mereka menjadikan Al Qur’an sebagai pembimbing untuk mengetahui musuh-musuh Alloh, dan musuh mereka, siapa wali-wali mereka dan wali-wali Alloh dan mereka memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Alloh, mereka cinta terhadap ayah, anak, istri, serta kerabat mereka. Tetapi jika yang dicintai itu memusuhi Alloh dan Rasul-Nya serta membenci Islam, maka mereka segera merubah sikapnya dengan hanya memihak Alloh dan mencabut perasaan cintanya kepada selain Allah, Allah berfirman :

“Engkau tidak akan mendapatkan kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir mencintai orang-orang yang membangkang kepada Alloh dan rasul-Nya, walaupun mereka itu ayah-ayah mereka atau anak-anak mereka atau saudara–saudara mereka atau kerabat-kerabat mereka, mereka itulah orang yang Alloh tetapkan dihati mereka keimanan”.(al Mujadalah:22)



Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Ubaidah bin Jaroh ketika membunuh ayahnya di perang Badar karena ayahnya bersama pasukan kuffar Quraisy .



Keempat : Para sahabat memandang bahwa seluruh alam semesta dan diri mereka adalah ciptaan Alloh dan tidak mungkin membudidayakan alam semesta serta mengatur mereka kecuali Dzat yang menciptakannya sehingga mereka meyakini bahwa keimanannya menuntut untuk menjadikan Al Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh yang tidak dipisahkan antara satu sama lainnya, mereka men-jadikan Al Quran sebagai pedoman hidup mereka dan mereka sangat sensitif terhadap usaha-usaha yang akan memisahkan satu bagian sistim Islam dengan bagian yang lainnya.



Pantaslah kalau Kholifah Abu Bakar berpidato ketika banyak orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat, dengan mengatakan :

أينقص الدين وأنا حي !! والله لو منعوني عقالاً كانوا يؤدونه إلى رسول الله لقاتلتهم على منعه رواه مسلم .

“Apakah agama ini akan dikurangi padahal saya masih hidup, demi Alloh kalau mereka menghalangi tali yang dulu mereka serahkan kepada Rasulalloh pastilah aku perangi mereka atas keengganannya”. Diriwayatkan oleh Muslim



Keuniversalan dan keintegralan Al Qur’an ini digambarkan oleh sahabat Ali bin Abi Tholib dalam ucapannya :

هو كتاب الله فيه نبأ من قبلكم ،وخبر ما بعدكم وحكم ما بينكم هو الفصل ليس بالهزل من تركه من جبار قصمه الله ومن ابتغى الهدى في غيره أضله الله وهو حبل الله المتين وهو الذكر الحكيم وهو الصراط المستقيم وهو الذي لا تزيغ به الأهواء، ولا تلتبس به الألسنة ولا يشبع منه العلماء ولا يخلق عن كثرة الردّ ولا تنقضي عجائبه وهو الذي لم تنته الجن إذا سمعته حتى قالوا )إنا سمعنا قرآناً عجباً، يهدى إلى الرشد فآمنا به ( من قال به صدق ومن عمل به أجر ومن حكم به عدل ومن دعا إليه هدي إلى صراط مستقيم .

“Dia adalah Kitabulloh yang di dalamnya ada berita orang sebelum kalian, berita apa yang akan terjadi setelah kalian, hukum diantara kalian, dia adalah keputusan yang serius bukan main-main, barang siapa meninggalkannya dengan kesombongan pasti dihancurkan oleh Alloh , barang siapa mencari petunjuk dengan selainnya pasti disesatkan oleh Alloh, dialah tali Alloh yang kokoh, dialah peringatan yang bijaksana, dialah jalan yang lurus, dialah yang dengannya hawa nafsu tidak menyeleweng, dan tidak akan rancu dengannya lisan, dan tidak para ulama tidak pernah kenyang dari (membacanya, mempelajarinya), tak akan usang karena diulang-ulang, dan tidak habis keajaibannya, dan dialah yang jin tak henti-hentinya untuk mendengarnya sehingga dia mengatakan; “Sungguh kami mendengar Al- Qur’an yang penuh keajaiban, menunjukkan ke jalan lurus, maka kami beriman dengannya”. Barang siapa yang berkata dengannya pasti benar, barang siapa beramal dengannya pasti diberi pahala, barang siapa menghukumi dengannya pastilah adil, barang siapa mengajak kepadanya pasti ditunjuki kejalan yang lurus.



Kelima : Para sahabat memandang bahwa Al Qur`an adalah kasih sayang dari Alloh, maka mereka melihat bahwa seluruh isi Al Quran baik aqidahnya, hukumnya, perintahnya, larangannya, berita–beritanya adalah untuk kebaikan manusia.



maka mereka menerimanya dengan senang hati, adapun yang menolak hukum Islam pada dasarnya adalah lebih memihak para pemeras orang lemah dari pada memihak orang yang diperas, lebih sayang dengan para pembunuh dari pada yang dibunuh atau lebih memihak para penggarong dan pemerkosa dari pada yang di garong dan diperkosa, lebih memihak musuh Alloh dari pada memihak Alloh, dan secara implisit menuduh Alloh keras dan dholim, orang yang semacam ini perlu intropeksi akan hakekat keimanannya.


Udan Dimyati Ahmad


WWW.HASMI.ORG

Read more..

Kedudukan Al-qur’an disisi Rasulullah SAW dan Para Sahabat bag.1

catetan Comment( 0)

Pertama : para sahabat memandang kebesaran Al Quran dari kebesaran yang menurunkannya, kesempurnaannya dari kesempurnaan yang menurunkannya, mereka memandang bahwa Al Qur’an turun dari Raja, Pemelihara, Sesembahan yang Maha Perkasa, Maha Mengetaui, Maha Kasih Sayang, sebagaimana ditekankan oleh Alloh dalam berbagai permulaan surat :

تنـزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم)سورة الزمر، الجاثية، الأحقاف( تنـزيل الكتاب من الله العزيز العليم ) سورة المؤمن(تنـزيل من الرحمن الرحيم )سورة فصلت(كذلك يوحي إليك وإلى الذين من قبلك الله العزيز الحكيم، له ما في السماوات وما في الأرض وهو العلي العظيم ) سورة الشورى(

Dari pandangan ini mereka menerima Al Qur’an dengan perasaan bahagia bercampur perasaan hormat, siap melaksanakan perintah, perasaan cemas dan harapan, serta perasaan kerinduan yang amat dalam. Bagaimana tidak ? karena orang yang membaca Al Qur’an berarti seakan mendapat kehormatan bermunajat dengan Alloh sekaligus seperti seorang prajurit menerima perintah dari atasan dan seorang yang mencari pembimbing mendapat pengarahan dari Dzat yang maha mengetahui. Dan perasaan inilah yang digambarkan oleh Alloh dalam Firmannya :

إن الذين أوتوا العلم من قبله إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجداً ويقولون سبحان ربنا إن كان وعد ربنا لمفعولاً ويخرون للأذقان ويزيدهم خشوعاً )سورة الإسراء 107-109(

"Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya jika dibacakan atas mereka (ayat-ayat Alloh) mereka tersungkur dengan dagu-dagu mereka dalam kondisi sujud, mereka berkata maha suci Robb kami sungguh janji Robb kami pasti terlaksana mereka tersungkur dengan dagu-dagu mereka dalam kondisi menangis dan menambahi mereka kekhkusu’an”.



Perasaan di ataslah yang menyebabkan Umu Aiman menangis ketika teringat akan wafatnya Rasululloh. Suatu saat Abu Bakar dan Umar berkunjung kepada ibu asuh Rasulalloh itu dan ketika mereka duduk, menagislah Ummu Aiman karena teringat wafatnya Rasulalloh, maka berkatalah Abu Bakar dan Umar, “Kenapa anda menangis sementara Rasululloh mendapatkan tempat yang mulia” ? Ummu Aiman menjawab, "Saya menangis bukan karena meninggalnya beliau melainkan karena terputusnya wahyu Alloh yang datang kepada beliau pada pagi dan petang hari", maka saat itu pula meledaklah tangisan mereka bertiga .



Perasaan diataslah yang menyebabkan para sahabat membaca dan menerima Al Qur’an untuk dilaksanakan secara spontan tanpa menunggu-nunggu dan tanpa sedikit protes walaupun hal itu bertentangan dengan kebiasaan mereka, tapi mereka bisa menundukkan perasaan mereka dengan cinta mereka kepada Alloh.



Ketika turun perintah untuk memakai jilbab pada surat Al Ahzab : 59, malam hari Rasulalloh menyampaikan ayat itu kepada para sahabat, pagi harinya para istri sahabat sudah memakai jilbab semuanya, bahkan `Aisyah mengatakan, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor mereka diperintah pakai hijab pada malam hari sementara pada paginya mereka sudah memakainya bahkan ada yang merobek gordeng / kelambu mereka untuk dipakai jilbab".



Ketika diharamkannya khomer dan ayat itu sampai kepada mereka, saat itu juga langsung mereka membuang simpanan khomernya dan menuang apa yang masih di tangannya.



Salah satu rahasia keajaiban para sahabat dalam berinteraksi dengan Al Qur’an adalah keimanan mereka kepada Alloh, surga dan neraka-Nya, kepada janji-Nya sehingga mereka melakukan sesuatu yang apabila dilihat oleh orang yang tak memahami latar belakang ini akan sulit menafsirkannya.



Seperti ketika mereka membaca tentang janji Allah untuk orang-orang yang berjihad karena cinta kepada Allah, seorang sahabat yang bernama Umair bin Hamam yang sedang memakan kurma bertanya: wahai Rasululloh, “Dimana saya kalau saya mati dalam perang ini ? Rasululloh menjawab "Di sorga", berkatalah Umair : "Sungguh menunggu waktu masuk surga sampai menghabiskan makan kurma tujuh biji ini adalah sangat lama”, dan ahirnya dibuanglah sisa kurma yang belum dimakan dan langsung maju perang sampai menemui syahidnya.



Kondisi keimanan yang tinggi ini menjadikan episode kehidupan mereka menjadi bagian dari yang diceritakan oleh Allah dalam Al Qur’an, hal itu seperti perhatian orang-orang Anshor terhadap orang-orang muhajirin atau perhatian mereka terhadap orang-orang yang lemah, seperti yang Allah ceritakan dalam surat al Hasyr dimana Rasulullah kedatangan tamu dan beliau tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya, akhirnya beliau tawarkan hal itu kepada sahabatnya siapa yang bersedia membawa tamu beliau, dengan sepontan salah satu sahabat bersedia, tetapi ketika sampai rumah ternyata istrinya mengatakan bahwa tidak ada persediaan makanan kecuali makan malam anaknya, maka sahabat tadi memerintahkan istrinya untuk mengeluarkan makanan tadi untuk tamunya dan mengeluarkan dua piring dan segera mematikan lampu ketika tamunya sedang makan, tamunya makan dan tuan rumah menampakkan seakan-akan makan agar dia bisa makan dengan enak, ketika sampai pagi hari sahabat tadi bertemu dengan rasul dan Rasulullah mengatakan kalau Allah takjub dengan apa dia lakukan maka turunlah firman Alloh surat al Hasyr ayat:9.



Kedua : Rasululloh dan para sahabat memandang Al Qur’an sebagai obat bagi segala penyakit hati dan ketika mereka membaca Al Quran yang berbicara tentang segala kelemahan hati, penyakit hati, mereka tidaklah merasa tersinggung bahkan mereka berusaha mengoreksi hati mereka dan membersihkan segala sifat yang dicela oleh Al Qur’an dan berusaha bertaubat dari apa yang dikatakan buruk oleh Al Qur’an .

Maka sudah pantaslah ketika Al Qur’an banyak menceritakan sifat-sifat munafiqin mulai dari malas sholat, sedikit berdzikir, pengecut, mengambil orang kafir sebagai pemimpin dan lain-lainnya, para sahabat segera mengoreksi hati mereka dan mencari obatnya walaupun mereka tidak dihinggapi penyakit itu, berkatalah Abdulloh ibnu Mulaikah :

أدركت سبعين من أصحاب محمد كلهم يخافون من النفاق.

“Aku mendapatkan tujuh puluh dari sahabat nabi, mereka semua takut kalau terkena penyakit nifaq”.



Ketika sahabat Handholah merasa adanya fluktuasi imannya segeralah ia datang kepada Rasulalloh dengan mengatakan “Ya Rasulalloh Handholah telah munafik”, Rasululullah bertanya : Kenapa ? Handlolah menjawab: “Wahai Rasululloh kalau saya di samping engkau dan engkau ingatkan kami dengan sorga dan neraka, jadilah sorga dan neraka seakan-akan jelas dimata kami, tapi jika kami pulang dan bergaul dengan anak istri serta sibuk dengan harta kami, kami banyak lupa, maka Rasulalloh bersabda, “Wahai Handholah kalau kalian berada dalam kondisi seperti itu (seakan melihat sorga dan neraka) terus menerus pastilah para malaikat menyalami kalian di jalan-jalan kalian”.



Dari sensitifitas perasaan Handholah dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, ia bisa mengalahkan pe-rasaan ingin dekat dengan istrinya pada malam pertama dan ditinggalkannya untuk berjihad sampai syahid padahal ia belum sempat mandi junub, sehingga Rasululloh bersabda bahwa ia dimandikan oleh para malaikat .


 


Udan Dimyati Ahmad


WWW.HASMI.ORG

Read more..
design by Natty WP